Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Meski Harga Oli dan Suku Cadang Naik, Lorena Tak Bisa Kerek Tarif

Meski Harga Oli dan Suku Cadang Naik, Lorena Tak Bisa Kerek Tarif
CEO LORENA Group & Founder BIG (Bawa Indonesia Global), Eka S Lorena Subakti di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • PT Eka Sari Lorena Transport Tbk menghadapi kenaikan biaya operasional akibat lonjakan harga BBM, suku cadang, dan oli hingga 40 persen, namun tetap menahan tarif demi menjaga daya beli masyarakat.
  • Permintaan perjalanan pada libur Iduladha tahun ini melambat karena konsumen baru memesan mendekati hari keberangkatan, membuat Lorena tidak menaikkan tarif seperti periode padat sebelumnya.
  • Lorena mencatat pendapatan Rp14,4 miliar hingga Maret 2026 atau turun 12,7 persen dari tahun lalu, namun berhasil menekan rugi bersih menjadi Rp6,7 miliar sambil mengembangkan lini usaha lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) menghadapi tekanan ganda di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan biaya operasional. Selain harus menanggung lonjakan harga suku cadang hingga oli akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), operator bus antarkota itu sulit menaikkan tarif karena mempertimbangkan kemampuan masyarakat.

CEO Lorena Group, Eka S. Lorena Surbakti, mengatakan biaya operasional transportasi terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, kenaikan harga BBM telah memicu kenaikan harga berbagai komponen pendukung armada.

“Transportasi itu seperti darah. Tidak ada esensi kehidupan yang tidak didukung oleh transportasi. Saat ini dengan adanya kenaikan harga BBM, banyak komponen lain ikut naik, termasuk suku cadang dan harga oli. Harga oli sekarang naiknya sampai 40 persen,” kata dia dalam acara Indonesia Summit 2026 by IDN di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6).

Namun, Lorena memilih tidak mengerek tarif karena memandang kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Ia menilai banyak konsumen masih sensitif terhadap kenaikan harga, sehingga ruang bagi operator mengalihkan kenaikan biaya kepada pelanggan menjadi terbatas.

Kondisi tersebut bahkan terlihat pada libur Iduladha yang biasanya menjadi pendorong permintaan perjalanan. Pada "hari raya kurban" tahun ini, penumpang baru mulai melakukan perjalanan mendekati hari keberangkatan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ketika pemesanan sudah ramai satu hingga dua pekan lebih awal.

“Tahun ini sampai detik-detik terakhir baru orang mulai bepergian. Akhirnya, penyesuaian tarif yang biasanya dilakukan saat periode padat juga tidak kami terapkan seperti tahun lalu,” katanya.

Dalam hematnya, kondisi tersebut kian memperberat beban perusahaan. Di tengah kenaikan biaya operasional, perusahaan tetap harus menjaga harga tiket tetap terjangkau.

“Tahunnya bertambah, bebannya bertambah, tapi kami juga harus memahami kemampuan masyarakat sampai seperti apa,” ujarnya.

Menurut Eka, pemerintah perlu mendorong kebijakan yang membuat mobilitas orang dan barang menjadi lebih efisien dan berbiaya rendah. Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, dan Cina yang dinilai mampu meningkatkan daya saing ekonomi melalui sistem transportasi yang murah dan efektif.

“Kalau pergerakan orang dan barangnya bagus, pasti daerah itu maju. Negara-negara itu bisa bersaing karena biaya logistik dan transportasinya efisien serta mendapat dukungan yang memadai,” katanya.

Di tengah tantangan tersebut, Lorena juga masih menghadapi tekanan kinerja keuangan. Eka mengakui bisnis angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) belum sepenuhnya pulih sehingga perseroan mulai mengembangkan lini usaha lain sebagai sumber pertumbuhan.

“Kalau bisnis AKAP mengalami tekanan, tentunya kami bergerak ke bidang yang lain. Saat ini justru bisnis lain yang lebih sukses dibandingkan antarkota antarprovinsi. Tapi, kami tetap mempertahankan bisnis utama Lorena,” ujarnya.

Hingga akhir Maret 2026, Lorena membukukan pendapatan Rp14,4 miliar atau turun sekitar 12,7 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp16,5 miliar. Meski demikian, Lorena dapat menekan rugi bersih menjadi Rp6,7 miliar, dibandingkan dengan rugi pada kuartal I-2025 yang mencapai Rp7 miliar.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More