BUSINESS

Tertekan Geopolitik, Ekspor Furnitur dan Kerajinan Diramal Anjlok 22%

Pelaku industri didorong masuk ke pasar premium.

Tertekan Geopolitik, Ekspor Furnitur dan Kerajinan Diramal Anjlok 22%Produk furnitur dan kerajinan berbahan kayu serta rotan. (KemenkopUKM)
30 December 2023

Jakarta, FORTUNE - Kinerja Industri Furnitur dan Kerajinan nasional diperkirakan terkontraksi 22 persen sepanjang tahun ini. Situasi geopolitik dan inflasi besar di negara tujuan Ekspor menjadi sejumlah faktor penyebab penurunan.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel Dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur mengatakan, selain faktor tersebut, ada hal lain yang menyebabkan penurunan ekspor industrti furnitur dan kerajinan.  

Bila ditelisik secara mendalam, produk yang berasal dari Indonesia dinilai oleh buyers kurang bersaing, lantaran harganya cukup tinggi atau mahal dibandingkan produk dari Malaysia, Vietnam dan terutama China. Sehingga banyak dari pembeli lebih memprioritaskan berbelanja dari negara tersebut, kecuali untuk produk-produk khas Indonesia yang berbasis kayu solid, eksotis material seperti rotan, craft yang memiliki keunikan dan menjadi kekuatan produk Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, HIMKI mengungkapkan sejumlah strategi spesifik agar industri mebel dan kerajinan tetap bisa tumbuh, minimal bisa bertahan di tengah situasi yang tidak kondusif saat ini. 

"Target  yang kita canangkan bersama pemerintah untuk mencapai angka ekspor US$5 miliar hingga akhir 2024 sepertinya harus dikoreksi dengan fakta dan data yang tidak mendukung di lapangan," kata Sobur di Jakarta, Jumat (29/12).

Data ekspor mebel per september 2023 hanya mencapai US$1,29 miliar turun 30 persen dibandingkan 2021 yang tercatat US$1,86 miliar. Sedangkan, ekspor kerajinantahun ini diperkirakan hanya akan mencapai US$513 juta, menurun 21 persen dari tahun lalu yang mencapai US$647 juta. Dengan demikian, kinerja ekspor gabungan mebel dan kerajinan per September turun 28 persen menjadi US$1,8 miliar dari US$2,5 miliar  di periode yang sama tahun lalu.

"Dengan basis data tersebut kita bisa prediksi sampai akhir tahun 2023, angka optimis ekspor gabungan mebel dan kerajinan hanya akan mencapai US$2,5 miliar, menurun akumulasi 22 persen," katanya.

Data tersebut juga sejalan dengan data laporan yang dirilis Bank Indonesia yang mencatat penurunan signifikan di Provinsi Jatim dan Banten sebagai salah satu basis produksi engineering wood, yang merupakan bahan utama yang digunakan untuk produk mebel.

Proyeksi 2024

Dengan maraknya tantangan global, Sobur berharap industri mebel dan kerajinan masih dapat tumbuh 10 persen. Salah satu pendorongnya karena permintaan global dan stok belanja produk furnitur yang diperkirakan bakal kembali berulang dan potensi pasar di sejumlah emerging market seperti India dan negara timur tengah yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif dan menggeliatnya proyek properti.

HIMKI optimis dengan masa depan industri ini mengingat Indonesia memiliki potensi yang  besar. Indonesia memiliki peluang menjadi produsen mebel dan kerajinan terbesar di kawasan regional dan berpeluang menjadi yang terbesar di dunia, khususnya untuk produk-produk berbasis rotan.

Industri ini merupakan industri yang hampir sempurna karena didukung oleh ketersediaan bahan baku yang berlimpah dan SDM terampil dalam jumlah besar, dengan sentra-sentra produksi mebel dan kerajinan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, produk mebel dan kerajinan Indonesia juga memiliki nilai jual unik sebagai pemasok pasar furnitur global berakar pada sumber daya alamnya, tenaga kerja terampil, harga kompetitif, keragaman budaya, dan produksi berkelanjutan, sehingga sangat dicari di pasar furnitur global. 

Furnitur buatan Indonesia banyak dicari karena presisi dan desainnya yang kreatif, selain karakteristiknya yang berkualitas tinggi dan harga bersaing yang dapat diproduksi dengan teknologi global terkini.

Sobur juga mengungkap keinginannya mendorong produsen furnitur lokal masuk ke segmen premium, mengikuti jejak produk Italia. Dengan begitu, pelaku industri akan lebih bertahan dengan produknya yang ekslusif, ketimbang bermain dengan dengan produk massal dan bersaing di samudera merah (red ocean) yang sesak dengan pesaing, seperti Cina dan Vietnam.

9 Rekomendasi Kebijakan

HIMKI menargetkan ekspor mebel dan kerajinan bisa mencapai US$5 miliar pada tahun 2024. Namun, dalam merealisasikan target tersebut diperlukan dukungan dari berbagai pihak, yaitu pemerintah; pelaku usaha industri mebel dan kerajinan baik skala kecil, menangah, maupun besar; para desainer; dan stakeholder lainnya termasuk media dan organisasi
swasta lainnya yang concern terhadap perkembangan industri mebel dan kerajinan nasional. 

