LDAD 2026 menghadirkan empat sesi diskusi yang membahas hubungan arsitektur dengan konteks sosial, lingkungan, budaya, serta perkembangan teknologi.
Managing Director Asia Snøhetta, Richard Wood menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan karya yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Menurutnya, arsitektur tidak sebatas menghasilkan bangunan, tetapi juga menciptakan ruang bagi kehidupan publik.
Sementara itu, Principal Yolodi+Maria Architects Gregorius Supie menyoroti pentingnya pemahaman terhadap konteks lokal. Menurut dia, bentuk arsitektur seharusnya dapat berkembang dari proses observasi terhadap lingkungan, termasuk kondisi alam, budaya, kebutuhan masyarakat, material, dan iklim.
“Karena itu, proses desain perlu diawali dengan membaca berbagai aspek di suatu lokasi, mulai dari kondisi alam, kebutuhan, budaya masyarakat, pemilihan material, hingga karakter iklim setempat,” ujarnya.
Sementara itu, Principal andramatin studio ,Andra Matin menunjukkan bagaimana tradisi, material lokal, dan prinsip arsitektur tropis dapat diterjemahkan menjadi desain kontemporer. Strategi seperti ventilasi alami, naungan, lanskap, dan ruang sosial dinilai dapat menghasilkan bangunan yang lebih responsif terhadap iklim sekaligus kebutuhan pengguna.
Dari sisi teknologi, Principal ZHA, Patrik Schumacher mengungkapkan potensi metaverse, virtual reality (VR), hingga gaming engines untuk mengubah proses perancangan arsitektur.
Dengan teknologi digital memungkinkan arsitek dan pemangku kepentingan mengeksplorasi serta menyesuaikan desain secara virtual sebelum proyek direalisasikan. Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan kesesuaian desain dengan kebutuhan pengguna sekaligus menekan investasi yang tidak diperlukan.
Dalam LDAD 2026, perusahaan juga mengumumkan pemenang LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026, kompetisi yang digelar LIXIL Water Technology Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Kompetisi tersebut menjadi wadah bagi arsitek profesional dan talenta muda untuk merespons persoalan tata ruang melalui gagasan desain.
Pada kategori profesional, Juara I diraih karya “Pagar Laut: Reclaiming Our Coastline” yang dirancang Ar. Iqbal Nurhidayat (IAI), Fahry Triza Nugraha, dan Imam Darmawan Putra.
Sementara itu, kategori mahasiswa dimenangkan karya “ei peowu: Catalyzing Resilience Across Sabu Raijua” oleh Melvino Anindra Bagaswara, S.Ars., Bayu Putra Setiawan, dan Muhammad Fathur Rahman.
Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia Arfindi Batubara mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan arsitektur membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu.
“Dialog, pemahaman serta kolaborasi merupakan kunci penting dalam membentuk arsitektur yang relevan, solutif, dan berkelanjutan,” kata Arfindi.
Secara global, LIXIL Corporation membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 379,2 miliar yen pada kuartal I tahun fiskal 2027 (April–Juni 2026), naik 4 persen secara tahunan. Pertumbuhan terutama ditopang bisnis internasional, sementara bisnis di Jepang masih tertekan kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, pendapatan bisnis internasional LIXIL naik 17 persen menjadi 142,5 miliar yen, didukung penjualan yang kuat di Eropa dan Timur Tengah. Dalam mata uang lokal, pendapatan bisnis internasional tumbuh 6 persen.
CEO LIXIL, Kinya Seto mengatakan perusahaan berhasil membatasi dampak gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah melalui diversifikasi sumber pengadaan dan optimalisasi rantai pasok.
Menurut dia, bisnis internasional menunjukkan kinerja positif, khususnya di Eropa dan Timur Tengah. Di Jepang, tekanan biaya bahan baku masih akan terasa hingga kuartal II, tetapi profitabilitas diperkirakan membaik pada semester II setelah manfaat optimalisasi harga mulai terasa sejak kuartal III.
Oleh karenanya, perusahaan mempertahankan proyeksi kinerja setahun penuh yang telah ditetapkan sebelumnya.