Baidu Tertekan, Pendapatan Turun Lima Kuartal Beruntun

- Pendapatan Baidu kuartal II-2026 turun 4% secara tahunan menjadi 31,3 miliar yuan, menandai penurunan lima kuartal beruntun; laba bersih merosot 68% menjadi 2,32 miliar yuan.
- Bisnis pemasaran daring turun 19% akibat persaingan platform dan chatbot AI, sementara ADR Baidu sempat anjlok 10% setelah laporan keuangan dirilis.
- Baidu menggenjot investasi AI dan belanja modal hampir tiga kali lipat menjadi 11,4 miliar yuan; pendapatan infrastruktur cloud AI tumbuh 50%, tetapi monetisasi masih menjadi tantangan.
Jakarta, FORTUNE - Pendapatan Baidu Inc. kembali mengalami tekanan pada kuartal II-2026. Penurunan tersebut menjadi yang kelima secara berturut-turut dan menunjukkan tantangan perusahaan dalam mempertahankan bisnis iklan sekaligus mengejar ketertinggalan di bidang kecerdasan buatan (AI). Untuk periode tiga bulan yang berakhir Juni 2026, pendapatan Baidu turun 4 persen secara tahunan menjadi 31,3 miliar yuan atau sekitar US$4,6 miliar. Capaian tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan rata-rata analis.
Melansir Bloomberg, tekanan terhadap pendapatan juga diikuti penurunan laba yang lebih dalam. Laba bersih Baidu merosot 68 persen menjadi 2,32 miliar yuan setelah perusahaan meningkatkan investasi untuk membangun pusat data dan memperbesar kapasitas komputasi AI.
Kinerja tersebut turut menekan saham Baidu. Harga American Depositary Receipts (ADR) perusahaan sempat jatuh 10 persen menjadi US$93,70 setelah perdagangan dibuka di New York pada Selasa. Penurunan intraday tersebut menjadi yang terdalam dalam lebih dari dua bulan.
Baidu kini menghadapi tantangan di dua lini bisnis sekaligus. Sebagai salah satu pemain utama mesin pencari internet Cina, perusahaan kehilangan sebagian perhatian pengguna yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan iklan bernilai tinggi. Persaingan datang bukan hanya dari platform media sosial seperti ByteDance Ltd., tetapi juga dari kemunculan chatbot AI generasi baru.
Model AI Ernie milik Baidu juga menghadapi tekanan dari pesaing berbasis open-source seperti Moonshot AI, yang dinilai mampu menandingi model dari OpenAI dan Anthropic PBC dalam sejumlah metrik utama.
Di tengah persaingan tersebut, pendiri sekaligus miliarder Baidu Robin Li mengarahkan strategi perusahaan ke pengembangan agen dan aplikasi AI. Pergeseran itu diharapkan menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus memperbesar bisnis komputasi awan yang tengah dikembangkan perusahaan.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil di sisi cloud. Pendapatan dari infrastruktur cloud berbasis AI tumbuh 50 persen pada kuartal II setelah meningkatnya permintaan klien terhadap akselerator komputasi. Pertumbuhan itu membantu mengimbangi penurunan 19 persen pada pendapatan pemasaran daring.
“Meskipun bisnis pemasaran daring kami masih menghadapi tekanan, momentum yang terus meningkat dalam bisnis inti kami yang didukung AI menegaskan kembali transisi Baidu dari perusahaan yang berpusat pada internet menjadi perusahaan yang mengutamakan AI,” kata Li dalam pernyataan yang diterbitkan bersamaan dengan rilis laporan keuangan, mengutip Reuters.
Namun, pergeseran menuju AI membutuhkan modal yang besar. Seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd., Baidu meningkatkan belanja untuk kapasitas komputasi yang digunakan dalam pengembangan serta pengoperasian model AI, baik untuk kebutuhan internal maupun pelanggan.
Di luar anak usaha streaming iQiyi Inc., belanja modal Baidu melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 11,4 miliar yuan pada kuartal II dari 3,78 miliar yuan setahun sebelumnya.
Besarnya investasi tersebut sekaligus meningkatkan tekanan bagi Baidu untuk membuktikan bahwa ekspansi AI dapat menghasilkan keuntungan. Robert Lea, analis Bloomberg Intelligence, menilai masa depan perusahaan sangat bergantung pada keberhasilannya mengubah kemampuan AI menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan.
“Prospek jangka panjang Baidu bergantung pada kemampuannya untuk memonetisasi keahliannya dan mengarahkan bisnis AI yang merugi tersebut menuju profitabilitas,” kata Robert Lea, analis dari Bloomberg Intelligence.
Menurutnya, peluang AI memang terbuka luas karena teknologi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Namun, posisi Baidu menghadapi tantangan karena skala bisnisnya dinilai belum cukup besar untuk menandingi platform teknologi raksasa Cina lainnya.
“Walau AI menjanjikan peningkatan produktivitas di berbagai sektor, kami meragukan kemampuan Baidu untuk memanfaatkan peluang tersebut, karena perusahaan ini tidak memiliki skala yang cukup untuk bersaing dengan platform teknologi besar Cina, yang kami perkirakan pada akhirnya akan mendominasi industri ini,” katanya, menambahkan.
Tekanan persaingan juga membuat keunggulan Baidu di bidang AI semakin tergerus. Pada saat yang sama, upaya perusahaan untuk mengubah investasi AI menjadi pendapatan belum menghasilkan kontribusi yang signifikan.
“Persaingan yang semakin ketat telah secara bertahap mengikis keunggulan Baidu di sektor AI Cina, di saat upaya monetisasinya belum menghasilkan pendapatan yang signifikan.”
Dengan pendapatan yang terus menyusut dan belanja AI yang meningkat tajam, Baidu kini berada pada titik penting dalam transformasinya. Kemampuan perusahaan mengubah investasi besar tersebut menjadi pertumbuhan cloud, aplikasi, dan layanan AI yang menguntungkan akan menjadi penentu apakah strategi baru tersebut mampu membalikkan tren kinerja dalam kuartal-kuartal mendatang.





















