Bidik Pasar Premium, Eka Hospital Group Perkuat Penetrasi Bedah Robotik

- Dana WNI untuk berobat ke luar negeri ditaksir mencapai US$10 miliar per tahun.
- Bedah robotik mulai mengisi ruang rumah sakit di Indonesia dan diharapkan dapat menekan minat warga RI untuk berobat di luar negeri.
- Summit Robotic & Endourology Institute memanfaatkan teknologi bedah robotik menggunakan sistem Da Vinci Surgical untuk layanan kesehatan berstandar internasional.
Jakarta, FORTUNE – Industri kesehatan domestik tengah menghadapi tantangan besar terkait besarnya kebocoran devisa. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), aliran dana Warga Negara Indonesia (WNI) untuk mengakses layanan medis di luar negeri mencapai US$10 miliar atau lebih dari Rp162 triliun per tahun.
Merespons kondisi tersebut, Eka Hospital Group memperkuat strategi pelayanannya pada segmen premium dengan meresmikan Summit Robotic & Endourology Institute (SURE). Fasilitas ini mengintegrasikan keahlian dokter spesialis urologi dengan teknologi bedah robotik mutakhir guna menekan laju pasien ke mancanegara.
dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, menyatakan keterbatasan infrastruktur teknologi di dalam negeri sering kali menjadi pendorong utama pasien mencari pengobatan ke luar negeri, terutama untuk kasus penyakit kronis.
“Sebenarnya kita lihat sejumlah penyakit yang membuat orang ingin berobat di luar negeri adalah jantung, saluran pencernaan, dan kanker sekitar 12 persen. Alasannya sebenarnya karena biasanya teknologinya tidak ada di Indonesia,” kata Agus dalam sebuah diskusi acara grand launching SURE di Jakarta, Kamis (18/2).
Agus tidak menampik bahwa dari sisi adopsi teknologi, Indonesia masih belum bisa sejajar dengan negara tetangga. Terdapat catatan signifikan mengenai komitmen fiskal Malaysia pada sektor ini. Kementerian Kesehatan Malaysia telah mengalokasikan anggaran kesehatan senilai US$10,6 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, US$23 juta di antaranya dialokasikan untuk rumah sakit guna pengadaan peralatan medis canggih yang dicanangkan bisa naik dua kali lipat.
“Ada data mengenai jumlah robot medis di Malaysia itu naik dua kali lipat dalam waktu dua tahun. Dan sekarang Malaysia menjadi negara terbanyak yang memiliki robot di Asia Tenggara,” kata Agus.
Kendati demikian, optimisme terhadap ekosistem robotik Indonesia tetap tumbuh. Pada 2024, terdapat implementasi telesurgery perdana saat seorang dokter di Bali mengoperasi pasien di RSCM Jakarta melalui sokongan jaringan 5G.
CEO Eka Hospital Group, drg. Rina Setiawati, menyatakan perusahaan menargetkan peningkatan standar pelayanan untuk melayani ceruk pasar premium. Langkah ini merupakan upaya strategis agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh perawatan berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri.
“Kehadiran robot bedah Da Vinci XI di Eka Hospital MT Haryono mencerminkan komitmen kami untuk menghadirkan teknologi terkini yang telah menjadi gold standard di banyak rumah sakit global. Kehadiran teknologi ini membuat masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan setara internasional di dalam negeri,” kata Rina secara terpisah.
Secara klinis, penggunaan robot Da Vinci XI memberikan nilai tambah yang kompetitif bagi pasien, seperti presisi tinggi dengan sayatan minimal, reduksi rasa nyeri pasca-operasi, risiko komplikasi lebih rendah, masa pemulihan dan rawat inap lebih efisien.
Saat ini, Eka Hospital Group menghadirkan tiga instrumen robotik utama: Robot navigasi untuk bedah tulang belakang (skoliosis); VELYS untuk operasi penggantian lutut; serta Da Vinci XI yang difokuskan pada pengobatan kanker prostat dan prosedur urologi kompleks lainnya.

















