Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Ada Risiko Geopolitik, Citi Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent Jadi US$80 per Barel

Ada Risiko Geopolitik, Citi Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent Jadi US$80 per Barel
ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Robin Sommer)
Intinya Sih
  • Citigroup menaikkan proyeksi harga minyak Brent kuartal III 2026 dari US$75 menjadi US$80 per barel akibat risiko pasokan dan lambannya negosiasi Amerika Serikat-Iran.
  • IEA menilai konflik Timur Tengah memicu salah satu krisis pasokan minyak terparah; permintaan global 2026 diproyeksikan turun 1 juta barel per hari, sementara produksi turun 3,7 juta barel.
  • Selat Hormuz sempat terganggu saat konflik memuncak, sementara Goldman Sachs memperkirakan Brent bertahan US$80-US$90 tanpa kepastian kesepakatan nuklir Iran atau eskalasi besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Citigroup menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent pada kuartal III 2026 menjadi US$80 per barel, dari perkiraan sebelumnya US$75 per barel. Revisi tersebut disebabkan oleh meningkatnya risiko pasokan di tengah lambannya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Reuters melaporkan, Citi masih optimistis kesepakatan antara AS dan Iran dapat tercapai. Namun demikian, proses diplomasinya berjalan lebih lambat dari perkiraan membuat bank tersebut memperhitungkan harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka pendek.

Pada kuartal IV 2026 dan sepanjang 2027, Citi mempertahankan proyeksi rata-rata harga Brent masing-masing pada level US$70 dan US81,79 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US80-US 82,95 per barel.

Namun, penurunan tersebut tidak serta-merta menandai berakhirnya tekanan di pasar energi.

Menurut CNBC, Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli mengingatkan investor agar tidak euforia dan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa risiko konflik telah mereda, mengingat proses menuju penyelesaian masih panjang.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap pasar minyak juga tercermin dalam proyeksi Badan Energi Internasional (IEA). Gangguan akibat konflik di Timur Tengah disebut sebagai salah satu krisis pasokan minyak paling serius yang pernah tercatat. IEA memperkirakan permintaan minyak global akan turun sekitar 1 juta barel per hari pada 2026, sekaligus penurunan tahunan pertama sejak pandemi COVID-19.

Selat Hormuz, jalur pelayaran yang juga salah satu titik paling krusial dalam rantai pasokan global, menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia dan sempat mengalami gangguan aktivitas perdagangan ketika konflik mencapai fase paling intens.

IEA memperkirakan produksi minyak global dapat turun sekitar 3,7 juta barel per hari secara tahunan, sebelum berpotensi meningkat sekitar 7,5 juta barel per hari pada 2027. Namun, lembaga tersebut menilai pemulihan produksi kemungkinan berlangsung bertahap dan tidak merata, seiring masih tingginya ketidakpastian geopolitik.

Dengan demikian, pasar minyak pada paruh kedua 2026 tidak hanya menghadapi persoalan keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga meningkatnya premi risiko geopolitik.

Tak hanya Citi, awal pekan lalu, Reuters melaporkan bahwa Goldman Sachs memperkirakan harga Brent akan bertahan di kisaran US$80 hingga US$90 per barel jika tidak ada katalis yang jelas—baik berupa kesepakatan nuklir yang pasti dengan Iran maupun eskalasi permusuhan yang signifikan.

Situasi diplomatik telah mengalami pasang surut dalam beberapa minggu terakhir. Saat Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengisyaratkan kembali ke jalur diplomasi pada awal Agustus, harga Brent sempat anjlok sekitar 6 persen menjadi US$82,95 per barel pada hari perdagangan pertama Agustus.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Latest in Business

See More