Jakarta, FORTUNE - PT MRT Jakarta (Perseroda) berencana menghadirkan placemaking museum di jalur Fase 2. Itu sejalan dengan penemuan berbagai barang-barang bersejarah selama pengembangan jalur tersebut.
R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo, Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarat, mengatakan, selama ini, benda-benda bersejarah yang ditemukan di sepanjang jalur Fase 2 MRT direstorasi kembali melalui kerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta. Lalu, benda tersebut dikirim ke museum.
"Bahkan [pernah ditemukan juga benda bersejarah] dari tahun 1800 kadang-kadang," katanya saat ditemui di Wisma Nusantara, Jakarta, dikutip Kamis (10/9).
Secara paralel, ekspansi jalur itu juga diiringi dengan pengembangan titik-titik placemaking di sekitarnya. Placemaking sendiri merujuk kepada pendekatan perancangan dan pengelolaan ruang ketiga berkualitas, dengan menekankan penciptaan tempat sense of place: tempat yang hidup, inklusif, dan bermakna, serta memiliki berbagai aktivitas dan melibatkan masyarakat dan bisnis lokal.
Dalam upaya menghadirkan museum sebagai bagian dari placemaking di kawasan transit, MRT Jakarta membuka peluang kerja sama tak hanya dengan pemerintah, tetapi juga pihak swasta.
"Untuk pengembangan placemaking ke depannya [di jalur Fase 2] ada satu [bangunan] mix yang akan masuk, yaitu museum. Kami berharap ada satu museum di situ," kata Samuel. "Mungkin bisa sejarah, tapi bisa juga yang lebih modern. Misalnya, nanti di Jakarta ada museum Lilin, belum ada kan saat ini. Bisa saja museumnya kombinasi antara bersejarah dan modern."
Konsep dari placemaking mengedepankan 4 prinsip utama: akses dan keterkaitan (access and linkage), kenyamanan dan imej (comfort and image), kegunaan dan kegiatan (uses and activities), serta keramahan (sociability). Salah satu contoh hasil placemaking oleh MRT Jakarta adalah kawasan Blok M Hub.
Secara ekonomi, placemaking memiliki dampak berlapis atau multipplier effect. Misalnya, lewat Jakarta Sneaker Day (JSD) Blok M Festival 2026, transaksi oleh konsumen tak hanya terjadi di dalam acara, tetapi juga di area sekitarnya.
Berdasarkan studi Stanford University, setiap kali ada kegiatan ekonomi kreatif atau MICE seperti itu, multipplier effect yang dirasakan dari nilai ekonominya bisa berlipat ganda hingga 4 sampai 5 kali lebih besar. Jika nilai transaksi suatu acara mencapai Rp10 miliar, maka dampak berlapisnya bisa menyentuh sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar.
"Tidak hanya kegiatannya saja [yang mempengaruhi], tapi juga [karakteristik] kawasannya. Di GBK, misalnya, kawasan itu [potensi] peningkatan transaksinya lebih besar lagi. Kami pernah membuat studi bersama GBK, itu multipplier effect-nya bahkan bisa 7-8 kali lipat," kata Samuel.
