Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lika-Liku Perluasan Stasiun MRT HI: Hapus Keraguan dengan Preseden
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, saat mengunjungi lokasi proyek Extended Concourse Bundaran HI Jakarta, Rabu (19/8). (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • Perluasan Stasiun MRT Bundaran HI menjadi proyek Extended Concourse pionir, didukung preseden keberhasilan konektivitas MRT-mal yang kini mendorong pengembang membuka akses ke stasiun.
  • Proyek senilai sekitar Rp200 miliar termasuk pajak ini dibiayai kontribusi KLB pengembang; Muara 1 akan dibangun di depan Plaza Indonesia dengan penyesuaian setback mal.
  • Area 4.439 meter persegi yang ditargetkan dibuka Juni 2027 disiapkan mengantisipasi penumpang Bundaran HI naik dari 11.000 menjadi sekitar 17.000 per hari, serta menampung ritel multifungsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Perluasan Stasiun MRT Bundaran HI diklaim sebagai pionir proyek Extended Concourse di Indonesia. Tak ayal, pembangunannya dihadapkan dengan berbagai tantangan, termasuk keraguan sejumlah pihak. Sama seperti ketika pembangunan jalur MRT Jakarta dimulai.

Ferdiansyah Roestam, Direktur Utama entitas anak PT MRT Jakarta (Perseroda), PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), mengamini hal itu. Menurutnya, itu tak lepas dari kejadian historis, tepatnya pembangunan transportasi umum monorel di Jakarta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa proyek itu terbengkalai, hingga akhirnya Pemerintah Provinsi membongkar konstruksi rel pada 2026.

"Saya tahu dullu memang tantangan [yang dihadapi tim MRT saat pembangunan ] cukup keras. Karena orang-orang melihat proyek monorel tidak berhasil dengan cukup baik," katanya kepada Fortune Indonesia.

Ia ingat, pada 2017 sampai dengan 2019, tim MRT Jakarta menghabiskan upaya cukup besar untuk meyakinkan semua pengembang bahwa proyek MRT dapat menambah nilai properti mereka. Tanggapan saat itu tidak sesuai harapan. Pengembang skeptis. Takut kalau-kalau MRT Jakarta akan berakhir seperti proyek monorel.

"Saya tahu persis bagaimana teman-teman MRT mengetuk-ngetuk [kantor calon partner] kemudian diusir, tidak ada preseden berhasil, [dan direspons] 'kamu keluar, saya tidak mau ada gate MRT di depan bangunan saya'. Itu dulu terjadi. Anda boleh tanya ke semua teman-teman MRT zaman dulu segitu sulitnya," kata Ferdi.

Namun, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penumpang (ridership) MRT Jakarta, tantangan itu perlahan menghilang. Ditambah lagi, beberapa mal yang sudah terhubung secara langsung ke stasiun MRT telah memperoleh dampak positif. Contohnya, Plaza Blok M.

"Cukup banyak yang skeptis seperti itu [waktu itu]. Satu-satunya mal di Jakarta Selatan, ada di Stasiun Blok M, sangat confident mendukung MRT dan menyambungkan dengan elevated bridge," ujar Ferdi. "Dari yang tadinya abandoned, tenancy-nya susah sekali untuk diangkat karena mal lama, sudah lebih dari 30 tahun. Sekarang ocupancy rate-nya naik menjadi 99,9 persen dan mereka sudah kehabisan space sekarang. Akhirnya rate mereka untuk sewa naik."

Konektivitas MRT dengan pusat perbelanjaan itu menjadi preseden berharga bagi perusahaan. Terutama dalam meyakinkan para pengembang untuk menghubungkan propertinya dengan stasiun MRT.

"Preseden itu akhirnya menunjukkan hasil yang sekarang dilihat oleh orang-orang. Seeing is believing lah kalau menurut saya," ujar Ferdi. "Sekarang [yang terjadi adalah para pengembang] rebutan [untuk membuka akses propertinya ke MRT]."

Keberhasilan itu juga turut membantu perusahaan dalam proyek Extended Course Stasiun Bundaran HI. Di proyek tersebut, MRT Jakarta akan membuat dua muara atau pintu masuk baru. Salah satunya, yakni Muara 1, berlokasi tepat di depan Plaza Indonesia.

