Jakarta, FORTUNE – Menjadi pemimpin pasar di Indonesia belum otomatis membuat sebuah perusahaan siap bersaing di panggung global. Ketika ekspansi lintas negara mulai menjadi agenda pertumbuhan, perusahaan harus menghadapi tantangan baru, mulai dari penyesuaian strategi, tata kelola, komunikasi, hingga kemampuan membaca karakter konsumen di setiap pasar.
APAC Senior Strategy Director TRIPTK, Laura Tan, mengatakan keberhasilan yang membawa sebuah perusahaan menjadi pemain kuat di pasar domestik belum tentu menjadi bekal yang sama ketika bisnis memasuki negara lain. Menurut dia, perusahaan perlu mengevaluasi kembali fondasi bisnis dan cara membangun merek sebelum memperluas jangkauan secara internasional. “Apa yang sangat beresonansi di pasar lokal belum tentu merepresentasikan merek secara tepat di pasar internasional,” kata Laura dalam wawancara khusus dengan Fortune Indonesia, Rabu (22/7).
Menurut Laura, perusahaan yang ingin menjadi pemain global perlu memperhatikan aspek yang mungkin sebelumnya tidak terlalu menonjol di pasar domestik. Hal tersebut mencakup rantai pasok, praktik pengadaan sumber daya, keberlanjutan, hingga kebijakan perekrutan dan inklusivitas tenaga kerja.
Dengan demikian, ekspansi bukan sekadar membawa produk yang sudah sukses di Indonesia ke negara lain. Perusahaan juga perlu memastikan telah memiliki fondasi dan standar komunikasi yang sesuai dengan ekspektasi sebuah merek internasional. “Perusahaan harus bertanya apakah mereka sudah memiliki fondasi dan cara berkomunikasi layaknya brand internasional,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks bagi perusahaan Indonesia yang tumbuh sebagai bisnis keluarga dan memiliki portofolio usaha yang beragam. CEO & Co-Founder H/Advisors Klareco, Ang Shih Huei, menilai karakter tersebut sekaligus menjadi kekuatan dan tantangan dalam proses transformasi.
Ia mengapresiasi karakter perusahaan Indonesia yang dinilai memiliki jiwa kewirausahaan, kreativitas, dan kemampuan berinovasi. Namun, keberagaman lini bisnis dapat membuat perusahaan kesulitan membangun identitas korporasi yang jelas apabila tidak memiliki arah bersama.
“Pada dasarnya orang Indonesia terbukti sangat memiliki jiwa kewirausahaan, kreatif, dan inovatif dalam menjalankan bisnis. Namun, salah satu tantangan terbesar yang saya lihat adalah kombinasi antara bisnis yang dipimpin keluarga dan keberagaman bisnisnya,” kata Shih Huei.
Menurut dia, perusahaan dengan banyak lini bisnis membutuhkan tujuan bersama yang mampu mengikat seluruh unit usaha. Nilai seperti kualitas, keamanan, maupun kreativitas dapat menjadi benang merah untuk membangun identitas korporasi, sekaligus membantu perusahaan mengomunikasikan berbagai bisnisnya secara lebih konsisten. Tantangan lain muncul dari pola pengambilan keputusan yang masih sangat terpusat pada pendiri. Menurut Shih Huei, perusahaan yang memasuki fase ekspansi perlu mulai membangun sistem yang lebih terinstitusionalisasi, termasuk dalam perencanaan suksesi dan pengambilan keputusan.
“Banyak kendali berada di tingkat atas bersama pendiri, kemudian ada kebutuhan untuk menyiapkan suksesi dan merangkul cara kerja yang lebih terinstitusionalisasi, bukan lagi semuanya bergantung pada satu pengambil keputusan,” katanya.
Ia menilai perubahan tersebut menjadi semakin penting ketika perusahaan Indonesia mulai bergerak ke pasar internasional. Kebiasaan untuk menjaga privasi dan tidak terlalu aktif berbicara mengenai perusahaan juga perlu ditinjau kembali. “Ketika generasi berikutnya mengambil alih dan krisis saat ini mendorong merek-merek Indonesia untuk semakin aktif secara internasional, mereka harus memikirkan kembali berbagai kebiasaan yang selama ini mereka jalankan,” ujarnya.
