Comscore Tracker
BUSINESS

Krakatau Steel Raup Laba Rp384,23 Miliar pada Kuartal I-2022

Pendapatan juga naik 39,6 persen menjadi Rp9,78 triliun.

Krakatau Steel Raup Laba Rp384,23 Miliar pada Kuartal I-2022Shutterstock/TGeorge

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp384,23 miliar pada kuartal I-2022, naik 15,02 persen ketimbang periode sama tahun lalu yang Rp334 miliar.

Pendapatannya pun naik, mencapai Rp9,78 triliun atau membaik 39,6 persen menjadi Rp9,78 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

“Tahun 2022 ini, kami terus berfokus pada kelanjutan program restrukturisasi dan transformasi perusahaan. Dengan capaian kinerja yang baik di awal 2022, kami yakin Krakatau Steel akan semakin baik dibanding tahun 2021,” kata Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, dalam keterangan resmi, Rabu (28/4).

Dari sisi kuantitas tonase, penjualan pada periode ini naik 7,5 persen dari 492 kiloton (kT) menjadi 529 kT. Sisi produksinya naik 9,5 persen dari 483 kT pada 2021 menjadi 529 kT tahun ini.

Pada periode ini, Krakatau Steel Steel mencatatkan rekor penjualan ekspor pada Maret 2022 yang mencapai 116.406 ton. Selain itu, penjualan baja domestik juga meningkat dengan rekor pengiriman baja domestik yang mencapai 245.000 ton pada Maret 2022.

Dari sisi EBITDA, perseroan berhasil mencapai realisasi EBITDA hingga Maret 2022 sebesar Rp772,26 miliar.

Kinerja Krakatau Steel 2021

Pada akhir 2021, emiten berkode saham KRAS ini mencatatkan pendapatan bersih US$2,16 miliar dan laba bersih US$62,3 juta atau naik 165 persen dari 2020 yang pendapatannya US$1,35 miliar. Sementara itu, laba bersih tahun itu mencapai US$23,68 juta.

2020 menjadi tahun pertama Krakatau Steel menorehkan laba. Pada 2012-2019, perusahaan selalu rugi. Selain dapat profit, Krakatau Steel juga membayar cicilan pokok Rp3,2 triliun dan membuat utang banknya turun menjadi Rp28,51 triliun pada 2021.

Jalin kemitraan

Pada pengembangan industri hilir, Krakatau Steel menggandeng sejumlah pabrikan rekanan yang selama ini menerima pasokan bahan baku untuk mengembangkan produk hilir. Silmy menyebut upaya ini sebagai sharing economy, yakni memanfaatkan utilitas kapasitas industri hilir yang tidak terpakai untuk menghasilkan nilai tambah.

Hal itu sebelumnya telah diwujudkan dengan kerja sama antara Krakatau Steel dengan PT Tata Metal Lestari dalam pengembangan produk bangunan hunian berbahan dasar konstruksi baja modern.

"Kalau kami bangun pabrik sementara uang kami terbatas, maka KS akan mengalami kesulitan mewujudkan produk-produk hilir. Akhirnya kami mendapatkan ide, kenapa tidak meningkatkan kapasitas terpasang yang belum maksimal agar semakin efisien," ujarnya.

 

Related Articles