Comscore Tracker
BUSINESS

Kemelut Rantai Pasok, Perusahaan Kontainer Meraup Untung Besar

Permintaan yang kuat terhadap kontainer menjadi pemicunya.

Kemelut Rantai Pasok, Perusahaan Kontainer Meraup Untung BesarSuasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Krisis rantai pasok dunia (global value chain/GVC) telah membuat harga barang di tingkat konsumen melonjak di sejumlah negara. Akan tetapi, tahukah Anda siapa yang paling diuntungkan dari kemelut tersebut?

Tren inflasi (kenaikan) harga barang konsumen saat ini tengah terjadi di sejumlah negara akibat masalah hambatan rantai pasok. Amerika Serikat (AS), misalnya. Pada Oktober 2021, inflasi melonjak 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Biro Statistik Nasional Tiongkok sebelumnya juga mengumumkan bahwa indeks harga produsen pada periode sama naik 13,5 persen, lebih cepat ketimbang pertumbuhan 10,7 bulan sebelumnya, dan menyamai kecepatan sejak 1995. Indeks harga konsumen juga melaju 1,5 persen secara tahunan, naik dari 0,7 persen pada September 2021.

Melansir Fortune.com, Senin (06/12), di tengah harga barang konsumen yang melambung tinggi—terlebih menjelang periode liburan—ada satu sektor usaha yang mengambil untung: perusahaan pengiriman kontainer.

Tahun ini, laba sebelum pajak sektor pengiriman kontainer diperkirakan mencapai US$150 miliar atau sekitar Rp2.138 triliun menurut kalkulasi dari Drewry. Perusahaan konsultan penelitian maritim independen itu mengatakan nilai tersebut merupakan rekor tertinggi dan diperkirakan akan lebih banyak lagi pada 2022. Sedangkan pada 2020, berdasarkan data dari The Journal Of Commerce, laba industri ini US$25,4 miliar atau setara Rp362 triliun.

“Bagi pengamat pasar peti kemas berpengalaman, mengetik angka-angka ini di halaman benar-benar nyata,” demikian analisis Drewry dalam laporan Container Insight Weekly tentang industri tersebut.

Lembaga itu juga menyebutkan, pergerakan kurs spot yang lebih kuat dari perkiraan serta pemulihan rantai pasokan yang terlambat akan menyebabkan tarif angkutan global naik, Menurut mereka, kenaikannya 126 persen pada kuartal keempat 2021 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Bukti nyata

Kendaraan melintas di dekat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (17/10/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

Drewry memandang angka-angka terkait laba yang mengejutkan kemungkinan karena perusahaan kontainer beroleh permintaan yang kuat di pelabuhan. Mereka juga diperkirakan menaikkan harga pengiriman (freight prices) ke level tertinggi.

Gambarannya adalah seperti ini. Di satu sisi aktivitas di pelabuhan terhambat karena terputusnya rantai pasok. Karenanya, pelabuhan kini menjadi tempat parkir kapal dan kontainer. Alhasil perusahaan peti kemas dan pelayaran membebankan biaya untuk menunggu. Sudaha begitu, melonjaknya permintaan akan kontainer dan pengiriman telah menyebabkan kenaikan biaya secara cepat dan drastis.

AP Moller Maersk Group, misalnya, diprediksi akan menangguk laba operasi US$17 miliar atau setara Rp242 triliun tahun ini. Sebelumnya, keuntungan perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia itu ditaksir mencapai US$4,5 miliar atau naik 278 persen. Perusahaan bahkan mengumumkan akan memberikan bonus masing-masing US$1.000 (Rp14,25 juta) kepada 80 ribu karyawannya.

Perusahaan pelayaran lain, seperti Hapag-Lloyd AG dari Jerman, juga dikabarkan melaporkan peningkatan pendapatan dalam enam bulan terakhir—bahkan lebih tinggi ketimbang pendapatan gabungan 10 tahun terakhir. 

Tak seiring produktivitas

Sebuah truk melintas di depan peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (22/7/2021). Menko Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto menyatakan ekspor dan impor Ind

Lonjakan keuntungan sektor pengiriman tak seiring dengan produktivitasnya. Analisis Maritim Intelijen Laut melaporkan kinerja pengiriman tepat waktu (on-time performance of shipments) antara Asia dan Eropa Utara turun menjadi 23,5 persen, dari 90 persen pada 2019. Sementara itu, keandalan operator (carrier reliability) turun menjadi 9,9 persen, dari 80 persen pada 2019.

Perlambatan ini sebagian besar karena waktu tunggu di pelabuhan. Namun, Menurut Drewry, tidak ada yang patut disalahkan lantaran hal tersebut.

“Ini bukan kesalahan operator karena pelabuhan membuat mereka menunggu, jadwal berlayar berantakan, dan akses ke peralatan peti kemas terbatas,” tulis Drewry. “Itu juga bukan salah pelabuhan yang menjadi tempat parkir kapal dan peti. COVID-19 membuat mereka kurang bisa membalik peti secara efisien dan kemudian membersihkannya dari lokasi dengan cepat karena pengemudi truk yang lebih sedikit dan kurangnya kapasitas gudang.”

Related Articles