Pangsa Pasar Furnitur RI di Global Rendah, Asmindo Ungkap Tantangan

- Pangsa pasar furnitur RI di global masih rendah, berada di bawah 1 persen dari potensi pasar US$770,42 miliar pada 2024.
- Ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen pada 2025.
- Pameran internasional seperti IFFINA+ dan interzum jakarta siap digelar untuk memperluas akses pasar Asia Tenggara dan global.
Jakarta, FORTUNE – Industri mebel atau furnitur Indonesia memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional serta peluang ekspansi yang masih sangat luas. Namun demikian, di tengah potensi pasar furnitur global yang mencapai US$770,42 miliar pada 2024, pangsa pasar Indonesia masih rendah atau berada di bawah satu persen. Hal ini mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan yang belum tergarap.
Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Dedy Rochimat menyebut terdapat sejumlah tantangan yang membayangi pelaku usaha nasional salah satunya mengenai bahan baku.
“Kita yang industri kecil itu memang masih dibayangi masalah. Seperti SDM dan material. Kita ini kadang-kadang mau impor suatu material yang diperlukan oleh desainer masih harus impor,” kata Dedy saat diskusi Industry Connect di Jakarta, Kamis (29/1).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen pada 2025. Ia menambahkan, tantangan utama industri furnitur nasional bukan pada potensi produksi, melainkan pada konektivitas rantai nilai—mulai dari material, teknologi manufaktur, hingga akses pasar.
Akses ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur telah terbentuk, namun masih memerlukan penguatan standardisasi, efisiensi, dan integrasi lintas sektor agar pelaku industri nasional, termasuk UMKM, dapat terhubung lebih langsung dengan jaringan pasar global.
Properti topang pertumbuhan pasar furnitur, pameran internasional siap digelar

Di sisi domestik, pasar furnitur juga menunjukkan dinamika positif. Sepanjang kuartal pertama 2025, Global Property Guide mencatat penjualan rumah berukuran kecil melonjak hingga 83,97 persen secara kuartalan, menciptakan permintaan lanjutan yang besar terhadap furnitur dan interior.
Pertumbuhan sektor properti pun tidak lagi terpusat di Jakarta. Kota-kota sekunder seperti Pekanbaru (2,12 persen) dan Pontianak (2,07 persen) mencatat pertumbuhan yang lebih resilien, membuka peluang ekspansi pasar di luar pusat ekonomi tradisional dan memperluas basis permintaan nasional.
Dedy menyatakan, kebijakan pemerintah melalui insentif PPN rumah serta kemudahan kepemilikan properti bagi pembeli asing turut mendorong peningkatan transaksi hunian. Kondisi ini menegaskan peran industri furnitur sebagai multiplier effect penting bagi sektor properti dan konstruksi, sekaligus memperkuat urgensi integrasi antara sektor material, manufaktur, dan furnitur dalam menjawab pasar domestik yang masih sangat luas.
Dalam konteks inilah pameran internasional juga dapat berperan sebagai platform strategis untuk memperluas akses pasar Asia Tenggara dan global. Pameran tidak lagi sekadar etalase produk, melainkan instrumen yang mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional, mitra teknologi, dan jaringan distribusi dalam satu ekosistem terhubung, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing regional.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan kolaborasi strategis empat pameran dagang utama ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir. Pameran tersebut ialah IFFINA+, interzum jakarta dan International Hardware Fair Indonesia serta IFMAC WOODMAC, yang akan diselenggarakan beriringan, Pagelaran ini ekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional, termasuk sekitar 50 persen pelaku UMKM pada IFFINA.
Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Dalam ajang ini diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor, 15.000 pengunjung.
Selain itu, turut sejumlah 20 negara turut berpartisipasi, termasuk Australia, Kanada, China, Denmark, Finlandia, Prancis, Gabon, Jerman, Hong Kong, Indonesia, India, Itali, Malaysia, Singapura, Slovenia, Korea Utara, Sri Lanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat.
Mathias Küpper, selaku Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd menyebut, banyaknya peserta ini mencerminkan skala dan daya tarik internasional terhadap platform. “Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem terkoordinasi, Indonesia memperkuat efisiensi industrinya sekaligus meningkatkan daya saing sebagai pusat manufaktur regional,” ujar Mathias.
Ke depan, kata Mathias, keberhasilan memperkuat pasar domestik sekaligus membuka akses global bagi industri furnitur Indonesia bertumpu pada kolaborasi hexahelix antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan investor. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem industri yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga relevan, adaptif, dan berkelanjutan.

















