Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kontraktor Tambang Mulai Beralih ke Hybrid, Pangkas BBM Hingga 30 Persen
Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia–Indonesia Mining Services Association (ASPINDO-IMSA) Bambang Tjahjono saat konferensi pers IEE Series 2026 di Jakarta, Rabu (19/8). (Dok. Istimewa)
  • Kontraktor tambang mulai mengadopsi kendaraan hybrid untuk menekan biaya BBM, yang menyumbang 35-40 persen biaya operasional; teknologi ini diklaim menghemat konsumsi hingga 20-30 persen.

  • Truk tambang hybrid berkapasitas hingga 100 ton mulai diuji, namun penggantian armada dilakukan bertahap mengikuti usia ekonomis alat berat sekitar delapan tahun dan diproyeksikan berlangsung 5-10 tahun.

  • Kendaraan listrik murni masih terkendala bobot baterai dan waktu pengisian hingga dua jam; battery swap dipertimbangkan, tetapi membutuhkan infrastruktur pengangkat baterai besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Untuk alat berat tambang besar, hybrid atau EV murni?
Vote Now
  • What?
    Kontraktor pertambangan mulai mengadopsi kendaraan hybrid untuk menekan biaya operasional dan konsumsi BBM.
  • Who?
    Kontraktor pertambangan serta Bambang Tjahjono, Direktur Eksekutif ASPINDO-IMSA.
  • Where?
    Di sektor pertambangan dan Jakarta, saat konferensi pers IEE Series 2026.
  • When?
    Rabu (19/8), saat konferensi pers IEE Series 2026.
  • Why?
    Biaya bahan bakar mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasional pertambangan.
  • How?
    Hybrid mengombinasikan mesin berbahan bakar biodiesel dengan baterai listrik dan memungkinkan perpindahan penggunaan tenaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Untuk alat berat tambang besar, hybrid atau EV murni?
Vote Now

Kontraktor tambang mulai memakai truk hybrid. Bambang Tjahjono bilang truk ini memakai bahan bakar dan baterai. Truk hybrid bisa menghemat BBM sekitar 20-30 persen. Alat tambang besar belum bisa diganti semua sekarang karena masih dipakai lama. Truk listrik juga punya baterai yang berat dan lama diisi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Untuk alat berat tambang besar, hybrid atau EV murni?
Vote Now

Penggunaan hybrid memberi ruang efisiensi bagi kontraktor tambang tanpa harus segera mengganti seluruh armada konvensional. Sistem ini memungkinkan alat berat tetap memakai mesin saat diperlukan dan beralih ke baterai, sehingga penghematan BBM dapat diperoleh sambil mengikuti siklus penggantian alat yang panjang. Teknologi battery swap juga dinilai dapat mendukung kendaraan listrik besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Untuk alat berat tambang besar, hybrid atau EV murni?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Kontraktor pertambangan mulai mengadopsi teknologi kendaraan hybrid sebagai strategi menekan biaya operasional di tengah tingginya beban bahan bakar. Teknologi tersebut dinilai dapat menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekitar 20-30 persen dibandingkan dengan alat konvensional.

Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia–Indonesia Mining Services Association (ASPINDO-IMSA), Bambang Tjahjono, mengatakan biaya bahan bakar saat ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya operasional pertambangan.

"Kontribusi bahan bakar itu sekitar 35-40 persen dari total cost. Jadi, upaya untuk efisiensi itu sangat besar," kata Bambang dalam konferensi pers IEE Series 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).

Menurut dia, tekanan biaya BBM tersebut mendorong perusahaan jasa pertambangan mulai mencari teknologi yang lebih efisien. Salah satu yang mulai banyak digunakan adalah kendaraan hybrid yang mengombinasikan mesin berbahan bakar biodiesel dengan baterai listrik.

"Tren ke depannya, nanti di pameran ini bisa lihat, mulai sudah banyak pengguna EV, tapi pengguna listrik dan hybrid. Hybrid itu campur kombinasi, menggunakan biosolar biasa, terus baterai, jadi bisa otomatis switch," katanya.

Penggunaan teknologi tersebut tidak lagi terbatas pada kendaraan atau alat berukuran kecil. Bambang mengatakan sejumlah kontraktor besar mulai menguji penggunaan truk tambang berkapasitas hingga 100 ton dengan sistem hybrid.

Teknologi hybrid dinilai lebih realistis untuk alat berat berukuran besar karena memungkinkan operator tetap menggunakan mesin konvensional ketika dibutuhkan, kemudian beralih ke tenaga baterai untuk meningkatkan efisiensi.

"Kalau hybrid, masih konvensional, tapi switch ke baterai, balik lagi ke mesin, menghemat sekitar 20-30 persen. Itulah pola pikir dari para kontraktor," ujarnya.

