Perjalanan Karier Sulystari, Nakhoda Eastspring Investments Indonesia

Jakarta, FORTUNE - Sulystari tak memiliki latar pendidikan pasar modal ketika memulai kariernya di industri ini. Namun, lebih dari dua dekade kemudian, ia justru menjadi salah satu figur berpengalaman di bidang tersebut.
Selepas menuntaskan pendidikan Sarjana Kimia di Universitas Indonesia, Sulystari mulai mencari pekerjaan. Salah satu posisi yang ia lamar adalah analis di salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia saat itu. Minimnya akses informasi membuatnya mengira posisi itu berkaitan dengan analisis sains, bukan keuangan. Ia keliru. Posisi tersebut pun telah diisi kandidat lain.
Kesempatan datang dari arah tak terduga. Perusahaan menawarinya posisi di departemen operations atau settlement. âDitanya, âapakah mau coba?â Saya putuskan untuk mencoba,â ujarnya (11/2).
Keputusan itu menempatkannya di wilayah yang sepenuhnya baru. Mayoritas rekan kerjanya berlatar belakang ekonomi dan akuntansi, sementara ia harus mengejar ketertinggalan dari awal. Tak ada pilihan selain banyak bertanya dan menyingkirkan rasa sungkan. Beruntung, ia menemukan mentor yang membimbingnya. Atas dorongan sang atasan, Tari mengikuti berbagai kursusâmulai dari akuntansi hingga brevet pajakâsetiap akhir pekan.
âSaya memiliki atasan, sekaligus mentor, yang sangat baik. Setelah jam kerja, dia membimbing saya dalam bidang akuntansi,â katanya. âSelama bekerja di sana, dalam kurun satu tahun, saya berkesempatan mengikuti kursus selama tiga hingga empat bulan. Apabila pada hari kerja tidak memungkinkan, saya memanfaatkan waktu luang saya. Saat itu saya belum menikah, sehingga memiliki waktu yang relatif lebih fleksibel.â
Sekitar sembilan tahun ia habiskan di perusahaan itu, membangun fondasi pengetahuan pasar modal di luar disiplin akademiknya. Hingga pada 2011, ia memutuskan berpindah haluan.
Keputusan itu lahir dari rasa mapan yang mulai menyelinap. Manajer investasi tersebutâyang kala itu hampir berusia 20 tahunâmenurutnya telah berada di fase stabil. Tantangan berkurang. Adrenalin yang dulu ia rasakan di awal karier pun memudar.
Di tengah kegamangan itu, Riki Frindos, kolega lama yang telah berkecimpung di pasar modal sejak 1997, menghubunginya. Kala itu, Riki mendapat mandat membawa bisnis manajemen aset Grup Prudential ke Indonesiaâcikal bakal Eastspring Investments Indonesiaâdan membutuhkan tim inti untuk membangunnya.
âSaya diajak bertemu dan diinformasikan tentang rencana pembukaan perusahaan manajer investasi baru di Indonesia. Ditanya, âapakah tertarik?â,â ujarnya. Pertanyaan itu langsung menyentuh nalurinya. Tantangan baru kembali terbuka untuknya. âMengingat perusahaan itu masih baru berdiri, terdapat dinamika dan proyek yang lebih banyak. Akhirnya saya memutuskan bergabung.â
Pada masa awal pendirian, tim Eastspring Investments Indonesia hanya beranggotakan sekitar 10â15 orang. Tari tetap menangani operasional dan settlement, sembari terlibat langsung dalam proses pendirian perusahaan, termasuk pengajuan izin sebagai manajer investasi ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Memulai dari nol, dalam analoginya. Salah satu tugas awal mereka adalah mengalihkan dana dan bisnis existing dari Singapura ke Jakarta.
âKami saling mendukung, bahu-membahu, dalam proses pendirian Eastspring di Indonesia,â katanya.