Oleh sebab itu, ada sembilan langkah yang harus dipenuhi untuk mencapai target ekspor sebesar US$ 5 Miliar pada tahun 2024. Kesembilan langkah tersebut sebagai berikut:

1. Kecukupan suplai bahan baku utama dan bahan penunjang
Ketersediaan bahan baku yang berkualitas dengan stabilitas harga menjadi faktor penentu daya saing industri mebel dan kerajinan. Untuk memenuhi kebutuhan kayu setidaknya 30 persen  dari jumlah kebutuhan sampai saat ini masih didatangkan dari Impor karena masih kurangnya pasokan kayu perkakas (kayu keras) dari kawasan hutan dalam negeri.
 
Untuk memenuhi kebutuhan kayu, HIMKI merekomendasikan Pemerintah segera mewajibkan pemegang HPH, HTI, dan pengelola Hutan Rakyat untuk menanam pohon jenis kayu perkakas (kayu keras) seperti jati dan mahoni dalam jumlah atau persentase tertentu (1-5 persen), serta memanfaatkan Hutan Produksi yang terbengkalai agar ditanami kayu perkakas untuk kebutuhan industri mebel dan kerajinan. 

2. Peremajaan alat dan teknologi produksi
Salah satu program unggulan Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian yang terbukti berdampak terhadap efisiensi, produktivitas, dan standarisasi kualitas adalah program restrukturisasi atau peremajaan mesin/peralatan.  

Pemerintah disarankan terus mempertahankan sekaligus meningkatkan kapasitas dan kualitas program, meningkatkan anggaran program dan memperluas cakupan jenis mesin untuk seluruh kategori industri mebel dan kerajinan dan menyederhanakan prosedur terutama untuk skala industri mebel dan kerajinan. 

3. Inovasi Dan Pengembangan Desain
Pengembangan desain dan inovasi produk salah satu kunci menghadapi ketatnya persaingan di pasar global. Industri mebel dan kerajinan (home decor) merupakan bagian dari industri kreatif yang menghasilkan produk dengan trend desain yang cepat berubah.

Untuk itu, Pemerintah dinilai perlu membangun sarana fasilitas penunjang atau Design Center yang terintegrasi dengan perlindungan desain (HAKI) di wilayah basis produksi sebagai
syarat terjadinya kemandirian dalam hal suplai desain. Selain itu fasilitas penunjang pengembangan desain harus dikelola secara profesional dan berkesinambungan. Bekerjasama dengan Asosiasi Pemerintah perlu menyelenggarakan pameran Good Design and Innovation yang di integrasikan dengan seminar/workshop.

4. Promosi dan pemasaran
Dengan mempertimbangkan tetap lemahnya permintaan pasar global terutama dari pasar negara maju yang menjadi tujuan utama ekspor mebel dan kerajinan Indonesia, Pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif.

Strateginya, Pemerintah meningkatkan anggaran biaya promosi untuk membantu industri dalam mencari alternatif pasar baru ke negara berkembang semisal India,Cina, negara Kawasan Timur Tengah, Afrika dan dan negara berkembang yang memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat.  Pemerintah juga dinilai perlu mendorong promosi terutama dilakukan melalui fasilitasi pameran bergengsi di negara maju dan berkembang. 

5. Peningkatan kompetensi SDM Industri
Keterbatasan tenaga kerja siap pakai yang memiliki kompetensi dan tersertifikasi akan berdampak pada rendahnya tingkat pertumbuhan industri dan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional.

Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan pelatihan, penyediaan fasilitas dan membangun training center yang terpadu dengan design centre di daerah sentral atau basis industri sebagai upaya meng-upgrade kualitas SDM sampai tingkat layak kompetensi dengan standar global.

6. Regulasi dan sistem pengupahan
Pemerintah dalam menyusun regulasi termasuk juga sistem pengupahan tenaga kerja nasional dan daerah untuk menjamin iklim usaha yang kondusif. Oleh sebab itu, HIMKI merekomendasikan Pemerintah meninjau ulang PP No. 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Perusahaan, Pengelolaan dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam. Hal ini memberatkan bagi perusahaan karena akan mengganggu cash flow dan modal perusahaan. Dalam melakukan penetapan pengupahan, Pemerintah harus melibatkan pelaku usaha.

7. Penurunan suku bunga
Penurunan suku bunga pinjaman perbankan pada level yang wajar amat penting sebagai dasar terwujudnya daya saing industri dan harga jual yang kompetitif di pasar global. Oleh karenanya, HIMKI meminta pemerintah (BI dan OJK) menurunkan suku bunga pinjaman perbankan pada level yang wajar dan bersaing dengan negara-negara lain.

8. Pengurangan Tarif Pajak
Penghapusan pajak bahan baku impor dan supporting Industri atau pengurangan pajak bagi seluruh bahan, komponen yang dapat mendukung pertumbuhan ekspor. Untuk itu, pemerintah diharapkan bisa menghapus pajak bahan baku impor dan supporting Industri atau pengurangan pajak bagi seluruh bahan, komponen yang dapat mendukung pertumbuhan ekspor.

9. Penegakkan hukum
Hingga saat ini praktik penyelundupan terumata rotan masih terjadi. Selain penyelundupan fisik disinyalir modus penyelundupan bahan baku yang dilarang dilakukan dengan penyalahgunaan aturan/ketentuan kepabeanan, seperti pelarian HS. 

Oleh sebab itu, pemerintah diminta memberantas tuntas penyelundupan rotan ke luar negeri secara konsisten dan menyeluruh serta memperkuat aksi pemantauan di lapangan. 

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.