Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ada Pengendali Baru, MNC Energy Ganti Nama dan Bidik Kenaikan Produksi
ilustrasi batu bara (Unsplash.com/Nikolay Kovalenko)
  • PT MNC Energy Investments Tbk resmi berganti nama menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk setelah PT Karya Pacific Investama menjadi pengendali baru melalui tender offer yang disetujui OJK.
  • Sepanjang 2025, perusahaan mencatat laba bersih US$8,27 juta dan pendapatan US$79,64 juta dengan peningkatan margin EBITDA hingga 22,93 persen dibanding tahun sebelumnya.
  • Perseroan menargetkan produksi batu bara naik menjadi 7,8 juta MT pada 2026 dengan dukungan optimalisasi tambang PMC, IBPE, dan APE serta revisi RKAB ke Kementerian ESDM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) akan berganti nama menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk usai PT Karya Pacific Investama (KPI) masuk menjadi pengendali baru perusahaan. Hal tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 22 Juni 2026.

Dalam rapat tersebut, para pemegang saham menyetujui Laporan Tahunan Direksi, Laporan Keberlanjutan, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris, serta mengesahkan laporan keuangan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.

IATA mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar US$8,27 juta, meningkat 7,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan transformasi dan masuknya pengendali baru, perseroan menargetkan lonjakan produksi batu bara pada 2026.

Sepanjang 2025, IATA membukukan pendapatan sebesar US$79,64 juta. Selain pertumbuhan laba bersih, perseroan juga berhasil meningkatkan margin EBITDA dari 19,13 persen pada 2024 menjadi 22,93 persen pada 2025.

Dari sisi operasional, IATA memproduksi batu bara sebanyak 3,42 juta metrik ton (MT) dengan volume penjualan mencapai 3,51 juta MT. Hingga akhir 2025, perseroan memiliki cadangan batu bara terbukti sebesar 298 juta MT.

Sepanjang 2026, IATA menargetkan peningkatan produksi menjadi 7,8 juta MT. Sebagai tahap awal, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui kuota produksi sebesar 2 juta MT. Untuk mencapai target tersebut, perseroan telah mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada Kementerian ESDM.

Target produksi tersebut akan ditopang oleh optimalisasi operasional tambang milik PT Putra Muba Coal (PMC), PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), dan PT Arthaco Prima Energy (APE).

Selain membahas kinerja perusahaan, RUPST juga menyetujui sejumlah perubahan dalam jajaran manajemen. Pemegang saham menerima pengunduran diri Santi Paramita dari jabatan Komisaris, Henry Suparman dari posisi Wakil Presiden Direktur, serta Anthony Putra Tjiptodihardjo dari jabatan Direktur. Perseroan juga memberhentikan dengan hormat Andrea Frans Tambunan dari posisi Direktur sehubungan dengan penugasan baru di lingkungan grup perusahaan.

Sebagai bagian dari penyegaran manajemen, pemegang saham menyetujui pengangkatan Christian sebagai Direktur baru perseroan.

RUPST juga menyetujui perubahan beberapa ketentuan dalam anggaran dasar perusahaan, termasuk perubahan nama dari PT MNC Energy Investments Tbk menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk, atau nama lain yang memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Manajemen menyatakan perubahan nama tersebut dilakukan untuk memperkuat identitas perusahaan, meningkatkan keselarasan dengan visi dan strategi bisnis, serta mempertegas posisi perseroan di mata para pemangku kepentingan.

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui perubahan pengendali perusahaan dari PT MNC Asia Holding Tbk kepada PT Karya Pacific Investama (KPI). Perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari penyelesaian transaksi pengambilalihan saham melalui mekanisme tender offer sukarela sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku.

Sebelumnya, KPI menawarkan untuk membeli sebanyak-banyaknya 535.379.000 lembar saham yang mewakili sekitar 1,712 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh IATA. Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp99 per saham, yang telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan pembelian ini, total kepemilikan KPI di IATA akan meningkat menjadi 50,50 persen atau sebanyak 15.794.254.800 saham.

"Masuknya KPI sebagai pemegang saham pengendali baru akan memperkuat fondasi bisnis ke depan," kata manajemen dalam keterangan resmi, Kamis (25/6).

Sinergi ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan permodalan, mempercepat ekspansi usaha, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article