Comscore Tracker
BUSINESS

Akibat Krisis Cip Semikonduktor, Pembeli Toyota Harus Inden

Toyota mencari penyuplai semikonduktor yang baru.

Akibat Krisis Cip Semikonduktor, Pembeli Toyota Harus IndenToyota all new Land Cruiser/Dok. TAM

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE – PT Toyota-Astra Motor mengatakan terbatasnya pasokan cip semikonduktor dunia membuat industri otomotif, khususnya roda empat di Indonesia, mengalami kendala. Beberapa kendaraan yang dibuat Toyota harus memakai skema inden atau konsumen harus menunggu meski sudah membayar.

“Jadi memang kita resminya masih ada inden, tapi kita selalu berusaha untuk bisa mengikuti kebutuhan customer dan kebuthan market,” kata Marketing Division Head PT Toyota-Astra Motor Lina Agustina di Menara Astra, Jakarta, Rabu (28/9).

Dengan keterbatasan semikonduktor, perusahaan tidak tinggal diam menunggu stoknya kembali pulih. Toyota mencari penyuplai semikonduktor yang baru, dan beberapa produk desain diubah agar menyesuaikan stok yang ada.

“Model kita ini cukup bervariasi dari segmen low sampai segmen yang lebih mewah. Model-model ini menggunakan semikonduktor yang beda-beda,” ujarnya.

Dia mengatakan keterbatasan semikonduktor memang menantang. Namun, perusahaan hingga kini masih dapat mengantisipasinya.

Efek harga BBM dan suku bunga BI

Isu lain yang melanda sektor otomotif adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi. Sebab, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada September 2022. Dengan begitu, suku bunga acuan dikerek sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen.

Kemudian, Pertamina menaikkan harga Pertalite menjadi Rp10 ribu per liter dari sebelumnya Rp7650 per liter, dan Pertamax naik ke Rp14.500 per liter.

Lina mengatakan sentimen ini belum terlalu berdampak terhadap penjualan mobil Toyota. Untuk saat ini permintaan akan unit baru masih tinggi. “Belum ada impact signifikan dalam jangka pendek,” ujarnya.

Untuk penjualan hingga Agustus 2022, Toyota mencatatkan 209 ribu unit. Torehan ini meningkat 20 persen bila dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Adapun penjualan secara keseluruhan brand roda empat telah mencapai 658 ribu unit, yang membuat Toyota menguasai pasar hingga 31 persen.

Tipe mobil yang paling banyak berhasil dijual Toyota adalah MPV dengan 58 persen, lantas SUV 28 persen, dan tipe lainnya 5 persen.

Kendati demikian, Lina menyebut kenaikan suku bunga dan harga BBM bakal berdampak ke penjualan pada jangka panjang mengingat kebanyakan orang membeli mobil dengan skema cicilan.

Untuk harga sendiri, Toyota juga belum berencana melakukan penyesuaian.

Penjualan mobil listrik Toyota

Dalam paparannya, Lina menyampaikan bahwa Toyota telah menjual 7.000 unit kendaraan listrik. Menurutnya, emisi karbon dapat ditekan sangat signifikan melalui kendaraan listrik, dibandingkan dengan mobil dengan bahan bakar gas.

Lina menyampaikan bahwa produksi mobil model hybrid mengikuti Peraturan Pemerintah (PP) 74/2021 yang mengatur kendaraan bermotor dengan teknologi battery electric vehicle dan fuel cell electric vehicle.

Related Articles