Rupiah Tertekan, Peritel Farmasi Masih Optimistis pada Daya Beli

- Pelemahan rupiah menekan industri farmasi karena ketergantungan bahan baku impor, namun peritel seperti VIVA Apotek tetap optimistis berkat meningkatnya minat masyarakat pada produk kesehatan dan kecantikan.
- VIVA Apotek mencatat pertumbuhan penjualan 35 persen selama BeautyFest Asia Jakarta 2026 melalui kolaborasi dengan sembilan brand serta strategi promosi interaktif dan pendekatan omnichannel.
- Pemerintah melalui BPOM menyiapkan insentif, relaksasi regulasi, dan percepatan perizinan untuk menjaga efisiensi industri farmasi serta mendorong pengembangan bahan baku lokal berbasis sumber daya alam.
Jakarta, FORTUNE — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih membayangi industri farmasi nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat pelaku usaha menghadapi tekanan biaya yang semakin besar di tengah ketidakpastian geopolitik global. Namun, di tengah tantangan tersebut, sejumlah peritel farmasi tetap berupaya menjaga pertumbuhan bisnis dengan memanfaatkan momentum pameran dan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kesehatan dan kecantikan.
Salah satu contohnya jaringan ritel farmasi VIVA Apotek yang mencatat kenaikan penjualan selama partisipasinya dalam BeautyFest Asia Jakarta 2026 yang digelar Pobela.com di Mall Kota Kasablanka, Jakarta pada 29–31 Mei 2026.
Presiden Direktur VIVA Apotek, Haryanto Winata, dalam ajang kecantikan dan gaya hidup tersebut, perusahaan menggandeng sembilan principal brand untuk menghadirkan berbagai produk kesehatan dan kecantikan kepada konsumen. Menurutnya, perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 35 persen dibandingkan partisipasi pada tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk kesehatan dan kecantikan masih tetap terjaga meski industri farmasi secara umum menghadapi tekanan akibat fluktuasi nilai tukar dan kenaikan biaya bahan baku impor.
“Kami sangat mengapresiasi antusiasme pengunjung selama event berlangsung. Pencapaian pertumbuhan sales menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan pengalaman retail kesehatan dan kecantikan yang lebih inovatif, relevan, dan dekat dengan kebutuhan konsumen,” ujar Haryanto dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6).
Untuk mendorong penjualan, perusahaan memanfaatkan ajang pameran sebagai sarana memperluas jangkauan konsumen sekaligus memperkuat keterlibatan pelanggan. Misalnya, program promosi dan aktivitas interaktif, mulai dari penawaran khusus, flash deals, permainan berhadiah, aktivasi media sosial. Strategi tersebut dikombinasikan dengan pendekatan omnichannel yang mengintegrasikan kanal penjualan daring dan luring.
Haryanto menambahkan, minat belanja masyarakat menjadi sinyal bahwa sektor ritel farmasi masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama melalui pendekatan yang lebih dekat dengan konsumen. Di tengah tekanan industri, pameran dan event tematik dinilai menjadi salah satu kanal efektif untuk mendorong penjualan sekaligus memperkuat keterlibatan pelanggan.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya tahan industri farmasi nasional. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyiapkan berbagai insentif dan relaksasi regulasi guna membantu pelaku industri menghadapi dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pemerintah akan memberikan kemudahan bagi industri, termasuk fleksibilitas dalam pengelolaan rantai pasok dan dukungan bagi pengembangan bahan baku berbasis sumber daya alam Indonesia.
"BPOM akan memberikan berbagai macam insentif kepada industri-industri nasional. Kita buatkan aturan kemudahan kepada industri untuk bisa tidak terlalu rigid untuk perubahan dari supply chain. Selain itu, kita berikan insentif kepada industri yang akan mengembangkan ekstraksi bahan baku yang berbasis bahan alam, termasuk tumbuhan," kata Taruna mengutip ANTARA.
Menurut dia, BPOM juga akan mempercepat proses sertifikasi dan perizinan tanpa mengurangi standar mutu produk. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu industri menjaga efisiensi sekaligus meredam tekanan harga akibat volatilitas nilai tukar.
"BPOM akan mempercepat proses sertifikasi dan perizinan tanpa menurunkan standar mutu. Industri diberi kemudahan untuk mengganti sumber bahan baku dari negara lain ketika terjadi gangguan rantai pasok atau perubahan harga. Kami juga mendorong pengembangan bahan baku berbasis sumber daya alam Indonesia," ujar dia.
Selain memperkuat pasokan bahan baku, pemerintah juga mendorong peningkatan aktivitas riset dan uji klinis di dalam negeri guna memperbesar peran Indonesia dalam pengembangan obat global.
"Langkah tersebut diharapkan mengurangi dampak pelemahan rupiah terhadap industri farmasi dan harga obat. Kebijakan BPOM menunjukkan upaya pemerintah tidak hanya mendorong ekspor produk jadi, tetapi juga membangun kemandirian industri farmasi nasional melalui penguatan bahan baku, riset, dan efisiensi regulasi,” kata dia.


















