BUSINESS

Masih Banyak Pekerja yang Memilih Potong Gaji Ketimbang Harus WfO

17 persen responden berani mengorbankan 20 persen gajinya.

Masih Banyak Pekerja yang Memilih Potong Gaji Ketimbang Harus WfOIlustrasi pekerja di kantor. 123RF

by Bonardo Wahono

24 October 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Perdebatan mengenai apakah perusahaan harus menerapkan kerja sepenuhnya dari kantor (WfO) atau membuka ruang bagi kerja dari luar kantor (WfH), atau menggabungkan keduanya dengan skema luwes (flexible working arrangement) tetap mengemuka.  

Padahal, dunia kini sepertinya telah mulai menganggap Covid-19—pemicu sistem WfH—sebagai bagian dari kehidupan biasa sehari-hari alias no big deal

Masih banyak golongan pekerja yang belum sanggup move on dari sistem kerja fleksibel; dan begitu kuatnya dorongan itu, mereka memilih skema bekerja yang cair di atas kompensasi uang. 

Setidaknya ini terekam di Amerika Serikat, yang mayoritas warganya masih berkutat dengan krisis ongkos hidup, demikian laporan Fortune.com

Menurut sebuah jajak pendapat yang digelar FlexJobs terhadap lebih dari 8.400 pekerja di Amerika, hampir dua per tiga responden yang disurvei mengaku mereka rela upahnya dipotong demi bisa bekerja dari jarak jauh. 

Tujuh belas persen responden berani mengorbankan 20 persen gajinya, dan satu dari 10 responden bahkan bersedia melepas lebih dari 20 persen. 

Bahkan meski harga rumah melambung, kenaikan gaji di banyak industri landai saja. Banyak pekerjaan pun gagal menawarkan penyesuaian pada naiknya ongkos hidup. Karena itu, 63 persen responden menganggap kerja jarak jauh masih menjadi bagian penting dari mereka di luar gaji, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta atasan yang baik. 

Bagi para pekerja yang merasa lebih cocok dengan sistem kerja yang mereka dambakan itu, mereka mesti mendengar kabar buruk. Sebab, jumlah pekerjaan dengan fleksibilitas tersebut semakin sedikit. Jika pun ada lowongannya, maka para pelamar akan segera berebut melayangkan proposalnya. 

"Kurangnya opsi untuk bekerja dari jauh menjadi alasan signifikan kenapa orang meninggalkan pekerjaannya," kata Keith Spencer, pakar urusan karier di FlexJobs, dikutip Fortune.com dari laporannya. "Kerja jarak jauh sangat bernilai tinggi bagi para tenaga kerja saat ini. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi jenis kebijakan kerja semacam itu, pekerja kian terbuka untuk menjajaki peluang karier baru dengan fleksibilitas dan pilihan kerja jarak jauh yang mereka butuhkan." 

Bagi kebanyakan responden dalam laporan FlexJobs, kerja jarak jauh berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan mentalnya. Salah satu alasannya: kerja jarak jauh memangkas pengeluaran, dan memungkinkan mereka untuk punya banyak waktu dengan keluarga atau hobinya.  


 

Sistem kerja hibrida

Alih-alih hasrat untuk fleksibilitas kerja, tidak semua pekerja menginginkan kerja sepenuhnya dari jarak jauh. Hanya 51 persen responden mengaku sama sekali tidak ingin bekerja dari kantor; 46 persen memprioritaskan sistem kerja hibrida; dan cuma 3 persen responden yang betul-betul mau kerja lima hari dalam sepekan di kantor. 

Hampir empat dari lima pekerja yang disurvei FlexJobs merasa lebih produktif kala bekerja dari rumah. Banyak pakar sepakat dengan jawaban itu. 

Namun, kini, mulai muncul banyak data yang menunjukkan hal sebaliknya: bahwa kebanyakan pekerja sesungguhnya berkinerja lebih baik saat di kantor ketika berada di tengah koleganya dan dalam bimbingan mentornya. Khususnya bagi pekerja baru, lebih mudah untuk transfer ilmu dan mengajukan pertanyaan saat melakukannya secara tatap muka. 

Sementara untuk sistem kerja hibrida atau campuran, praktiknya akan berjalan baik jika bersandar pada rencana kerja hibrida yang rapi. Misalnya, kesepakatan di antara anggota tim untuk dapat datang ke kantor pada hari yang sama. Hal tersebut dapat mendongkrak produktivitas dan meningkatkan peluang perekrutan, retensi pegawai, serta moral mereka.