Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ELPI Kantongi Kontrak Rp816 Miliar, Ekspansi Global Dipercepat
Kapal- kapal yang dioperasikan PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI).
  • ELPI mengantongi kontrak domestik dan internasional senilai sekitar Rp816,28 miliar hingga awal semester II-2026, memperkuat ekspansi bisnis offshore di tengah tekanan industri maritim.
  • Pendapatan ELPI semester I-2026 turun menjadi Rp430,35 miliar dari Rp543,65 miliar, karena kontrak jangka panjang diakui bertahap serta penundaan proyek dan kenaikan biaya operasional.
  • Rights issue Rp739,34 miliar digunakan untuk menambah dan meremajakan armada; ELPI juga memperluas pasar melalui entitas Singapura dan kontrak Malaysia senilai Rp234,34 miliar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) memperluas pijakan bisnis offshore ke pasar internasional setelah mengantongi sejumlah kontrak baru hingga memasuki semester II-2026. Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan armada yang didukung dana hasil rights issue senilai Rp739,34 miliar.

Sepanjang semester I-2026, ELPI memperoleh kontrak domestik senilai Rp276,04 miliar dan kontrak internasional Rp306,71 miliar. Dengan tambahan kontrak yang diperoleh setelah periode tersebut, nilai kontrak perseroan hingga awal semester II-2026 mencapai sekitar Rp816,28 miliar.

Perolehan tersebut menjadi salah satu modal ELPI untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan industri maritim dan melemahnya pendapatan perseroan pada paruh pertama tahun ini.

”Alhamdulillah, di tengah dinamika industri yang cukup menantang sepanjang tahun 2026, ELPI kembali menunjukkan daya saingnya baik di pasar domestik maupun internasional melalui perolehan sejumlah kontrak jangka panjang. Ini menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan klien terhadap kapasitas operasional perseroan tetap terjaga,” ujar Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo dalam keterangan resminya, Senin (17/8).

Meski kontrak baru terus bertambah, dampaknya belum seluruhnya tercermin dalam laporan keuangan semester I-2026. Hal ini karena sebagian kontrak ELPI memiliki tenor panjang sehingga pendapatan baru dicatat secara bertahap mengikuti periode pengerjaan. Hingga Juni 2026, ELPI membukukan pendapatan Rp430,35 miliar. Angka tersebut turun dari Rp543,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan ELPI, Efilya Kusumadewi, mengatakan karakteristik kontrak jangka panjang menjadi salah satu faktor yang membuat bisnis offshore memiliki tingkat kestabilan lebih baik dibandingkan segmen dry bulk.

”Karakteristik kontrak jangka panjang seperti ini menjadi salah satu keunggulan segmen offshore dibandingkan dry bulk, karena skema kontrak dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) umumnya lebih stabil terhadap fluktuasi harga komoditas maupun gejolak pasar jangka pendek,” kata Efilya.

Direktur Utama ELPI, Eka Taniputra, mengatakan di tengah koreksi kinerja tersebut, manajemen menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pertumbuhan, termasuk memperkuat struktur permodalan melalui aksi korporasi.

”Kami memandang koreksi kinerja pada semester ini sebagai bagian dari dinamika eksternal yang memang tidak dapat dihindari oleh pelaku industri maritim secara umum,” ujar Eka.

Eka menambahkan, tekanan bisnis turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun konflik di kawasan tersebut tidak secara langsung mengganggu kegiatan operasional ELPI, perubahan harga minyak dan keputusan investasi perusahaan energi berdampak pada sejumlah proyek perseroan.

Sejumlah proyek bahkan harus mengalami penundaan hingga pembatalan. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan biaya operasional, terutama di kawasan Asia Pasifik yang mencapai sekitar US$50 lebih tinggi dibandingkan Middle East karena proses eksplorasi yang lebih kompleks.

Rencana rights issue dan mengejar kontrak baru

Untuk memperkuat kapasitas ekspansi, ELPI telah menyelesaikan proses Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) pada 23 Juli 2026. Aksi tersebut menghasilkan dana Rp739,34 miliar. Selama periode perdagangan HMETD pada 10–16 Juli 2026, sebanyak 99,90 persen saham yang ditawarkan telah diserap investor.

Sisa saham kemudian terserap melalui mekanisme pemesanan tambahan atau pooling pada 21 Juli 2026. Tingkat permintaan mencapai 39,79 kali dari saham yang tersedia.

Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk mendukung ekspansi, termasuk menambah dan meremajakan armada. Langkah ini terutama diarahkan untuk memperbesar kapasitas ELPI di segmen offshore ketika kondisi pasar kembali membaik. Strategi tersebut juga berjalan seiring dengan upaya perseroan memperluas jejak geografis. ELPI telah membentuk dua entitas anak di Singapura, yakni ELPI International dan ELPI Samudra Offshore.

"Di sisi lain, perseroan juga terus memperluas jangkauan bisnisnya ke pasar internasional. Salah satunya dilakukan melalui pembentukan dua entitas anak di Singapura, yaitu ELPI International dan ELPI Samudra Offshore, sebagai bagian dari langkah perseroan untuk memperkuat kehadirannya di pasar internasional,” kata Eka.

Ekspansi internasional tersebut mulai menghasilkan peluang kontrak baru. Chief Operating Officer ELPI International, Dave Ritandhaka, mengatakan perseroan tengah menjajaki sejumlah proyek yang berpotensi direalisasikan pada semester II-2026.

Nilai peluang kontrak yang sedang dibidik mencapai sekitar US$1,50 juta atau Rp15,73 miliar, berdasarkan asumsi kurs Rp15.731 per dolar AS. Selain kontrak yang telah terealisasi, perseroan juga tengah menjajaki potensi kontrak baru senilai estimasi US$1,50 juta yang ditargetkan dapat terealisasi pada semester II-2026.

"Ini sejalan dengan strategi jangka panjang perseroan untuk terus meningkatkan utilisasi armada dan memperluas portofolio kontrak baru, sekaligus melengkapi rencana ekspansi armada yang didukung oleh dana hasil rights issue,” ujarnya.

Selain peluang tersebut, ELPI telah mengamankan kontrak baru di NMB Field melalui entitas anaknya di Malaysia. Kontrak tersebut bernilai 53,4 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp234,34 miliar dengan asumsi kurs Rp4.388 per ringgit.

”Kontrak ini bernilai 53,4 juta ringgit Malaysia. Ini menjadi bukti konkret bahwa strategi penguatan portofolio kontrak internasional perseroan terus membuahkan hasil, sekaligus memperkuat utilisasi armada di segmen offshore,” ujar Dave.

Dengan kombinasi kontrak baru, ekspansi lintas negara, dan tambahan modal dari rights issue, ELPI kini mengarahkan pertumbuhan pada bisnis offshore yang memiliki kontrak lebih panjang. Tantangannya adalah memastikan ekspansi armada dan kontrak internasional tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan utilisasi aset secara berkelanjutan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article