JLL: AI Picu Ekspansi Data Center Global, Investasi Tembus US$3 T

- Beban kerja AI diperkirakan mencakup sekitar 50 persen dari total kapasitas data center global pada 2030, dibandingkan sekitar 25 persen pada 2025. JLL
- Meski permintaan data center meningkat, indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko bubble (gelembung). Analisis JLL mencatat sektor ini masih memiliki fundamental yang sehat.
- Kawasan Amerika diperkirakan tetap menjadi wilayah data center terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 50% dari total kapasitas global, serta mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030. Kawasan Asia Pasifik diprediksi akan berkembang dari
Jakarta, FORTUNE – Sektor data center global diperkirakan akan terus mengalami ekspansi signifikan. Berdasarkan laporan Global Data Center Outlook 2026 terbaru dari JLL, kapasitas global data center diperkirakan hampir dua kali lipat, dari 103 GW menjadi 200 GW pada 2030.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat ini menjadi pendorong utama perubahan industri data center, dengan beban kerja AI diperkirakan akan mencakup sekitar 50 persen dari total kapasitas global pada 2030. Meski tumbuh cepat, fundamental sektor ini dinilai tetap sehat dan indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko gelembung pasar.
Sejalan dengan pertumbuhan data center tersebut, total investasi yang diperlukan diperkirakan mencapai hingga US$3 triliun dalam lima tahun ke depan. Nilai tersebut mencakup US$1,2 triliun peningkatan nilai aset properti serta sekitar US$870 miliar pembiayaan utang baru, menandai dimulainya fase supercycle investasi infrastruktur.
“Kami sedang menyaksikan transformasi paling signifikan pada infrastruktur data center sejak migrasi cloud pertama kali terjadi,” ujar Matt Landek, Global Division President, Data Centers and Critical Environments di JLL. “Skala permintaan yang muncul sangat luar biasa. Hyperscaler mengalokasikan hingga US$1 triliun untuk belanja data center pada periode 2024 hingga 2026. Di saat yang sama, keterbatasan pasokan dan lamanya proses koneksi jaringan listrik hingga empat tahun menciptakan kondisi yang menantang dan secara mendasar membentuk ulang pendekatan kami terhadap pengembangan, sumber energi, dan strategi pasar.”
Perkembangan global ini tercermin dalam prospek pasar Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan industri data center Indonesia akan tumbuh sekitar 14 persen per tahun hingga 2028, didukung pesatnya pertumbuhan jumlah pengguna internet. Sejalan dengan itu, Bank Dunia memproyeksikan permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8 persen per tahun, yang menegaskan kuatnya fundamental jangka panjang sektor ini.
“Pasar investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengalami tren diversifikasi. Investor semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang, dengan data center muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.
AI mendorong transformasi
Beban kerja AI diperkirakan mencakup sekitar 50 persen dari total kapasitas data center global pada 2030, dibandingkan sekitar 25 persen pada 2025. JLL Adapun, 2027 diperkirakan bakal menjadi titik krusial di mana kebutuhan AI inference melampaui training sebagai kebutuhan utama.
“Kami melihat munculnya paradigma infrastruktur baru, di mana fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” ujar Andrew Batson, Global Head of Data Center Research di JLL.
Di luar aspek ekonomi, AI kini telah menjadi isu strategis nasional, yang mendorong berbagai negara untuk mengembangkan kapabilitas domestik melalui investasi infrastruktur yang didukung pemerintah dengan peluang belanja modal (capex) hingga US$8 miliar pada 2030.
Kontribusi pendapatan dari chip AI diproyeksikan meningkat dari sekitar 20 persen menjadi 50 persen dari total pasar semikonduktor pada 2030. Pada saat yang sama, custom silicon diperkirakan akan menguasai sekitar 15 persen pangsa pasar, seiring hyperscaler mengembangkan prosesor mereka sendiri. Ke depan, teknologi baru seperti neuromorphic computing juga berpotensi berkembang untuk kebutuhan inference yang sangat efisien, sehingga dapat menurunkan kebutuhan infrastruktur dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi pada data center.
Di Indonesia, percepatan adopsi AI turut mendorong meningkatnya permintaan akan infrastruktur digital yang scalable dan berkapasitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Pola pertumbuhan regional
Kawasan Amerika diperkirakan tetap menjadi wilayah data center terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 50% dari total kapasitas global, serta mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030. Kawasan Asia Pasifik diprediksi akan berkembang dari 32 GW menjadi 57 GW, sementara Eropa, Timur Tengah, dan Afrika akan tumbuh sekitar 13 GW kapasitas baru.
Setiap kawasan menghadapi dinamika pasar yang berbeda dan akan membentuk strategi pengembangannya masing-masing. Di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), pertumbuhan data center banyak ditopang oleh permintaan yang kuat dari hyperscaler, dengan aktivitas terkonsentrasi di pusat-pusat data center Eropa yang telah mapan seperti London, Frankfurt, dan Paris, serta di pasar Timur Tengah yang tengah menjalankan agenda transformasi digital.
Sementara di kawasan Amerika, Amerika Serikat tetap menjadi penggerak utama aktivitas data center dengan kontribusi sekitar 90 persen dari total kapasitas regional.
Untuk Asia Pasifik, pertumbuhan sektor ini terutama dipimpin oleh data center kolokasi, sementara kapasitas on-premise diperkirakan turun sekitar 6 persen seiring berlanjutnya migrasi perusahaan ke layanan cloud.
Adapun, di Asia Tenggara, Indonesia semakin menonjol sebagai salah satu pasar pertumbuhan utama. Kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta selalu relevan karena kedekatannya dengan pusat konektivitas internet utama (internet exchange point). Di luar Jabodetabek, wilayah seperti Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler berkat keberadaan kawasan industri yang telah berkembang serta akses ke sumber listrik mandiri. Sementara Batam semakin dilirik sebagai calon hub data center regional karena keunggulan konektivitasnya.
Fundamental pasar
Meski permintaan data center meningkat, indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko bubble (gelembung). Analisis JLL mencatat sektor ini masih memiliki fundamental yang sehat, dengan tingkat okupansi global mencapai 97 persen dan sekitar 77 persen dari proyek yang sedang dibangun telah memiliki komitmen penyewa.
Tarif sewa global diperkirakan mencatat pertumbuhan rata-rata 5 persen per tahun hingga 2030, dengan kawasan Amerika memimpin pertumbuhan sekitar 7 persen per tahun akibat keterbatasan pasokan yang signifikan.
Meskipun pengembang telah melakukan pemesanan material hingga 24 bulan lebih awal, lebih dari separuh proyek pada 2025 tetap mengalami keterlambatan konstruksi selama tiga bulan atau lebih. Rata-rata waktu tunggu peralatan secara global kini mencapai 33 minggu, meningkat sekitar 50 persen dibandingkan sebelum 2020.
Untuk merespons kondisi ini, industri kini mulai mengadopsi solusi konstruksi modular, dengan penjualan tahunan sistem modular dan micro data center secara global diperkirakan mencapai US$48 miliar pada 2030.
“Peningkatan waktu tunggu peralatan juga dirasakan di Asia Pasifik sebagaimana di kawasan lain, namun tingginya tingkat pre-commitment menunjukkan kepercayaan pasar yang tetap kuat,” ujar Glen Duncan, Data Center Research Director JLL Asia Pacific.
Di Indonesia, transformasi digital yang berkelanjutan, peningkatan penetrasi internet, serta fundamental permintaan yang positif terus memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor data center.


















