Bali, FORTUNE — Di tengah modernisasi pariwisata Bali, Desa Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, masih mempertahankan satu tradisi yang telah diwariskan lintas generasi: produksi garam tradisional. Warisan budaya yang dikenal sebagai Garam Les atau garam palungan itu kini tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari strategi wisata berbasis budaya dan pemberdayaan ekonomi desa.
Desa Les, yang masuk dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) sejak 2024, berupaya mengintegrasikan potensi ekonomi lokal, budaya, alam, hingga edukasi dalam satu ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Garam tradisional menjadi salah satu ikon utama yang memperkuat identitas desa tersebut.
Ladang-ladang garam Desa Les membentang di pesisir pantai utara Bali. Berbeda dengan produksi garam modern, proses pembuatan Garam Les masih mengandalkan air laut, media tanah pesisir, serta panas matahari. Teknik ini menghasilkan karakter rasa dan kandungan mineral yang menjadi ciri khas produk tersebut.
Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les, Nyoman Nadiana, mengatakan metode pembuatan Garam Les diyakini memiliki jejak akulturasi budaya yang kuat dengan Cina. Letak Desa Les yang berada di jalur perdagangan kuno di pesisir utara Bali disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan teknik tersebut.
“Jadi ini memang jalur perdagangan, kuat diduga Cina memang berakulturasi dengan kita, makannya setiap upacara pakai uang keping Cina termasuk kuat diduga ngasih tau teknik pembuatan garam ini,” kata pria yang akrab disapa Don Rare itu saat dikunjuni Fortune Indonesia, Jumat (5/6).
Proses pembuatan garam diawali dengan menyiram air laut ke petak-petak tanah pesisir yang telah dibentuk khusus. Penyiraman dilakukan berulang kali hingga tanah menyerap kandungan garam dari air laut. Campuran tanah dan air laut tersebut kemudian disaring menggunakan wadah berbentuk kerucut atau kukusan yang ditempatkan di atas batang kelapa berbentuk palung atau perahu, yang menjadi asal-usul sebutan garam palungan.
Air hasil penyaringan selanjutnya dijemur hingga mengkristal menjadi garam. Menurut Don Rare, proses tradisional tersebut menjadi pembeda utama Garam Les dengan garam yang diproduksi melalui metode evaporasi biasa.
“Sebulan setengah, dua bulan, dia akan taruh unsur hara tanah baru. Beberapa ember saja. Jadi proses pembuatan Garam Les adalah sangat tradisional, setelah itu menggunakan media tanah. Ini yang terpenting. Karena beberapa tempat kebanyakan itu air laut ditampung beberapa saat. Baru disemai. Makanya rasanya pasti sangat pahit,” katanya, menjelaskan.
Ia menambahkan, campuran tanah pesisir dan air laut yang digunakan bukanlah tanah kotor, melainkan medium yang memperkaya kandungan mineral dalam garam. “Karena ada kandungan mineral baik tanah sama mineral baik air laut,. Jadi ini perpaduannya segara dan tanah. Ada unsur pertiwi di sini,” ujarnya.
