Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Rekor Laba Nvidia Picu Optimisme Jensen Huang Soal Revolusi AI

CEO Nvidia, Jensen Huang (總統府, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
CEO Nvidia, Jensen Huang (總統府, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • CEO Nvidia, Jensen Huang, memproyeksikan pasar cip AI tumbuh pesat dalam lima tahun ke depan.
  • Nvidia beroleh pendapatan US$46,7 miliar pada kuartal II-2025, dengan pertumbuhan didorong oleh bisnis pusat data yang didominasi AI.
  • Pendapatan Nvidia ditopang dari bisnis pangkalan data, yang meraup pendapatan US$41,1 miliar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - – Raksasa teknologi, Nvidia (NVDA), kembali membukukan kinerja keuangan ciamik dengan melaporkan pendapatan sebesar US$46,7 miliar pada kuartal II-2025. Capaian tersebut melonjak 56 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya (YoY), demikian warta Tech Crunch.

Seiring dengan lonjakan pendapatan, laba bersih perusahaan juga meroket 59 persen (YoY) menjadi US$26,7 miliar.

Kinerja solid ini didorong oleh segmen pangkalan data (data center) yang meraup pendapatan US$41,1 miliar. Hal ini menunjukkan permintaan dari perusahaan−perusahaan kecerdasan buatan (AI) terhadap graphics processing unit(GPU) Nvidia yang terus meningkat. Cip tercanggihnya, Blackwell, menjadi bintang utama dengan kontribusi penjualan mencapai US$27 miliar.

Menyikapi hasil ini, CEO Nvidia, Jensen Huang, menepis kekhawatiran pasar akan berakhirnya lonjakan belanja cip AI. Ia justru memproyeksikan sebuah revolusi industri baru tengah berlangsung.

“Persaingan AI sedang berlangsung,” ujar Huang dikutip dari Reuters, Kamis (28/8). “Perlombaan AI telah dimulai dan Blackwell adalah platform pusatnya.”

Optimisme Huang didukung oleh proyeksi pendapatan perusahaan untuk kuartal ketiga yang diperkirakan akan mencapai US$54 miliar. Lebih jauh, Nvidia memperkirakan belanja infrastruktur AI global berpotensi mencapai US$3 triliun hingga US$4 triliun pada 2030.

Di tengah kinerja gemilang tersebut, laporan keuangan Nvidia juga menyoroti tantangan berkelanjutan di pasar Cina. Pemerintah negara tersebut secara resmi telah melarang penggunaan cip Nvidia oleh bisnis lokal.

Kebijakan ini memaksa Nvidia menghentikan produksi cip H20 yang dirancang khusus untuk pasar itu pada awal bulan ini. Meski demikian, Nvidia melaporkan bahwa cip H20 senilai US$650 juta telah terjual kepada pelanggan di luar Tiongkok.

Uniknya, pandangan optimistis dan kinerja keuangan yang kuat tidak serta-merta mengangkat saham Nvidia. Pada penutupan perdagangan Kamis (28/8), saham perusahaan itu justru terkoreksi tipis 0,094 persen atau 0,17 poin ke level US$181,60.

Matt Orton, kepala solusi konsultasi di Raymond James Investment Management, menilai sentimen pasar terhadap saham AI sangat dipengaruhi oleh ekspektasi permintaan dari raksasa teknologi (big tech) dan Cina.

"Kapitalisasi pasar yang sangat besar inilah yang mendorong sebagian besar belanja modal yang diuntungkan Nvidia. Namun, jelas Nvidia masih bertumbuh dan mampu menjual," ujarnya, dilansir dari Reuters.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us