Jakarta, FORTUNE - Gelombang ekspansi merek minuman asal Cina kembali menunjukkan babak baru. Setelah Mixue dan deretan pemain es krim berharga terjangkau mendominasi ruang ritel dengan strategi pembukaan gerai masif, kini hadir generasi baru pemain artisan milk tea, seperti Chagee, Sancha, Molly Tea, hingga Auntea Jenny. Deretan gerai itu mengambil jalur berbeda: lebih selektif, lebih berorientasi citra, dan bermain pada logika nilai, bukan semata volume.
Fenomena ini mencerminkan divergensi strategi dalam industri F&B Cina yang semakin matang. Yuswohady, Managing Partner Inventure sekaligus pakar pemasaran, menyebut perbedaan antara model Mixue dan Chagee sebagai dua pendekatan berbeda.
“Perbedaan strategi ekspansi antara brand ice cream, seperti Mixue, Wedrink, Bingxue, dan brand artisan milk tea seperti Chagee, Molly Tea, Sancha hingga Auntea Jenny mencerminkan dua mazhab marketing yang bertolak belakang," ujarnya, Kamis (8/1).
Di satu sisi, merek seperti Mixue memang memaksimalkan penetrasi pasar melalui pembukaan gerai skala besar, harga terjangkau, dan visibilitas tinggi. Strategi ini menempatkan outlet sebagai mesin transaksi dengan lokasi fleksibel, desain seragam, dan orientasi kuat pada penjualan harian.
Sementara itu, pemain artisan milk tea datang dengan pendekatan berbeda. Mereka menempatkan pertumbuhan bukan pada seberapa cepat ekspansi terjadi, tetapi pada kualitas persepsi yang terbentuk di benak konsumen.
Yuswohady menjelaskan, “Sebaliknya, merek seperti Chagee mengejar nilai persepsi. Ekspansi dilakukan selektif, dengan tujuan membangun citra, bukan sekadar menjual unit.”
Perbedaan tersebut berlanjut pada strategi harga dan komunikasi. “Merek seperti Mixue mengandalkan price-led marketing: murah, promo agresif, dan konsistensi rasa standar. Harga adalah magnet,” ujarnya. Sementara itu, pada kelompok artisan milk tea, harga justru diposisikan sebagai sinyal kualitas, dengan promosi yang dikemas melalui storytelling, estetika, dan experience.
Fungsi gerai pun berubah peran. Pada merek artisan milk tea , outlet adalah media branding. Terlihat dari interior estetis, lokasi prestisius, dan menawarkan pengalaman minum teh sebagai bagian dari gaya hidup. Ia merangkum kontrasnya secara sederhana, “Singkatnya, mazhab merek seperti Mixue bermain di logika ‘sebanyak mungkin, semurah mungkin’. Sementara mazhab Caghee ‘tidak untuk semua orang, tapi sangat berarti bagi targetnya.’”
