Riset DBS Indonesia: Lanskap Keberlanjutan Bergeser Jadi Strategi Daya Saing Bisnis

Riset DBS Indonesia menilai keberlanjutan bergeser dari agenda kepatuhan menjadi strategi ketahanan ekonomi dan daya saing pada lima sektor industri utama.
Kebutuhan listrik diproyeksikan melampaui 1.800 TWh pada 2060, sementara ekonomi digital mendorong peluang energi terbarukan, BESS, cloud, keamanan siber, dan pusat data hijau.
Agribisnis berfokus pada produktivitas, kesehatan mengejar pengurangan impor bahan baku, sedangkan pertambangan diarahkan ke hilirisasi dan produk rendah karbon di tengah standar global lebih ketat.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank DBS Indonesia meluncurkan riset bertajuk "The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks" di Jakarta, Jumat (21/8).
Laporan tersebut menegaskan adanya pergeseran lanskap bisnis keberlanjutan di Indonesia dari sekadar agenda kepatuhan (compliance) menuju strategi ketahanan ekonomi dan daya saing bisnis melalui pemetaan peluang pembiayaan pada lima sektor industri utama.
Director of Institutional Banking Group DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menjelaskan keberlanjutan kini berkaitan erat dengan ketahanan usaha dan penciptaan nilai, meskipun pergeserannya memiliki jalur berbeda pada tiap sektornya. Lima sektor potensial yang dikaji dalam riset ini mencakup energi terbarukan dan infrastruktur; teknologi dan telekomunikasi; agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.
Pada segmen energi terbarukan dan infrastruktur, proyeksi konsumsi listrik diperkirakan melonjak dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, kecerdasan buatan (AI), pusat data, serta elektrifikasi rumah tangga.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan mencapai 3.687 GW, namun pemanfaatannya masih di bawah 0,5 persen akibat keterbatasan transmisi dan proyek bankability. Peluang pengembangan terbuka pada sektor energi surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS), modernisasi jaringan, hingga elektrifikasi industri.
Pada segmen teknologi dan telekomunikasi, terjadi pergeseran fokus dari konektivitas menuju layanan digital. Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari 9,69 persen pada 2015 menjadi 7,14 persen pada Q1-2026.
Namun, nilai ekonomi digital terus meningkat dengan estimasi Gross Merchandise Value (GMV) mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025, ditopang oleh 79 persen pengguna di Indonesia yang telah mengenal AI. Pergeseran ini mendorong permintaan terhadap layanan cloud, cybersecurity, dan pusat data hijau (green data center).
Bank DBS Indonesia bertindak sebagai joint mandated lead arranger dan green loan coordinator untuk fasilitas pinjaman hijau senilai Rp1,7 triliun kepada Princeton Digital Group. Pembiayaan ini mendukung pembangunan pusat data hyperscale berbasis energi terbarukan pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi BCA–IMDA Green Mark Platinum.
Pada segmen agribisnis, strategi ekspansi mulai beralih dari perluasan lahan menuju peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan. Indonesia saat ini memasok sekitar 60 persen kebutuhan minyak sawit dunia. Pertumbuhan sektor ini ke depan akan sangat bergantung pada program peremajaan tanaman (replanting), peningkatan hasil panen, serta pemenuhan sertifikasi RSPO/NDPE.
Sementara itu, segmen kesehatan dan farmasi berupaya mengikis ketergantungan impor demi memperkuat resiliensi rantai pasok. Saat ini, sekitar 90 persen bahan baku farmasi aktif (Active Pharmaceutical Ingredients/API) Indonesia masih diimpor, dengan konsentrasi utama dari Cina (42 persen) dan India (11 persen).
Dari sisi akses, meskipun cakupan BPJS Kesehatan telah mencapai 98,6 persen populasi, baru sekitar 2 persen obat inovatif global yang masuk dalam Formularium Nasional (FORNAS). Selain itu, rasio dokter spesialis masih berada di tingkat 0,16 per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar OECD sebesar 1,5–3,0.
Peluang pada sektor ini mencakup lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment.
Pada segmen logam dan pertambangan, ekspansi skala produksi diarahkan meningkatkan daya saing berkelanjutan. Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia dan diproyeksikan naik ke peringkat ke-13 sebagai produsen baja terbesar dunia pada 2025.
Kendati demikian, sekitar 97 persen pasokan listrik untuk pemrosesan nikel masih bersumber dari captive coal power. Penciptaan nilai sektor ini mulai bergeser ke industri hilir, seperti komponen baterai, BESS, daur ulang, serta produk logam rendah karbon, seiring dengan makin ketatnya standar global seperti EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan Battery Regulation.


















