Comscore Tracker
BUSINESS

Progres Konstruksi Smelter Freeport di Gresik Capai 32,5 Persen

Smelter ditargetkan beroperasi Mei 2024.

Progres Konstruksi Smelter Freeport di Gresik Capai 32,5 PersenSuasana pertambangan di Freeport Indonesia. (dok. PTFI)

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan progres pembangunan smelter tembaga di kawasan ekonomi khusus (KIK) di JIEE Gresik, Jawa Timur, telah mencapai 32,5 persen pada awal Juli 2022. Akhir tahun ini, progres pembangunan fasilitas pengolahan tersebut ditargetkan mencapai 50 persen.

"Kami telah mengeluarkan US$1 miliar dari total investasi (US$3 miliar)," ujarnya dalam talk show yang disiarkan SEA Today News, Kamis (8/7).

Jika tak ada aral melintang, akhir 2023 diharapkan pembangunan konstruksi smelter mencapai 100 persen sehingga dapat mulai beroperasi di 2024. "Harapannya pada Mei 2024 kita dapat mulai memproduksi katoda tembaga dari smelter ini," tuturnya.

Meski demikian, nantinya smelter single line yang disebut-sebut terbesar di dunia itu juga akan mengolah produk logam mulia lain seperti emas dan perak. Produk tersebut nantinya akan dihasilkan dari lumpur anoda sisa pengolahan katoda tembaga.

"Saat ini smelter Freeport di Gresik (PT Smelting) hanya memproduksi katoda tembaga sementara lumpur anoda yang masih mengandung emas dan perak diekspor," jelasnya.

Potensi pendapatan

Sebagai informasi, fasilitas smelter baru PT Freeport Indonesia tersebut ditaksir mampu mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahunnya, dan merupakan single line terbesar di dunia dengan produksi 600 ribu ton tembaga.

Dengan asumsi nilai tembaga yang berada pada angka US$9.400 per metrik ton saja, potensi pendapatan dari smelter tersebut bisa mencapai US$5,4 miliar per tahun. Kini harga tembaga terus bullish dan bertahan di atas US$100.

Selain tembaga, fasilitas itu juga menyediakan pemurnian logam berharga seperti emas dan perak dari lumpur anoda baik yang dihasilkan dari smelter PT Smelting maupun hasil pengolahan sendiri. Dengan biaya investasi US$200 juta, fasilitas itu diprediksi bisa menghasilkan 35-54 ton emas per tahun.

Dengan asumsi harga emas US$1.700 per troy ounce dan produksi yang dapat dicapai sebesar 35 ton, maka total pendapatan yang bisa dihasilkan sekitar US$1,8 miliar per tahun. 

Related Articles