Nilai M&A Global Melejit 40% di 2025, Prospek 2026 Diprediksi Menguat

Faktor geopolitik dan era pascaglobalisasi turut membentuk strategi M&A pada 2026 dan seterusnya. Guncangan tarif pada 2025 memperdalam pemahaman perusahaan tentang fragmentasi arus barang, modal, kekayaan intelektual, dan tenaga kerja. Dalam kondisi ini, perusahaan cenderung mengambil langkah lebih berani untuk memperkuat sebagian jejak globalnya sekaligus mengurangi eksposur di wilayah yang kurang menguntungkan. M&A dan divestasi menjadi sarana utama untuk mengeksekusi realignment tersebut secara cepat.
Tekanan evolusi industri juga mendorong perusahaan lintas sektor memanfaatkan M&A, termasuk divestasi dan spin-off, guna menata ulang strategi portofolio. Lebih dari separuh perusahaan dalam survei Bain tengah menyiapkan aset untuk dijual dalam beberapa tahun ke depan, didorong kebutuhan memperkuat fokus bisnis, membuka likuiditas, dan memanfaatkan valuasi pasar yang relatif tinggi.
Peran AI kian menonjol dalam proses M&A. Survei Bain mencatat 45 persen eksekutif telah menggunakan perangkat AI dalam transaksi M&A pada 2025, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar sepertiga pelaku transaksi telah menggunakan AI secara sistematis atau mendesain ulang proses M&A untuk AI, sementara lebih dari separuh responden meyakini teknologi ini akan berdampak signifikan pada cara transaksi dilakukan.
Bain mengidentifikasi lima cara utama perusahaan terdepan memanfaatkan AI untuk meningkatkan nilai M&A, mulai dari membangun pipeline transaksi yang dinamis, meningkatkan akurasi intelijen eksternal, mempercepat pencapaian sinergi, hingga meminimalkan pekerjaan persiapan integrasi dan memperdalam wawasan pemangku kepentingan.
“AI dengan cepat menjadi elemen yang tak tergantikan dalam M&A. Perusahaan yang menjadi early adopter memperoleh keunggulan nyata. Kini, AI digunakan untuk menciptakan nilai di seluruh siklus transaksi, termasuk pada tahap eksekusi, integrasi, hingga pembelajaran pascatransaksi," kata Kumar.
Meski prospeknya positif, Bain mencatat keterbatasan modal menjadi tantangan signifikan pada 2026. Walaupun aktivitas M&A pada 2025 tergolong kuat, porsi alokasi modal untuk M&A justru mencapai titik terendah dalam 30 tahun terakhir, seiring meningkatnya reinvestasi pada belanja modal dan riset serta pengembangan. Persaingan atas modal pun kian ketat, sehingga disiplin dalam reinventing bisnis dan penciptaan nilai menjadi krusial.
Dalam laporan tersebut, Bain juga menguraikan agenda M&A 2026, termasuk pentingnya menempatkan M&A dalam konteks strategi baru, memastikan mega-deal menghasilkan nilai melalui tesis integrasi yang jelas, serta menyegarkan strategi alokasi modal jangka panjang.
Secara sektoral, laporan Bain menyoroti lonjakan M&A di berbagai industri. Di perbankan, nilai transaksi mencapai US$212 miliar pada 2025, didorong lingkungan regulasi yang lebih kondusif dan kebutuhan modernisasi. Di sektor minyak dan gas, konsolidasi mencapai rekor seiring upaya perusahaan mengejar skala dan efisiensi biaya. Sementara itu, sektor perangkat lunak mencatat rekor akuisisi aset AI, dengan hampir separuh transaksi teknologi kini melibatkan komponen AI. Laporan ini mencakup 13 industri dan 10 kawasan utama dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok Raya, Jepang, India, hingga Timur Tengah.
Jakarta, FORTUNE - Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) global diperkirakan melanjutkan momentumnya pada 2026, setelah mencatat rebound tajam sepanjang 2025. Nilai transaksi global melonjak 40 persen menjadi US$4,9 triliun pada 2025, tertinggi kedua sepanjang sejarah, menurut laporan Global M&A Report 2026 yang dirilis Bain & Company.
Survei Bain terhadap 300 eksekutif M&A menunjukkan optimisme yang kuat. Sebanyak 80 persen responden memperkirakan aktivitas transaksi akan bertahan atau bahkan meningkat pada 2026. Kondisi ini ditopang perbaikan lingkungan makroekonomi serta akumulasi aset private equity dan venture capital yang siap dilepas. Di saat yang sama, para pemimpin lintas industri menilai banyak model bisnis tradisional telah mencapai batas mesin pertumbuhan historisnya.
“Seluruh prasyarat untuk satu tahun M&A yang solid kembali telah tersedia, menyusul rebound mendekati rekor tahun lalu,” ujar Suzanne Kumar, Executive Vice President Global M&A and Divestitures Practice Bain & Company, dalam keterangan resmi, Rabu (28/1).
“Perusahaan perlu segera bertransformasi untuk mengantisipasi disrupsi teknologi, ekonomi pascaglobalisasi, dan pergeseran sumber laba. M&A akan memainkan peran kunci dalam proses reinventing tersebut pada 2026," katanya, menambahkan.
Menurut Bain, dampak disrupsi teknologi, geopolitik, dan pergeseran profit pool menjadi semakin tak terelakkan sejak 2025. Memasuki 2026, M&A diproyeksikan bergeser dari sekadar respons defensif menjadi instrumen strategis untuk secara proaktif membentuk ulang arah bisnis dan portofolio perusahaan.
Kemajuan teknologi mulai dari kecerdasan buatan (AI), robotika, hingga komputasi kuantum diperkirakan memberi pengaruh besar terhadap transaksi tahun ini. Hampir separuh transaksi di sektor teknologi kini telah memiliki unsur AI, dan tren tersebut diprediksi terus menguat seiring perusahaan memburu aset talenta serta kapabilitas teknologi. Di luar sektor teknologi, transaksi juga meningkat di kalangan perusahaan yang ingin mempercepat pembangunan solusi digital.



