Pergantian alat harus bertahap

tambang batubara di indonesia

Meski tren elektrifikasi mulai berkembang, Bambang menilai industri pertambangan tidak bisa serta-merta mengganti seluruh armada konvensional menjadi kendaraan listrik atau hybrid. Salah satu kendalanya adalah usia ekonomis alat berat yang panjang.

Menurut dia, alat-alat tambang berukuran besar umumnya baru diganti setelah beroperasi sekitar delapan tahun. Karena itu, alat yang baru dibeli satu atau dua tahun lalu masih akan digunakan hingga enam atau tujuh tahun mendatang.

"Jangan bermimpi tahun depan kita ganti semua. Tidak bisa itu. Alat itu ada umurnya, terutama alat besar-besar yang konvensional," kata Bambang.

Namun, percepatan dapat terjadi jika tersedia skema yang membuat kontraktor lebih ekonomis mengganti alat lama lebih cepat. Bambang menilai dukungan pemerintah dibutuhkan untuk mempercepat proses tersebut.

"Kalau dari pemerintah bisa membantu, mempercepat, membuat EV atau hybrid, salah satu yang membuat murah budgetnya," ujarnya.

Dia memperkirakan proses transisi menuju kendaraan listrik dan hybrid pda sektor pertambangan akan berlangsung dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

Potensi penghematan dari ribuan truk

Default Image

Besarnya potensi efisiensi terlihat dari jumlah alat berat yang digunakan dalam satu lokasi tambang besar. Bambang mengatakan satu lokasi pertambangan dapat memiliki sekitar 2.000 unit truk yang dioperasikan oleh sejumlah kontraktor.

Jika 25 persen dari armada tersebut beralih ke teknologi hybrid, menurut dia, pengurangan konsumsi BBM akan cukup signifikan.

Selain menekan biaya operasional, elektrifikasi alat berat juga dapat membantu pemerintah mengurangi konsumsi bahan bakar konvensional dan emisi dari sektor pertambangan.

Bambang mengatakan percepatan penggunaan EV dan hybrid pada akhirnya dapat memengaruhi kebutuhan solar di dalam negeri. Namun, proses tersebut tetap harus dilakukan secara bertahap mengikuti siklus penggantian alat berat.

Bambang menilai kendaraan listrik murni masih menghadapi tantangan ketika diterapkan pada alat berat dengan kapasitas sangat besar. Salah satu persoalan utamanya adalah bobot baterai dan waktu pengisian.

Dia mencontohkan truk tambang berkapasitas 100 ton yang telah diperkenalkan menggunakan tenaga listrik. Berat baterainya saja dapat mencapai sekitar lima ton.

Selain bobot, waktu pengisian baterai juga menjadi persoalan karena dapat mengurangi produktivitas alat tambang. Pengisian baterai bisa membutuhkan waktu hingga sekitar dua jam, sementara pengisian BBM pada truk konvensional hanya membutuhkan sekitar 10 menit.

"Kalau dari satu ekskavator dilayani minimal enam truk, hilang satu truk saja karena charging, itu sudah lost time-nya, produktivitasnya jatuh," ujar Bambang.

Karena itu, teknologi battery swap dinilai menjadi salah satu solusi untuk kendaraan listrik berkapasitas besar. Dengan sistem tersebut, baterai yang habis dapat diganti dengan baterai yang telah terisi tanpa harus menunggu proses pengisian.

Bambang memperkirakan proses pergantian baterai dapat dilakukan sekitar lima hingga 10 menit. Namun, sistem tersebut juga membutuhkan infrastruktur pendukung, termasuk alat pengangkat dengan kapasitas besar untuk menangani baterai yang bobotnya mencapai beberapa ton.

Untuk sementara, Bambang menilai hybrid lebih cocok diterapkan pada alat berat berkapasitas besar. Teknologi tersebut memungkinkan kontraktor memperoleh efisiensi BBM tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian listrik.

"Pengusaha kontraktor yang besar itu sudah mulai pakai yang 100 ton hybrid. Baru satu yang jalan, baru lagi dua, tiga, step by step," katanya.

Menurut Bambang, tekanan terhadap biaya bahan bakar akan menjadi pendorong utama bagi kontraktor untuk mempercepat transformasi armada. Dengan porsi BBM mencapai 35-40 persen dari total biaya operasional, setiap pengurangan konsumsi bahan bakar akan memberikan dampak langsung terhadap efisiensi bisnis pertambangan.

Pilih teknologi alat berat tambang yang paling realistis

Untuk alat berat tambang besar, hybrid atau EV murni?

See More
Hybrid lebih realistis
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
EV murni lebih tepat

Editorial Team

Related Article