Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

PwC: Keyakinan CEO terhadap Prospek Pendapatan Turun ke Level Terendah dalam 5 Tahun

Ilustrasi CEO memanfaatkan AI dalam mengambil keputusan (freepik.com/freepik)
Ilustrasi CEO memanfaatkan AI dalam mengambil keputusan (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Kepercayaan CEO terhadap pendapatan perusahaan turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir
  • 42 persen CEO menganggap transformasi teknologi, termasuk AI, sebagai kekhawatiran utama
  • Tingkat paparan risiko eksternal meningkat, dengan 20 persen CEO menyatakan paparan tinggi akibat tarif perdagangan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kepercayaan CEO terhadap prospek pendapatan perusahaan mereka turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Ini terjadi di saat para pemimpin bisnis menghadapi imbal hasil AI yang tidak merata, meningkatnya risiko geopolitik, serta ancaman siber yang kian intensif.

Berdasarkan PwC Global CEO Survey ke-29 yang melibatkan 4.454 CEO di 95 negara dan wilayah, hanya 30 persen CEO yang menyatakan percaya diri terhadap pertumbuhan pendapatan dalam 12 bulan ke depan.

Namun, angka ini turun dari 38 persen pada 2025 dan 56 persen pada 2022. Temuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks—dipengaruhi perubahan teknologi yang cepat, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan ekonomi—banyak perusahaan belum mampu menerjemahkan investasi menjadi kinerja keuangan yang konsisten.

Para CEO memiliki pertanyaan besar: apakah perusahaan mereka bertransformasi cukup cepat mengikuti perubahan teknologi, termasuk AI. Survei menunjukkan, 42 persen CEO menganggap hal ini sebagai kekhawatiran utama, jauh melampaui kekhawatiran terkait kemampuan inovasi maupun keberlanjutan jangka menengah hingga panjang (masing-masing 29 persen).

Meski eksperimen AI dilakukan secara luas, hanya 12 persen CEO yang menyatakan AI telah memberikan manfaat nyata baik dari sisi biaya maupun pendapatan. Secara keseluruhan, 33 persen melaporkan manfaat pada salah satu aspek tersebut, sementara 56 persen belum melihat dampak finansial yang signifikan.

Survei ini menunjukkan adanya kesenjangan yang kian lebar antara perusahaan yang sekadar menguji coba AI dan mereka yang telah menerapkannya secara masif. Sedangkan, CEO yang melaporkan manfaat biaya dan pendapatan dua hingga tiga kali lebih mungkin menyatakan AI telah terintegrasi luas dalam produk dan layanan, penciptaan permintaan, serta pengambilan keputusan strategis.

Perusahaan dengan kerangka Responsible AI dan infrastruktur teknologi yang memungkinkan integrasi lintas perusahaan tercatat tiga kali lebih mungkin meraih imbal hasil finansial yang bermanfaat.

Analisis terpisah PwC menunjukkan perusahaan yang menerapkan AI secara luas pada produk, layanan, dan pengalaman pelanggan mencatat margin laba hampir empat poin persentase lebih tinggi dibandingkan yang tidak.

“2026 akan menjadi tahun penentu bagi AI. Sebagian kecil perusahaan sudah mampu mengubah AI menjadi hasil finansial yang terukur, sementara banyak lainnya masih terjebak pada tahap uji coba. Kesenjangan ini mulai terlihat pada tingkat kepercayaan dan daya saing—dan akan semakin melebar bagi mereka yang tidak segera bertindak.” kata Ketua Global PwC, Mohamed Kande dalam keterangannya, Selasa (20/1)/

Tekanan tarif melemahkan kepercayaan

Kepercayaan CEO juga kian terkikis meningkatnya risiko eksternal. Satu dari lima CEO global (20 persen) menyatakan perusahaan mereka sangat atau ekstrem terpapar risiko kerugian finansial signifikan akibat tarif perdagangan dalam 12 bulan ke depan. Tingkat paparannya bervariasi, mulai dari 6 persen di Timur Tengah, 28 persen di Daratan Tiongkok, hingga 35 persen di Meksiko. Di Amerika Serikat, 22 persen CEO melaporkan paparan tinggi.

Kekhawatiran terhadap risiko siber meningkat tajam, di maana 31 persen CEO kini menyebutnya sebagai ancaman utama—naik dari 24 persen tahun lalu dan 21 persen dua tahun sebelumnya. Sebagai respons, 84 persen CEO berencana memperkuat keamanan siber di seluruh organisasi sebagai bagian dari mitigasi risiko geopolitik.

Kekhawatiran terhadap volatilitas makroekonomi (31 persen), disrupsi teknologi (24 perseb), dan geopolitik (23 persen) juga meningkat, sementara kekhawatiran terhadap inflasi sedikit menurun dari 27 persen menjadi 25 persen.

Di tengah prospek yang menantang, para CEO semakin memandang reinvensi bisnis sebagai kunci pertumbuhan. Lebih dari empat dari sepuluh CEO (42 persen) menyatakan perusahaan mereka telah masuk ke sektor baru dalam lima tahun terakhir. Di antara CEO yang merencanakan akuisisi besar, 44 persen menargetkan investasi di luar industri inti mereka, dengan sektor teknologi sebagai tujuan paling menarik.

Sedangkan, 51 persen CEO berencana melakukan investasi internasional dalam setahun ke depan. Amerika Serikat tetap menjadi tujuan utama, dengan 35 persen CEO menempatkannya dalam tiga pasar teratas. Inggris dan Jerman (masing-masing 13 persen) serta Tiongkok Daratan (11 persen) juga menonjol.

Minat terhadap India juga meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan, yang mana 13 persen CEO menempatkannya dalam tiga tujuan investasi utama.

Namun, tantangan eksekusi masih besar. Hanya satu dari empat CEO yang menyatakan organisasinya toleran terhadap risiko tinggi dalam proyek inovasi, memiliki proses disiplin untuk menghentikan inisiatif yang berkinerja buruk, atau mengoperasikan pusat inovasi maupun unit ventura korporasi yang jelas.

Keterbatasan waktu juga menjadi kendala. Para CEO melaporkan 47 persen waktu mereka dihabiskan untuk isu berdampak kurang dari satu tahun, sementara hanya 16 persen dialokasikan untuk keputusan lebih dari lima tahun.

Mohamed Kande mengatakan, masa di mana segalanya mengalami perubahan cepat, naluri untuk melambat bisa dimengerti—namun juga berisiko. Nilai yang dipertaruhkan dalam ekonomi global terus meningkat, sementara jendela untuk menangkapnya semakin menyempit.

“Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang berani mengambil keputusan besar dan berinvestasi dengan keyakinan pada kapabilitas yang paling penting,” ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Latest in Business

See More

PwC: Keyakinan CEO terhadap Prospek Pendapatan Turun ke Level Terendah dalam 5 Tahun

20 Jan 2026, 11:33 WIBBusiness