BUSINESS

Permintaan Turun, Produsen Mobil Listrik Tunda Investasi dan Ekspansi

Inflasi dan suku bunga tinggi menyulitkan konsumen.

Permintaan Turun, Produsen Mobil Listrik Tunda Investasi dan EkspansiIlustrasi pabrik Tesla. Shutterstock/Michael Vi

by Ekarina

09 November 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Sejumlah produsen kendaraan dunia disebut bakal menunda investasi pengembangan mobil listrik. Hal itu salah satunya disebabkan oleh menurunnya permintaan pasar. 

Dilansir dari laman Fortune.com, setelah bertahun-tahun menggelontorkan uang ke pasar kendaraan listrik yang sedang berkembang, Tesla Inc. dan produsen mobil besar lainnya menghadapi dilema baru khususnya dalam permintaan yang mulai menurun. 

Meskipun pasar kendaraan bertenaga baterai masih berkembang, laju pertumbuhannya melambat signifikan. Tesla, pemimpin kendaraan listrik dunia, dan produsen mobil lainnya telah menghabiskan banyak uang untuk membangun bisnis mobil listrik mereka, namun kini mengambil pendekatan investasi yang lebih hati-hati.

Perusahaan-perusahaan otomotif secara kolektif telah memberikan komitmen investasi US$100 miliar di seluruh Amerika Utara untuk memproduksi mobil listrik. Strategi ini tidak hanya demi menarik pembeli barang mewah dan pengguna awal, tetapi juga bagi pasar yang luas.

Namun, inflasi dan suku bunga tinggi, rupanya menyulitnya  konsumen untuk membeli kendaraan, sehingga menyebabkan produsen kendaraan listrik kesulitan memenangkan bisnisnya. 

“Banyak orang hidup dari gaji ke gaji, dan dengan banyaknya utang, mereka mempunyai utang kartu kredit, utang hipotek,” kata Chief Executive Officer Tesla, Elon Musk, pada laporan hasil kuartal ketiga pada 18 Oktober. “Kita harus membuat mobil kita lebih terjangkau.”

Konsumen memiliki banyak pertimbangan ketika melihat kendaraan di dealer. Ford F-150 Lightning dijual mulai dari US$50.000, sebelum kredit pajak federal sebesar US$7.500. Versi model dasar bertenaga bensin mulai dari harga kurang dari US$37.000. Harga Chevrolet Blazer dari General Motors Co. mulai dari sekitar US$37.000, namun versi listriknya berharga minimal US$56.000 sebelum kredit pajak.

Sulitnya menurunkan harga 

Baterai sebagai penggerak kendaraan listrik lebih mahal dibandingkan mesin pembakaran internal (ICE), dan dibutuhkan setidaknya tiga tahun lagi sebelum harga tersebut dapat dibandingkan, menurut penelitian Bloomberg BNEF.

Hal ini bahkan menyulitkan Tesla, produsen mobil AS untuk membuat kendaraan listriknya menjadi lebih murah. Tesla telah memangkas harga secara drastis tahun ini, bahkan hingga 30 persen dalam beberapa kasus, untuk melindungi volume penjualannya, sehingga mendorong perusahaan lain untuk mencoba mengimbanginya..

Diskon tersebut menggerogoti keuntungan perusahaan. Pertumbuhan pendapatan otomotif Tesla sebesar 51 persen tahun lalu, turun menjadi 5 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Margin kotor otomotif turun menjadi 16,3 persen pada kuartal tersebut, terendah dalam lebih dari empat tahun.

Menahan ekspansi 

Musk mengungkap kemungkinannya menunda pembangunan pabrik baru senilai US$1 miliar di Meksiko.

Sebelumnya, General Motors (GM) juga menunda rencana untuk memperluas produksi truk pikap listriknya di pabrik di pinggiran kota Detroit. Pabrik yang berlokasi di Orion Township itu seharusnya mulai memproduksi pickup Chevrolet Silverado dan GMC Sierra versi listrik tahun depan. Namun, hal tersebut baru akan dimulai pada akhir 2025.

GM akan memproduksi dua truk tersebut bersama dengan Hummer listriknya di sebuah pabrik di Detroit, namun perusahaan tersebut mengatakan tidak akan memperluas produksinya sampai mereka mendapat permintaan kendaraan listrik dan membuat perubahan pada model tersebut.

Ford Motor Co. telah mengatakan akan menunda US$12 miliar dari rencana investasi kendaraan listrik senilai US$15 miliar. Chief Financial Officer, John Lawler, mengatakan pada 27 Oktober perusahaannya menunda pembangunan pabrik baterai kedua di Kentucky dengan mitra Korea Selatan SK ON Co. Ford juga mengurangi produksi Mustang Mach-E listrik di pabrik di Meksiko yang diperluas sebelumnya pada tahun ini.

Perjuangan Ford pada unit kendaraan listriknya yang baru lahir, yang dikenal sebagai Model e, mengakibatkan kerugian operasional US$1,3 miliar pada kuartal terakhir dan lebih dari US$4 miliar pada tahun ini. Produsen mobil tersebut memproyeksikan akan kehilangan US$4,5 miliar pada divisi kendaraan listrik tahun ini.

“Meskipun langkah Ford dan GM untuk menyesuaikan rencana produksi guna menurunkan permintaan dan menghemat modal secara pragmatis berdampak positif terhadap margin dan arus kas bebas dalam jangka pendek, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran yang lebih mendalam mengenai kemampuan mereka dalam melakukan transisi yang sukses ke kendaraan listrik dalam jangka panjang,” tulis Deutsche Bank dalam laporannya pada 31 Oktober.

Lambatnya pengiriman kendaraan listrik juga berdampak pada sejumlah produsen mobil global lainnya, termasuk Mercedes-Benz Group AG dan Volvo Car AB dari Swedia, serta berdampak pada rantai pasokan suku cadang mobil. Chief Financial Officer pembuat baterai lithium-ion LG Energy Solution Ltd. Chang Sil Lee pada konferensi telepon 24 Oktober menyesalkan ekspektasi penjualan yang lebih rendah tahun depan.