Menurut Ferdi, mal itu bahkan bersedia memundurkan setback area hingga 80 cm agar lebar trotoar untuk pedestriannya tetap memenuhi standar. Sebab, pembuatan Muara 1 mengharuskan pembangunan tangga manual dan eskalator (sesuai standar layanan minimum), yang akan mengambil sebagian badan ruang trotoar.

"Kami minta izin, boleh tidak dimundurkan setback area mal? Dimundurkan [oleh mereka]," katanya. "Jadi sekarang ternyata kami dan MRT menemukan paradigma baru. para pengembang top tier ini, mereka sekarang berlomba-lomba berkontribusi ke layanan publik yang lebih layak. Karena ujungnya orang akan masuk ke propertinya dengan lebih nyaman."

Proyek Extended Concourse Bundaran HI sendiri didukung oleh investasi sekitar Rp200 miliar jika termasuk pajak. Itu bersumber dari dana kontribusi KLB (Koefisien Lantai Bangunan) sejumlah pengembang di area itu. Tanppa pajak, dana kontribusi KLB untuk proyek itu berjumlah sekitar Rp181 miliar.

"Dari total dana tanpa pajak itu, sekitar Rp150 miliar untuk konstruksi, kemudian sisanya untuk konsultan perencanaan dan konsultan perpajakan," kata Ferdi.

Fakta soal Extended Concourse Bundaran HI: bangunan sudah tersedia sejak 2019

Proyek Extended Concourse Bundaran HI di bawah Halte Transjakarta Bundaran HI. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Tepat di bawah halte Transjakarta Bundaran HI, ada ruangan seluas 4.439 meter persegi. Di ruangan itu, PT MRT Jakarta (Perseroda) berencana menghadirkan area multifungsi, yang ditargetkan diresmikan pada Juni 2027.

Pembangunan ruangan itu rampung saat proyek MRT Fase 1 selesai sebelum 2019. Namun, karena faktor ridership MRT Jakarta yang belum menembus 100.000 orang per hari saat itu, ruangan itu akhirnya ditutup lebih dulu.

"Area ini kalau dioperasikan [saat itu] biayanya mahal sekali, karena luasnya," kata Direktur PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Ferdiansyah Roestam saat ditemui di lokasi itu (19/8). "Karena sekarang MRT sedang mempersiapkan ekstensi sampai ke Monas, juga Kota Tua, akhirnya harus mulai dipersiapkan [perluasan ruang Stasiun Bundaran HI]."

ITJ sendiri merupakan anak usaha MRT Jakarta yang mengelola proyek perluasan Stasiun Bundaran HI, yang disebut Extended Concourse Bundaran HI.

Mengapa diperlukan perluasan itu? Berdasarkan proyeksi perusahaan, pengoperasian Jalur Utara Selatan atau Fase 2A MRT pada 2029 dan Jalur Timur-Barat pada 2032 dapat menambah traffic stasiun itu hingga sekitar 6.000 penumpang per hari.

Saat ini, Stasiun MRT Bundaran HI mencatatkan sekitar 11.000 penumpang per hari. Artinya, setelah jalur MRT diperluas, stasiun itu berpotensi menampung sektiar 17.000 per hari.

"Bayangkan kalau bukaannya hanya ada ruang existing? Sehingga extended concourse memang didesain supaya bisa memenuhi faktor keamanan, meningkatkan layanan publik supaya tidak terjadi bottle neck, dan yang ketiga, area itu bisa menjadi multifungsi untuk mendukung mobilitas orang," kata Ferdi.

Rencananya, ruangan itu akan memiliki 24-25 unit ritel, yang berasal dari berbagai sektor. Itu termasuk lifestyle, F&B, fesyen, hingga service.

Ritel-ritel itu akan menjadi fokus perusahaan untuk mengomersialisasi ruang hasil perluasan itu. Selain dari penyewaan, akan ada aktivitas periklanan serta co-branding seperti activation berupa acara khusus ke depannya.

"Karena memang tujuannya adalah destination oritented. Kami ingin, saat orang menggunakan [ruang ini] nanti, mereka bisa [melakukan] apa?" Kata Departement Head Commercial MRT Jakarta, Ricky Agung Kresna Putra (19/8).

Ia tak bisa memperinci berapa besar pertumbuhan pendapatan yang bisa didapat setelah Extended Course Bundaran HI dioperasikan secara penuh. Namun, dalam hematnya, salah satu objektif dari ekstensi ruang itu adalah menjangkau lebih banyak tenant. Khususnya yang belum bermitra dengan MRT Jakarta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article