Jakarta, FORTUNE - PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) memperluas pijakan bisnis offshore ke pasar internasional setelah mengantongi sejumlah kontrak baru hingga memasuki semester II-2026. Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan armada yang didukung dana hasil rights issue senilai Rp739,34 miliar.
Sepanjang semester I-2026, ELPI memperoleh kontrak domestik senilai Rp276,04 miliar dan kontrak internasional Rp306,71 miliar. Dengan tambahan kontrak yang diperoleh setelah periode tersebut, nilai kontrak perseroan hingga awal semester II-2026 mencapai sekitar Rp816,28 miliar.
Perolehan tersebut menjadi salah satu modal ELPI untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan industri maritim dan melemahnya pendapatan perseroan pada paruh pertama tahun ini.
”Alhamdulillah, di tengah dinamika industri yang cukup menantang sepanjang tahun 2026, ELPI kembali menunjukkan daya saingnya baik di pasar domestik maupun internasional melalui perolehan sejumlah kontrak jangka panjang. Ini menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan klien terhadap kapasitas operasional perseroan tetap terjaga,” ujar Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo dalam keterangan resminya, Senin (17/8).
Meski kontrak baru terus bertambah, dampaknya belum seluruhnya tercermin dalam laporan keuangan semester I-2026. Hal ini karena sebagian kontrak ELPI memiliki tenor panjang sehingga pendapatan baru dicatat secara bertahap mengikuti periode pengerjaan. Hingga Juni 2026, ELPI membukukan pendapatan Rp430,35 miliar. Angka tersebut turun dari Rp543,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan ELPI, Efilya Kusumadewi, mengatakan karakteristik kontrak jangka panjang menjadi salah satu faktor yang membuat bisnis offshore memiliki tingkat kestabilan lebih baik dibandingkan segmen dry bulk.
”Karakteristik kontrak jangka panjang seperti ini menjadi salah satu keunggulan segmen offshore dibandingkan dry bulk, karena skema kontrak dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) umumnya lebih stabil terhadap fluktuasi harga komoditas maupun gejolak pasar jangka pendek,” kata Efilya.
Direktur Utama ELPI, Eka Taniputra, mengatakan di tengah koreksi kinerja tersebut, manajemen menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pertumbuhan, termasuk memperkuat struktur permodalan melalui aksi korporasi.
”Kami memandang koreksi kinerja pada semester ini sebagai bagian dari dinamika eksternal yang memang tidak dapat dihindari oleh pelaku industri maritim secara umum,” ujar Eka.
Eka menambahkan, tekanan bisnis turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun konflik di kawasan tersebut tidak secara langsung mengganggu kegiatan operasional ELPI, perubahan harga minyak dan keputusan investasi perusahaan energi berdampak pada sejumlah proyek perseroan.
Sejumlah proyek bahkan harus mengalami penundaan hingga pembatalan. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan biaya operasional, terutama di kawasan Asia Pasifik yang mencapai sekitar US$50 lebih tinggi dibandingkan Middle East karena proses eksplorasi yang lebih kompleks.
