Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Harga Emas Tembus Rekor, WGC: Reposisi Investor Dorong Kenaikan

ilustrasi emas
ilustrasi emas (unsplash.com/Scottsdale Mint)
Intinya sih...
  • Harga emas global mencapai rekor tertinggi US$5.200 per troy ounce pada Rabu (28/1).
  • Reposisi investor, ketidakpastian geopolitik, dan permintaan akan ketahanan portofolio mendorong kenaikan harga emas.
  • Kenaikan harga emas diprediksi akan berkelanjutan hingga 2026.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Harga emas global menembus rekor tertinggi, mencapai US$5.200 per troy ounce pada Rabu (28/1). Di Indonesia, lonjakan ini mendorong harga emas batangan menembus rekor hingga Rp3 juta per gram.

Senior Market Strategist & Head of Public Policy (Americas) dari World Gold Council (WGC), Joseph Cavatoni, menyatakan kenaikan harga emas tersebut mencerminkan kombinasi reposisi investor, ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, serta berlanjutnya permintaan akan ketahanan portfolio. 

“Investor yang sebelumnya memiliki alokasi emas rendah kini meninjau kembali asumsi mereka, dan realokasi inilah yang mendorong harga naik lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan oleh banyak model valuasi tradisional,” ungkapnya dalam risetnya, dikutip Rabu (28/1).

Menurutnya, harga emas yang telah melonjak menjadi bukti betapa cepatnya sentimen pasar berubah. Meski demikian, reli tersebut juga disertai volatilitas jangka pendek yang meningkat, yang menandakan pasar masih beradaptasi dengan era harga emas jangka panjang lebih tinggi.

Jika sejumlah hal seperti tingginya ketidakpastian, dinamika kebijakan yang disruptif, hingga kuatnya kebutuhan diversifikasi tetap terjadi, Joseph memprediksi emas akan tetap berada di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji level baru pada 2026.

Meski demikian, kenaikan harga secara bertahap dinilai akan jauh lebih berkelanjutan dibandingkan dengan lonjakan harga yang terlalu cepat.

“Koreksi jangka pendek atau fase konsolidasi adalah hal yang wajar dan justru dapat memperkuat fondasi harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang,” katanya.

Joseph juga menilai terdapat sejumlah faktor yang dapat memperlambat momentum emas, yakni kenaikan suku bunga, penguatan dolar AS, hingga peralihan kembali ke aset berisiko. 

Membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika penguatan pertumbuhan ekonomi tidak disertai ketegangan geopolitik, hingga pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan, dapat mengurangi urgensi kepemilikan aset defensif.

“Meski demikian, saat ini belum ada tanda-tanda kuat akan terjadinya kondisi tersebut, sehingga posisi emas tetap kokoh,” ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Business

See More

Nilai M&A Global Melejit 40% di 2025, Prospek 2026 Diprediksi Menguat

28 Jan 2026, 14:25 WIBBusiness