Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Keberlanjutan Susu Lokal Ala Nestlé Indonesia

Keberlanjutan Susu Lokal Ala Nestlé Indonesia
Inisiatif Nestlé dalam memberikan pelatihan, bantuan teknis, dan dukungan kepada peternak sapi perah rakyat. (Dok. Nestle Indonesia)
Intinya Sih
  • Nestlé Indonesia membangun kemitraan berkelanjutan dengan peternak sapi perah lokal sejak 1975.

  • Melalui pendampingan teknis dan jaminan harga layak, Nestlé membantu peternak meningkatkan produktivitas lewat inovasi seperti kipas kandang, sistem ventilasi tertutup, serta pengelolaan pakan yang efisien.

  • Program keberlanjutan mencakup penerapan biogas, pupuk organik, dan akses pembiayaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE – Di balik kemasan ikonik Bear Brand atau kepulan aroma Nescafé yang menemani pagi masyarakat Indonesia, tersirat sejarah panjang tentang kedaulatan bahan baku. Syahdan, sejak Henri Nestlé merintis bisnisnya di Vevey, Swiss, pada 1867, produk susu telah menjadi tulang punggung korporasi ini. Namun, di Indonesia, Nestlé tidak sekadar berdagang; mereka melakukan sebuah eksperimen sosial-ekonomi yang kini genap berusia lima dekade.

Seiring menguatnya tuntutan industri terhadap praktik keberlanjutan, Nestlé Indonesia kian mempererat cengkeraman rantai pasoknya pada peternak sapi perah lokal. Langkah ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan upaya memastikan setiap tetes bahan baku susu mereka berakar dari tanah sendiri.

Kolaborasi ini bermula pada 1975. Kala itu, para peternak yang terhimpun dalam Koperasi Susu SAE di Kecamatan Pujon, Malang, mulai memasok susu segar untuk pabrik pertama Nestlé di Waru, Sidoarjo. Padahal, saat itu peternakan di Jawa Timur lebih gandrung pada sapi potong. Sapi perah dipandang sebelah mata lantaran dianggap tak menghasilkan pundi-pundi yang menjanjikan.

“Kami berangkat dari beberapa peternak dan beberapa ekor sapi perah pada masa itu,” demikian Syahrudi, Head Sustainable AgriServices Advisor Nestlé Indonesia, saat berbincang dengan Fortune Indonesia.

Pujon pun berubah menjadi laboratorium hidup. Tantangan terbesarnya bukan pada perluasan kemitraan, melainkan mengubah paradigma peternak.

“Tantangan terberat justru pada fase awal: meyakinkan peternak untuk memulai usaha,” ujar Syahrudi.

Beternak sapi perah memang menuntut ketelatenan tinggi, mulai dari urusan pakan hingga higienitas kandang yang ketat.

Nestlé menyadari bahwa kunci dari loyalitas adalah kepastian. Mereka menjamin akses pasar dan harga yang layak. Setelah perut peternak aman, pendampingan teknis pun masuk ke bilik-bilik kandang. Fokusnya jelas: efisiensi. Pasalnya, urusan pakan saja bisa melahap 60 hingga 70 persen ongkos produksi.

Ada cerita unik dalam proses edukasi ini. Untuk menjaga kenyamanan sapi agar tidak stres akibat cuaca, Nestlé menyarankan pemasangan kipas angin di kandang. Tak disangka, respons peternak sempat diwarnai keheranan.

“Pak, kok saya disuruh memasang kipas di kandang? Di rumah saya saja enggak ada,” seloroh seorang peternak seperti ditirukan Syahrudi. Namun, manakala produksi susu melonjak lantaran sapi lebih tenang, paradigma itu pun runtuh. Kini, tak kurang dari 4.000 unit kipas telah berputar di kandang-kandang mitra.

Modernisasi pun terus digeber. Dari sistem ikat yang konvensional, peternak didorong beralih ke free-stall barn hingga teknologi closed-ventilation barn yang menjaga suhu tetap sejuk pada level 22°C. Tak berhenti di sana, sejak 2010, isu lingkungan dijawab melalui pembangunan 8.750 unit biogas untuk mengolah limbah menjadi energi dan pupuk organik.

Hasil dari ketelatenan selama 50 tahun ini terlihat dari angka yang bicara. Volume susu yang pada medio 1970-an hanya 140 liter per hari, kini meroket hingga melampaui 122.000 liter atau setara 120 ton setiap harinya. Menariknya, meski dibina oleh Nestlé, para peternak diberikan kemerdekaan untuk memasok susu ke pihak lain.

Bagi Syahrudi, inilah wujud nyata dari prinsip Creating Shared Value (CSV). Sebuah komitmen yang berhasil menaikkan kelas para peternak kecil.

“Hampir semua peternak mitra dulu adalah peternak kecil. Sekarang persentasenya sudah membaik dan naik kelas. Peternak kecil menjadi di bawah 50 persen,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Business

See More