JLL: Okupansi Kantor Jakarta Naik 72,8 Persen pada Kuartal II 2026

- Riset JLL mencatat pasar perkantoran melanjutkan tren pemulihan pada kuartal kedua 2026 dengan tingkat okupansi 72,8 persen.
- Penyerapan ruang kantor di luar CBD mencapai sekitar 23.000 m², sementara Sudirman dan SCBD menjadi lokasi paling aktif di CBD.
- Pusat data menjadi sumber sekitar 80 persen permintaan lahan industri dalam cakupan riset JLL saat ini.
Jakarta, FORTUNE - Pasar proprti khususnya perkantoran melanjutkan tren pemulihan pada kuartal kedua 2026, dengan tingkat okupansi meningkat 72,8 persen, menurut laporan terbaru konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL).
Head of Research JLL, James Taylor, menyatakan kondisi ekonomi dan ketidakpastian politik masih membayangi laju pemulihan. Kendati demikian, permintaan masih meninjukan kinerja positif.
"Tidak adanya pasokan baru di CBD terus mendukung penyerapan pada pasokan eksisting," ujar James dalam keterangan resmi risetnya, Selasa (18/8).
Di luar CBD, penyerapan ruang kantor mencapai level tertinggi sejak 2019, yakni sekitar 23.000 meter persegi (m²). Capaian tersebut didorong penyelesaian dua gedung baru di Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang menambah sekitar 67.000 m² pasokan. Sektor minyak dan gas menjadi salah satu penggerak utama aktivitas penyewaan.
Head of Tenant Representation JLL, Panji Aziz, mengungkapkan bahwa perkantoran Grade A di kawasan pusat bisnis distrik atau CBD mencatat penyerapan konsisten pada kuartal kedua, dengan sektor jasa keuangan memimpin aktivitas penyewaan.
"Sudirman dan SCBD menjadi lokasi paling aktif pada kuartal ini, didorong oleh beberapa aktivitas relokasi oleh perusahaan-perusahaan yang mencari peningkatan terhadap kualitas gedung kantor yang mereka tempati," katanya.
Dari sisi harga, tarif sewa gedung Premium dan Grade A mencatat kenaikan moderat atau 0,05 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, tarif sewa gedung Grade B dan C mulai stabil setelah sebelumnya mengalami penurunan dalam beberapa kuartal.
Menurut Panji, sejumlah pemilik properti memilih menahan kenaikan tarif sewa dan memprioritaskan tingkat okupansi dibandingkan mengejar harga yang lebih tinggi.
Sejalan dengan itu, Indonesia dinilai tetap menjadi destinasi pilihan untuk investasi properti bagi investor asing dan domestik. Sektor logistik, industri, dan pusat data pun disebutkan masih menjadi penggerak utama aktivitas investasi tersebut. Berdasarkan riset ini, sekitar 80 persen permintaan lahan industri yang masuk dalam cakupan riset JLL saat ini berasal dari sektor pusat data.
Adapun, kapasitas data center yang telah beroperasi mencapai sekitar 450 MW. Tingkat okupansi mencapai sekitar 70 persen di daerah CBD Jakarta dan sekitarnya serta sekitar 80 persen di kawasan Cikarang, Karawang, dan bagian timur Jakarta.




















