Cadangan Listrik Sumut Tinggal 4%, PLTA Batang Toru Dikebut

Waduk PLTA Batang Toru mulai digenangi untuk menguji seluruh fasilitas pembangkit berkapasitas 510 MW.
Kementerian ESDM menargetkan pembangkit beroperasi sebelum periode Natal dan Tahun Baru karena cadangan listrik Sumatera Utara terbatas.
Setelah pengujian instrumen dan integrasi dengan jaringan PLN, PLTA Batang Toru dapat beroperasi secara resmi.
Jakarta, FORTUNE - Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai digenangi pada Jumat (9/10).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan beroperasinya PLTA Batang Toru kian mendesak, di tengah cadangan sistem kelistrikan Sumatera Utara yang menipis.
"Cadangan operasional hanya 4 persen dari yang idealnya sekitar 15 sampai 20 persen," ungkap Yuliot dikutip dari keterangan tertulis, Senin (12/10).
Kementerian ESDM menargetkan pembangkit tersebut dapat beroperasi sebelum periode Natal dan Tahun Baru seiring meningkatnya kebutuhan listrik pada periode tersebut.
Saat ini, sistem Sumatra Bagian Utara masih ditopang pasokan dari Sumatra Bagian Selatan melalui jaringan transmisi. Beban listrik di Sumatera Utara bertambah mencapai sekitar 100 hingga 120 MW per tahun. Maka dari itu, kapasitas PLTA Batang Toru sebesar 510 MW diperkirakan mampu memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik di provinsi tersebut selama empat hingga lima tahun ke depan.
Yuliot menjelaskan penggenangan dilakukan sebagai syarat untuk menguji seluruh fasilitas pembangkit, mulai dari powerhouse, ketinggian genangan sesuai target, hingga penyaluran daya ke jaringan transmisi.
Proses penggenangan dipercepat pada triwulan IV 2026 dan dilanjutkan dengan pengujian seluruh instrumen selama dua pekan. Setelah tahap tersebut, pembangkit akan menjalani uji coba integrasi dengan jaringan PT PLN (Persero) sebelum dapat beroperasi secara resmi.
"Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat layak operasi," kata Yuliot.
Penggenangan waduk dilakukan setelah persoalan administrasi rampung, termasuk kewajiban kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) dan Kementerian Kehutanan. Proses penyelesaian tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM serta Kejaksaan Agung.
Dari sisi pasokan air, PLTA Batang Toru mengandalkan aliran sungai yang terhubung dengan Danau Toba. Sumber air tersebut dinilai dapat mendukung operasional pembangkit, termasuk ketika terjadi fenomena El Nino. Namun, kecukupan pasokan air untuk operasi jangka panjang tetap bergantung pada kondisi hidrologi.
Proyek strategis nasional senilai Rp21,6 triliun ini terdiri atas empat unit pembangkit masing-masing 127,5 MW. Pengembangnya, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), telah menyiapkan kajian pengembangan tahap kedua berkapasitas 160 MW. Yuliot memastikan sebagian besar pekerja proyek merupakan tenaga lokal, dan peralatan dalam negeri dimanfaatkan sejauh memungkinkan.




















