BUSINESS

Mengenal STP Marketing dan Penjelasan Tiap Komponennya

Jadi model pemasaran yang cukup populer selain SWOT.

Mengenal STP Marketing dan Penjelasan Tiap Komponennyailustrasi konsultan bisnis dan digital marketing (pexels.com/RF._.studio)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

19 September 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Anda mungkin cukup familiar dengan model marketing populer yang kerap dibahas, seperti SWOT (strength, weakness, opportunity, and thread). Namun, sebenarnya ada satu model lagi yang cukup efektif dan populer digunakan, yakni model STP (Segmenting, Targeting, Positioning) Marketing.

Smart Insights menuliskan bahwa STP Marketing merupakan proses dalam pemasaran sebuah bisnis. Model ini terbukti cukup efektif dalam komunikasi suatu perusahaan. Dengan tahapan ini marketer bisa lebih mudah dalam menentukan posisi perusahaan. Selain itu, Anda bisa menciptakan pesan yang relevan untuk disampaikan pada konsumen.

Model pemasaran STP fokus pada efektivitas sebuah iklan dan kampanye sebuah brand, sehingga, Anda bisa lebih mudah menentukan segmen bisnis secara tepat, lewat aturan positioning brand pada tiap segmen. Untuk mengenal lebih jauh tentang STP Marketing, berikut ini Fortune Indonesia akan mengulasnya bagi Anda dari sejumlah sumber.

Segmenting

Menurut ‘Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit’ (2010), proses STP Marketing terdiri dari segmentasi pasar, yakni proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen yang berbeda berdasarkan kebutuhan, karakteristik, dan perilaku.

Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok yang paling menjanjikan dan menyesuaikan penawaran produk atau layanan untuk setiap kelompok. Selain itu, ini bisa memudahkan perusahaan untuk mendapatkan gambaran kompetisi pasar.

Beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam membuat segmentasi adalah:

  1. Demografis
    Memilah target konsumen berdasarkan kategori umur, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, status perkawinan, dan pekerjaan. Pembagian ini akan memudahkan Anda untuk menentukan kelompok pelanggan dan calon pelanggan sebagai target pasar.
  2. Psikografis
    Mengenal target audience lebih terperinci, termasuk kebiasaan dan kecenderungan saat transaksi jual beli. Kita perlu tahu kelas sosial, gaya hidup, hobi, hingga ketertarikan konsumen atau calon konsumenmu pada tren tertentu, karena tiap orang punya preferensi yang berbeda dan akan mempengaruhi keputusan untuk membeli sebuah produk.
  3. Geografis
    Kondisi geografis, seperti posisi tinggal, komunitas, dan asal-usul daerah konsumen, akan berpengaruh pada setiap keputusan konsumen. Hal ini bisa bermanfaat saat Anda akan melakukan komunikasi pemasaran pada mereka. Dengan mengetahui latar geografis mereka, kemungkinan pesan pemasaran Anda bisa diterima akan lebih besar.
  4. Kepercayaan
    Dalam mengenali segmentasi, kepercayaan dari target audience adalah kunci. Kepercayaan di sini meliputi agama, politik, kebudayaan, serta nilai-nilai kehidupan. Dengan memahami aspek ini, Anda bisa tahu cara menghasilkan pesan yang tepat dan mudah dicerna para calon komsumen.

Targeting

Memilih kelompok yang akan menjadi target pemasaran dengan memfokuskan sumber daya pada kelompok yang paling menjanjikan merypakan salah satu strategi marketing.

Pertimbangkan peluang dari setiap segmentasi dan sumber daya yang Anda miliki serta jangan lupa untuk melakukan analisis terhadap potensi target pelanggan agar terus berkembang.

Pastikan, Anda tidak mengurangi target keuntungan, hanya karena target segmentasi Anda terbilang kecil. Selain itu, pertimbangkan juga potensi keuntungan serta risiko dari setiap segmentasi yang akan dijadikan target. Lalu, bandingkanlah hal-hal tersebut pada setiap segmentasi. Jika perlu, lakukan survei untuk mengurangi risiko gagal dan salah dalam menentukan target pemasaran.

Berikut ini adalah beberapa pilihan pola yang dapat dijadikan dasar pemilihan, yakni:

  1. Single Segment Cocentration (fokus pada satu segmentasi)
  2. Selective Specialization (berdasarkan keunggulan tertentu)
  3. Product Specialization (berdasarkan produk khusus)
  4. Market Specialization (fokus menyediakan kebutuhan dalam kelompok tertentu)
  5. Full Market Coverage (diterapkan pada semua kelompok)

Related Topics