Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kementerian ESDM Pacu Target Bauran EBT Capai 30% pada 2034
Ilustrasi salah satu pembangkit energi baru terbarukan (EBT), PLTS Oelpuah di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi bagian dari upaya percepatan pengembangan energi bersih di Indonesia.
  • Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan mencapai 30 persen dari bauran energi mix nasional.
  • Bauran energi hijau saat ini mencapai 17,3 persen, sementara kapasitas terpasang EBT mencapai 16,32 GW pada pertengahan 2026.
  • Pemerintah mendorong pembangkit EBT, B50, kendaraan listrik, jaringan gas, CNG, dan waste to energy.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?
Vote Now
2021

Kapasitas terpasang EBT tercatat sebesar 12,04 GW.

2022

Kapasitas terpasang EBT menjadi 13,02 GW.

2023

Kapasitas terpasang EBT menjadi 13,73 GW.

2024

Kapasitas terpasang EBT menjadi 14,81 GW.

2025

Kapasitas terpasang EBT menjadi 16,15 GW. Timbulan sampah nasional tercatat sebesar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari.

pertengahan 2026

Kapasitas terpasang EBT mencapai 16,32 GW.

Rabu (2/9)

Eniya dan Yuliot menyampaikan target bauran EBT serta peningkatan kapasitas pembangkit melalui RUPTL 2025-2034 di Jakarta.

2034

Pemerintah menargetkan EBT mencapai 30 persen bauran energi mix nasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?
Vote Now
  • What?
    Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan sebesar 30 persen dari bauran energi mix nasional.
  • Who?
    Pemerintah, Eniya Listiani Dewi selaku Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, dan Wakil Menteri ESDM Yuliot.
  • Where?
    Jakarta, dalam acara The 12th Indonesia EBTKE Conex 2026.
  • When?
    Rabu (2/9), dengan target capaian hingga 2034.
  • Why?
    Untuk meningkatkan pasokan dan kontribusi energi baru dan terbarukan serta mencapai target dalam renstra, RUKN, dan RUEN.
  • How?
    Melalui RUPTL 2025-2034, akselerasi investasi, B50, kendaraan listrik, jaringan gas, CNG, dan waste to energy.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?
Vote Now

Pemerintah mau energi baru dan terbarukan menjadi 30 persen dari semua energi. Sekarang jumlahnya 17,3 persen. Bu Eniya bilang kapasitas EBT bertambah, tetapi tumbuhnya lebih pelan. Pemerintah juga mau membuat pembangkit, memakai B50, kendaraan listrik, gas, dan energi dari sampah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?
Vote Now

Peningkatan kapasitas terpasang EBT dari 12,04 GW pada 2021 menjadi 16,32 GW pada pertengahan 2026 menunjukkan penambahan kapasitas tetap berlangsung. Dorongan investasi, RUPTL, bahan bakar nabati, kendaraan listrik, jaringan gas, CNG, serta teknologi waste to energy mencakup sejumlah jalur pengembangan energi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 30 persen terhadap bauran energi nasional pada 2034. Sementara itu, saat ini porsi energi hijau baru mencapai 17,3% dari total pemanfaatan berbagai sumber energi primer nasional.

Dari total bauran tersebut, sektor pembangkitan menyumbang melalui bioenergi sebesar 4,19 persen, diikuti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 2,69 persen, panas bumi 1,84 persen, PLTS 0,51 persen, dan PLTB 0,06 persen.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menilai kapasitas terpasang EBT ini memang bertambah, tetapi pertumbuhannya relatif melandai.

Dari sisi kapasitas terpasang, EBT mencatat kenaikan dari 12,04 gigawatt (GW) pada 2021 menjadi 13,02 GW pada 2022, 13,73 GW pada 2023, 14,81 GW pada 2024, 16,15 GW pada 2025, hingga mencapai 16,32 GW pada pertengahan 2026.

"Capaian energi baru terbarukan yang saat ini ada, kalau dilihat dari capaian energi mix nasional itu baru mencapai 17,3 persen pada semester ini. Kami update, di triwulan satu sempat mencapai 18,3 persen," kata Eniya dalam The 12th Indonesia EBTKE Conex 2026 di Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut Eniya, peningkatan kapasitas tersebut perlu diikuti dengan akselerasi investasi agar target yang tercantum dalam rencana strategis (renstra), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dapat tercapai.

"Hingga 2034 kami targetkan 30 persen bauran energi mix nasional untuk EBT. Jadi itu menjadi target kita semua," ujar Eniya.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menambahkan, pemerintah menetapkan peningkatan kapasitas pembangkit EBT melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 demi memperbersar kontribusi energi terbarukan.

"Pada RUPTL, sekitar 62 persen, kapasitas terpasang sekitar 42,6 gigawatt, ini merupakan target kita untuk meningkatkan pasokan energi, khususnya energi baru dan terbarukan," ungkap Yuliot.

Selain pembangkit, pemerintah mendorong penggunaan bahan bakar nabati melalui implementasi B50, percepatan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, serta pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG.

Pengembangan energi dari sampah perkotaan juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Dari timbulan sampah nasional tahun 2025 sebesar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, baru sekitar 25 persen yang terkelola. Oleh karenannya teknologi waste to energy didorong agar bisa dimanfaatkan menghasilkan listrik, biomassa, maupun bahan bakar minyak terbarukan sekaligus mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan EBT masih menghadapi persoalan rantai pasok. Ia menilai, ketersediaan bahan baku, manufaktur, teknologi, dan sumber daya manusia perlu dibangun secara terintegrasi agar pengembangan energi bersih tidak semakin bergantung pada teknologi impor.

"Jadi, kita harus melihat rantai pasok yang harus terintegrasi. Kalau ini tidak terintegrasi dari sumber bahan baku, kemudian ada pabrik manufaktur, teknologi, dan sumber daya manusia yang kita integrasikan, tentu rantai pasok ini akan terputus," pungkasnya.

Pilih fokus pengembangan EBT

Menurutmu, mana yang perlu lebih didorong untuk EBT?

See More

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article