Kesiapan Digital indonesia Masih Dihadapkan Tantangan IT

- Sistem digital di Indonesia menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi dan layanan publik hingga 2025.
- Tantangan besar terdapat pada sistem pemantauan IT dan keamanan yang masih terpisah-pisah, serta keterbatasan talenta di bidang IT dan keamanan siber.
- Pengelolaan identitas dan akses menjadi titik lemah yang krusial, belanja teknologi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh, berdampak langsung pada bisnis.
Jakarta, FORTUNE - Sepanjang 2025, sistem digital di Indonesia telah menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga operasional perusahaan di tingkat nasional.
Meski demikian, ManageEngine menilai bahwa di tengah ketergantungan Indonesia terhadap sistem digital, masih terdapat tantangan besar yang dirasakan yakni sistem pemantauan IT dan keamanan yang masih terpisah-pisah.
Menurut perusahaan tersebut, banyak organisasi menggunakan alat berbeda untuk memantau jaringan, mengelola perangkat, mengatur akses, hingga deteksi ancaman. Sehingga, gambaran kondisi sistem secara menyeluruh seringkali tidak terlihat.
Alhasil, ketika insiden terjadi, keterbatasan visibilitas membuat proses penanganan menjadi lebih lambat, yang pada akhirnya memperpanjang downtime yakni kondisi di mana sistem atau layanan tidak dapat digunakan dan mengganggu operasional bisnis.
“Tantangan tersebut semakin besar karena keterbatasan talenta di bidang IT dan keamanan siber untuk mengelola lingkungan yang semakin kompleks,” ujar manajemen ManageEngine dalam keterangan resmi, Rabu (11/2).
Pengelolaan identitas dan akses menjadi titik lemah yang krusial. Adopsi cloud, integrasi dengan pihak ketiga memperbanyak titik akses, sehingga tanpa pengawasan identitas yang terpusat, risiko penyalahgunaan atau kebocoran menjadi meningkat.
Selain itu, dari sisi anggaran, belanja teknologi yang terus meningkat tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.
“Investasi yang dilakukan secara terpisah tanpa keselarasan antara kebutuhan operasional IT dan tujuan keamanan berujung pada biaya yang tinggi tanpa peningkatan ketahanan yang sepadan. Di tengah tekanan ekonomi, kondisi ini semakin sulit dipertahankan dihadapan manajemen,” imbuhnya.
Berbagai celah tersebut kini mulai berdampak langsung pada bisnis. Sistem yang belum terintegrasi dengan baik membuat risiko gangguan layanan semakin besar, sementara insiden keamanan dapat dengan cepat memengaruhi reputasi.
Dalam konteks ini, platform IT dan keamanan yang terintegrasi berperan sebagai pendukung utama. Menjelang 2026, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah transformasi digital perlu dilanjutkan, melainkan apakah fondasi yang ada cukup kuat untuk menopang fase pertumbuhan berikutnya.
“Sebaliknya, menunda pembenahan struktural justru berisiko memperbesar kerentanan di tengah ekonomi yang semakin digital. Bertindak sekarang bukan sekadar mengejar inovasi, tetapi memastikan fondasi digital yang sudah ada benar-benar aman dan siap digunakan,” tutupnya.
















