Comscore Tracker
BUSINESS

Semester I-2021, Laba PGN Melejit Ribuan Persen Menjadi Rp3,21 Triliun

PGN mencatatkan kenaikan laba meski pendapatan menurun.

Semester I-2021, Laba PGN Melejit Ribuan Persen Menjadi Rp3,21 TriliunDok. PGN

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - PT Perusahaan Gas Negara Tbk, anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor subholding migas, mencatatkan kinerja keuangan signifikan pada semester pertama tahun ini. Pendapatan PGN turun, tapi labanya melejit hingga ribuan persen. Kok bisa?

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Kamis (30/9), PGN pada semester I-2021 berhasil mencetak laba periode berjalan US$221,25 juta atau sekitar Rp3,21 triliun. Jumlah laba BUMN tersebut meningkat signifikan 692,4 persen dari sebelumnya hanya US$27,92 juta.

Bahkan, jika dihitung berdasarkan perolehan laba ke pemilik entitas induk, keuntungan perusahaan ini di periode yang sama melejit hingga 2.823,5 persen menjadi US$196,51 juta atau sekitar Rp2,85 triliun. Sebelumnya, laba ke pemilik entitas induk PGN pada semester I-2020 hanya sekitar US$6,72 juta.  

Laba periode berjalan PGN juga sudah melampaui periode sebelum pandemi Covid-19. Berdasarkan laporan keuangan, PGN pada semester I-2019 merengkuh laba US$82,73 juta.

Faktor efisiensi dan pendapatan lain-lain

Ilustrasi PGN

Raihan laba PGN yang signifikan ini terjadi di tengah perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan. Pada semester I-2020, PGN hanya beroleh pendapatan US$1,46 miliar, atau sekitar Rp21,23 triliun. Angka tersebut turun 0,3 persen dari pendapatan sebelumnya, yakni US$1,47 miliar.

Jika dilihat berdasarkan segmen operasinya, perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan pada bisnis utama niaga dan infrastruktur mencapai 12,1 persen menjadi US$1,24 miliar. Namun, PGN berhasil meraih kenaikan pendapatan eksplorasi dan migas sebesar 26,7 persen dan pendapatan operasi lainnya juga meningkat 154,4 persen.

Perusahaan yang berdiri sejak 1859 ini di periode sama berhasil melakukan efisiensi sejumlah beban. Menurut laporan keuangan, beban lain-lain perusahaan turun 52,9 persen menjadi US$12,97 juta.

Kemudian, beban niaga dan infrastruktur juga menurun 10,2 persen menjadi US$156,97 juta. Perusahaan juga mencatatkan penurunan tipis beban umum dan administrasi sebesar 7,3 persen dan beban keuangan 4,5 persen.

Tak hanya itu, PGN yang memiliki 7 anak perusahaan dengan kepemilikan langsung ini juga mengalami kenaikan pendapatan dari bagian laba ventura bersama sebesar 119,8 persen menjadi US$50,51 juta. Perusahaan ini memiliki enam ventura bersama, yakni Transgasindo, Regas, Perkasa, PSG, PDG, dan JPUG.

Selain itu, PGN ini juga membukukan pendapatan dari pembalikan provisi sengketa pajak sebesar US$48,39 juta. Capaian itu terkait dengan keputusan menang dari Mahkamah Agung atas kasus sengketa PPN gas bumi dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan untuk tahun 2012 dan 2013.

Penurunan sejumlah beban serta perolehan pendapatan lain inilah yang disinyalir membuat laba PGN melejit, meskipun pendapatan perusahaan belum meningkat. Raihan pendapatan BUMN ini juga belum mencapai ke level sebelum pandemi atau semester I-2019, yakni US$1,79 miliar.

Respons manajemen

Melalui laporan keuangan, manajemen PGN mengatakan pandemi Covid-19 masih berdampak pada kondisi perekonomian. Hal itu, katanya, sangat berpengaruh pada permintaan global atas barang dan jasa serta komoditas gas bumi dan rantai produksi.

Menurut manajemen PGN, perusahaan telah menilai dampak dari kejadian tersebut terhadap kegiatan operasional. PGN meyakini bahwa tidak ada dampak negatif yang signifikan yang perlu diperhitungkan dalam jangka pendek walaupun dampak jangka panjang, meskipun sulit untuk diprediksi saat ini.

“Manajemen akan terus memonitor hal ini dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengatasi risiko terkait dan ketidakpastian terkait hal tersebut di masa depan,” begitu bunyi keterangan dalam laporan keuangan perusahaan.

Di tengah pengumuman kinerja keuangan, saham PGN pada perdagangan Senin (4/10) pagi ini tercatat ada di posisi Rp1.380 per saham. Saham perusahaan dengan kode emiten PGAS ini meningkat 38,71 persen secara tahunan dari posisi sebelumnya yang Rp930 per saham.

Related Articles