Comscore Tracker
BUSINESS

Seberapa Perlu Migrasi Siaran Tv Analog ke Digital? Ini Kata Pengamat

Kualitas penyiaran dan nilai ekonomisnya akan semakin baik.

Seberapa Perlu Migrasi Siaran Tv Analog ke Digital? Ini Kata PengamatIlustrasi TV digital. (Pixabay/mohamed_hassan)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE –  Pemerintah akan memulai peralihan sistem penyiaran, dari analog menuju digital atau Analog Switch Off (ASO) mulai April 2022. Upaya ini sebagaimana Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran. Lantas seperti apa urgensinya? 

Dengan dimulainya tahap peralihan per April 2020, diharapkan seluruh masyarakat sudah menggunakan televisi terestrial digital pada November mendatang. 

Pengamat Teknologi sekaligus Direktur Eksekutif dari ICT Institute, Heru Sutadi mengungkapkan, ASO dibutuhkan oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia. “Dengan beralih ke digital, maka kualitas penyiaran juga meningkat. Gambar pun lebih jernih dan suara jelas lebih baik. Sehingga masyarakat mendapatkan kualitas penyiaran lebih bagus,” katanya kepada Fortune Indonesia (27/12).

Menurut Heru, industri penyiaran di Indonesia kian canggih. Saat ini televisi lokal, baik swasta maupun publik, harus bersaing dengan video on demand yang sudah lebuh dulu menggunakan sistem digital. “Berat kalau tidak bermigrasi ke digital,” ujarnya.

Tantangan terbesar

Heru menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dari peralihan ini adalah sosialisasi dan ketersediaan Set Top Box (STB) bagi masyarakat. Perangkat ini dibutuhkan, terutama oleh masyarakat yang belum memiliki televisi yang kompatibel dengan sistem digital.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sedang menyiapkan mekanisme pembagian STB gratis kepada rumah tangga miskin. Sebanyak 6,7 STB– berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementerian Sosial–akan dibagikan kepada masyarakat, agar dapat menikmati siaran TV Digital, meski perangkatnya masih analog.

Selain itu, agar STB sesuai dengan teknologi yang digunakan pada siaran digital di Indonesia, Kemkominfo memberikan sertifikasi pada perangkat STB yang beredar di pasaran. Tanda ini berupa label "Siap Digital" dan gambar maskot siaran digital Indonesia, MODI.

Televisi terestrial digital gratis

Siaran televisi terestrial digital menggunakan teknologi digital, yaitu modulasi sinyal digital dan sistem kompresi akan memberikan kualitas siaran terbaik ketika ditonton di pesawat televisi. Satu hal yang perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia adalah bahwa siaran TV digital ini gratis, seperti siaran yang sudah dinikmati saat ini. Tidak perlu lagi ada biaya langganan seperti tv kabel atau layanan streaming.

Melansir Antara (26/12), untuk dapat menikmati siaran TV digital, masyarakat hanya perlu menggunakan pesawat televisi yang menangkap siaran digital. Perlu diingat, bahwa siaran tv digital adalah siaran free to air, berbeda dengan layanan streaming yang ditonton melalui aplikasi.

Siaran televisi terestrial masih menggunakan frekuensi radio UHF/VHF, sama seperti siaran analog. Sementara, layanan streaming merupakan siaran berbasis internet sehingga memerlukan biaya berlangganan.

Keuntungan lain dari sistem TV digital

Selain menghasilkan kualitas siaran yang jauh lebih baik dari sistem analog, siaran TV digital juga menghadirkan masa depan sistem penyiaran yang lebih ramah anak dan terkontrol dari sisi konten. Variasi konten pun akan lebih beragam dan memungkinkan disaksikan oleh seluruh masyarakat di pelosok nusantara.

ASO juga akan mendukung terwujudnya jaringan broadband internet yang semakin berkualitas di Indonesia. Saat ini, televisi analog berjalan pada pita 700MHz. Saat beralih ke digital, penyiaran hanya membutuhkan sekitar 588MHZ saja. Artinya, ada sekitar 112 MHz tersisa dan dapat dimanfaatkan sebagai wadah jaringan internet 5G yang terus dikembangkan.

Related Articles