Comscore Tracker
BUSINESS

Laba Bersih Emiten Tambang Milik Bos MNC Moncer 344,75 Persen

IATA mengumpulkan laba bersih US$44,95 juta.

Laba Bersih Emiten Tambang Milik Bos MNC Moncer 344,75 Persenilustrasi pertambangan (unsplash.com/Dominik Vanyi)

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - Emiten grup MNC yang kini bergerak di bidang pertambangan batu bara, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), berhasil mencetak kinerja keuangan yang moncer sepanjang sembilan bulan pertama 2022.

Melansir laporan keuangan, emiten dalam kepemilikan Hary Tanoesoedibjo ini membukukan kenaikan laba bersih 344,75 persen secara tahunan. Kenaikan ini didukung oleh permintaan batu bara yang tetap kuat meski harganya telah melandai.

Dalam periode ini, IATA mengumpulkan laba bersih US$44,95 juta, 344,75 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laba bersih pada periode sama tahun lalu yang sebesar US$10,11 juta.

“Melesatnya kinerja IATA merupakan hasil dari langkah strategis perseroan yang mengalihkan fokus bisnisnya menjadi perusahaan yang bergerak di bidang energi dan investasi, dengan mengakuisisi PT Bhakti Coal Resources (BCR),” kata Head of Investor Relations IATA, Natassha Yunita, dalam keterangan yang dikutip Senin (24/10).

BCR merupakan perusahaan induk yang mengelola delapan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Tiga IUP sudah dalam tahap produksi dan IUP lainnya ditargetkan untuk beroperasi secara bertahap mulai tahun depan.

Laba bersih yang dicatatkan perusahaan tidak terlepas dari pendapatan yang mencapai US$137,62 juta per akhir September 2022. Jumlah ini melonjak 182,89 persen secara tahunan dari periode yang sama pada 2021 yang mencapai US$48,65 juta. Total pendapatan pada kuartal sama tahun lalu,  US$24,80 juta, lebih inferior 117,61 persen ketimbang kuartal III-2022.

EBITDA IATA pada sembilan bulan pertama 2022 pun tumbuh 215,20 persen mencapai US$63,41 juta. Pada kuartal III tahun lalu, EBITDA MNC Energy hanya US$20,12 juta.

Produksi batu bara perusahaan meningkat

Hingga akhir September 2022, IATA telah memproduksi lebih dari 3 juta ton batu bara. Volume tersebut 64,1 persen lebih tinggi daripada tahun lalu yang sebesar 1,8 juta ton. IATA menargetkan dapat memproduksi 10 juta ton pada 2023.

Volume produksi diharapkan terus meningkat seiring dengan bertambahnya cadangan terbukti hasil eksplorasi. “IATA optimistis cadangan batu bara untuk semua IUP setidaknya mencapai 600 juta ton,” ujarnya.

Hingga akhir September 2022, IATA telah menjual 2,9 juta ton batu bara. Penjualan diperkirakan bisa meningkat setelah BCR menandatangani kontrak pembelian jangka panjang dengan trader batu bara.

IATA masih akan terus ekspansif

Manajemen IATA memperkirakan dapat mengantongi tambahan pendapatan US$108,42 juta dari kontrak-kontrak tersebut dan akan terus memperbanyak kontrak pada masa mendatang.

IATA juga akan mencari peluang untuk akuisisi tambang baru dan menakar prospek lain yang berkaitan dengan energi terbarukan. Bisnis batu bara dipandang masih memiliki prospek positif di tengah berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina dan rencana pemangkasan produksi minyak 2 juta per barel per hari oleh anggota OPEC.

Manajemen IATA menyebutkan sumber energi alternatif yang murah akan tetap dicari, termasuk batu bara. Harga batu bara, meskipun telah turun dari titik tertinggi, masih bertahan di atas US$50 pada US$55,83, lebih tinggi 31,58 persen sejak awal 2022.

 

Related Articles