Comscore Tracker
BUSINESS

Airlangga Hartarto: Industri Sawit Ikut Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia jadi salah satu pemain terbesar di industri sawit.

Airlangga Hartarto: Industri Sawit Ikut Menopang Pertumbuhan EkonomiWikimedia Commons

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masuk jalur positif pada kuartal II dan III 2021. Hal ini tidak terlepas dari peran kelapa sawit, berkontribusi 15,6 persen dari total ekspor nonmigas, sekitar 3,5 persen terhadap PDB nasional.

“Saat ini industri sawit merupakan industri nasional yang mempunyai daya tahan dan ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam sebuah webinar, Kamis (18/11).

Kelapa sawit menjadi komoditas andalan untuk komoditas ekspor. Sebab, Indonesia saat ini menguasai 51 persen pangsa pasar sawit global, dan 10 persen dari total lahan sawit di dunia berada di Indonesia. 

"Industri kelapa sawit berkontribusi dalam penciptaan 16 juta lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung," ujarnya.

Peremajaan lahan sawit terus dilakukan

Airlangga mengatakan program peremajaan lahan sawit rakyat masuk ke dalam program strategis nasional. Hal itu berguna untuk meningkatkan produktivitas, serta luasan lahan.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen melakukan penanaman kembali lahan sawit seluas 540 ribu hektare tahun ini. “Diharapkan yang produktivitas kurang 4 ton bisa ditingkatkan dengan program replanting dan bibit unggul berbasis good agriculture practice,” ujarnya.

Pemerintah dorong hilirisasi kelapa sawit

Dia menyatakan pemerintah akan terus mendorong upaya hilirisasi atau pengembangan produk turunan kelapa sawit. Hal tersebut ditujukan agar Indonesia bisa menjadi penentu harga CPO global.

Pada awal November 2021, harga CPO mencapai US$1.435 per ton serta nilai tukar petani (NTP) meningkat dengan harga antara Rp2.800 per kilogram sampai dengan Rp3.000 per kilogram untuk tandan buah segar (TBS).

"Dari segi tantangan terdapat kompetisi minyak sawit yang semakin kompleks dengan berbagai hambatan non-tarif, seperti ISPO yang belum dianggap sama standarnya dengan RSPO dan masing-masing negara, termasuk Malaysia mempunyai standarnya sendiri yaitu MSPO," kata Airlangga.
 

Related Articles