Tantangan lebih besar
Hampir lima tahun berkiprah di Eastspring Investments Indonesia, Tari kembali merasa âcukupâ dengan pengalaman yang ia kumpulkan. Dorongan mencari tantangan baru membawanya ke posisi baru di salah satu unit bisnis bank internasional, yakni Fund Product Head. Iaberhadapan langsung dengan klien dan mengelola produk investasiâberbeda dari peran sebelumnya yang lebih banyak di balik layar.
Perjalanannya di perusahaan tersebut terbilang singkat, sekitar 15 bulan. Namun, pengalaman itu menjadi bekal penting bagi fase berikutnya. Pada 2016, Riki Frindos kembali menghubunginya dengan agenda besar: transformasi menyeluruh sistem portofolio Eastspring Investments Indonesia.
Perubahan mencakup hampir seluruh liniâanalis, dealer, risk and compliance, hingga sistem operasional. Salah satu langkah krusial adalah migrasi dari Charles River Investment Management System (CRIMS) ke Aladdin milik BlackRock. Tari diminta memimpin proyek tersebut sebagai Head of Operations.
âSistemnya baru go live pada 2018. Namun, proyek pengembangannya telah dimulai sejak saya bergabung kembali pada akhir 2016,â ujarnya.
Beban kerja melonjak drastis. Hari kerja delapan jam menjadi kemewahan. âDurasi jam kerja saat itu mencapai sekitar 15 jam per hari," katanya. Ia harus memastikan transaksi berjalan, dana kelolaan bertumbuh, sekaligus mengawal transformasi besar. Prosesnya berat, tetapi sarat pembelajaran.
Proyek itu memperluas pemahamannya tentang investasi secara menyeluruh: dari transaksi dealer, keterlibatan broker, mitigasi risiko, hingga penguatan kepatuhan melalui sistem otomatis. Ia pun memahami bagaimana manajer portofolio mengambil keputusan berbasis berbagai pertimbangan, bukan sekadar intuisi.
Tantangan terbesarnya justru datang dari pengelolaan waktu. Bukan lagi soal istilah atau konsep baru, melainkan menyeimbangkan peran profesional dan personalâterlebih setelah berkeluarga. Puncaknya terasa saat pandemi, ketika ia harus bekerja dari rumah sambil mendampingi putranya menjalani sekolah daring. Prioritas ditentukan situasi.
âWork-life balance tidak mudah dicapai. Saya lebih menyebutnya work-life harmony,â katanya. âPada kondisi tertentu, pekerjaan perlu diprioritaskan. Namun pada kesempatan lain, keluarga menjadi fokus utama.â
Ujian berikutnya datang pada 2020. Saat COO Eastspring Investments Indonesia dipanggil ke tim regional di Singapura, manajemen merekomendasikan Tari untuk mengisi posisi tersebut. Kali ini, prosesnya berbeda. Ia harus melalui uji kelayakan dan kepatutan regulator. Fokusnya pada pengendalian risiko dan tata kelola.
âProses wawancara berlangsung sekitar dua jam dan dilaksanakan secara daring sehubungan dengan pandemi. Banyak pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan kontrol dan pencegahan fraud,â kenangnya.
Lulus dari proses itu, Tari resmi menjabat COO Eastspring Investments Indonesia pada April 2020. Tanggung jawabnya meluasâdari memimpin enam orang di tim operasional menjadi mengoordinasikan 14 pimpinan lintas fungsi, mulai dari operasional, TI, layanan klien, hingga keuangan.
Tantangan lain muncul bersamaan: kerja jarak jauh akibat pandemi. Fokusnya: menjaga koordinasi tanpa terjebak dalam mikro-manajemen. âJika dapat ditangani oleh mereka, silakan diselesaikan. Namun jika membutuhkan dukungan, hubungi saya,â ujarnya.
Dari sisi eksternal, keterbatasan interaksi tatap muka memaksa perusahaan mencari cara baru menjangkau klien. Salah satu responsnya: inovasi produk, termasuk penerapan strategi SMART Investingâpendekatan yang menitikberatkan pemahaman atas megatrend global yang mengubah lanskap ekonomi dan bisnis.


















