Jakarta, FORTUNE - Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi ajang persaingan para pesepak bola terbaik dunia. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu juga menjadi arena unjuk kemampuan kecerdasan buatan (AI) bagi sejumlah perusahaan teknologi terbesar dunia.
Produsen komputer Lenovo, misalnya, memanfaatkan debutnya sebagai mitra teknologi resmi FIFA untuk memperkenalkan berbagai solusi berbasis AI. Kolaborasi yang diumumkan pada Oktober 2024 tersebut memasuki fase utama pada Piala Dunia 2026, yang disebut sebagai turnamen paling kompleks dalam sejarah karena melibatkan 48 tim dan berlangsung di 16 kota di tiga negara.
FIFA memperkirakan lebih dari lima juta penonton akan menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion. Sementara itu, miliaran penggemar lainnya akan mengikuti jalannya turnamen melalui berbagai platform digital.
"Sebagian besar dunia akan menyaksikan turnamen ini, dan hal itu menciptakan ekspektasi luar biasa besar sehingga kami benar-benar harus memastikan semuanya berjalan dengan baik," ujar Chief Information Officer Lenovo, Art Hu, mengutip Fortune.com.
Ajang sepak bola terbesar dunia itu kini menjadi etalase teknologi terbaru bagi perusahaan-perusahaan besar yang berlomba menunjukkan kemampuan AI mereka.
Google memanfaatkan teknologi AI untuk menghadirkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif dan agen digital yang dapat membantu pengguna mencari tiket pertandingan. Sementara itu, Salesforce melalui platform Slack akan membantu koordinasi tenaga kerja di seluruh kota tuan rumah, sedangkan Verizon bertugas menyediakan konektivitas jaringan di stadion-stadion yang digunakan selama turnamen.
Salah satu inovasi yang paling disorot berasal dari Lenovo melalui platform Football AI Pro. Teknologi berbasis AI generatif tersebut mampu menganalisis ratusan juta titik data sepak bola, baik dari pertandingan masa lalu maupun data yang diperoleh secara real time.
Informasi tersebut dapat diakses pelatih, analis, dan staf pendukung dalam bentuk teks, video, grafik, hingga visualisasi tiga dimensi.
Teknologi itu memungkinkan tim menganalisis berbagai aspek permainan, termasuk tingkat keberhasilan tendangan sudut yang dilakukan pemain bintang seperti Lionel Messi dari Argentina atau Cristiano Ronaldo dari Portugal. "Semakin banyak data yang akan masuk seiring pertandingan berlangsung," kata Hu.
Ia menambahkan Lenovo dan FIFA sengaja merancang teknologi tersebut agar dapat digunakan oleh seluruh negara peserta. "Kami ingin menciptakan level persaingan yang setara sehingga teknologi ini tersedia bagi semua negara."
Meski demikian, keputusan mengenai sejauh mana data AI digunakan tetap berada di tangan masing-masing tim. Sebagian mungkin akan mengikuti rekomendasi berbasis data secara ketat, sementara yang lain tetap menyerahkan keputusan taktis kepada pelatih.
Strategi berbeda dilancarkan Google. Menjelang dimulainya Piala Dunia, Google telah menjalin kemitraan dengan delapan tim nasional, termasuk Amerika Serikat, Argentina, Brasil, dan Prancis.
Wakil Presiden Consumer and AI Marketing Google, Marvin Chow, mengatakan Piala Dunia memberikan kesempatan global yang unik untuk memperlihatkan kemampuan AI yang berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Menurutnya, pemain sepak bola juga memanfaatkan AI dalam aktivitas sehari-hari selama turnamen. "Para pemain Piala Dunia menggunakan AI dan berbagai alat digital untuk mempersiapkan pertandingan, mengenal kota baru, mencari tempat makan, hingga mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan. Mereka juga manusia seperti kita," ujar Chow.
Google juga menghadirkan fitur pencarian berbasis AI yang mampu menampilkan visual interaktif untuk menjelaskan perbedaan formasi seperti 4-4-2 dan 4-3-3. Selain itu, layanan Google Maps dan Waze akan menyediakan informasi lalu lintas, penutupan jalan, citra stadion, hingga pembaruan skor secara langsung.
Di sisi lain, agen AI yang dapat membantu pengguna berburu tiket pertandingan secara otomatis masih berada dalam tahap awal pengembangan. "Untuk Piala Dunia kali ini teknologinya masih berada pada tahap awal," kata Chow.
Ia memperkirakan teknologi tersebut akan lebih matang saat digunakan pada Piala Dunia Wanita FIFA 2027 di Brasil.
