Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
World Gold Council Soroti Permintaan Emas RI Meningkat saat Ramadan
ilustrasi investasi emas (pexels.com/RDNE Stock project)
  • World Gold Council mencatat permintaan emas di Indonesia meningkat saat Ramadan dan Idul Fitri karena masyarakat mengalokasikan THR untuk investasi jangka panjang.
  • Laporan WGC menunjukkan emas menjadi aset paling populer setelah tabungan, menegaskan perannya sebagai pelindung kekayaan rumah tangga dalam jangka panjang.
  • Selain faktor finansial, budaya dan tren musiman turut mendorong pembelian emas, termasuk peluncuran edisi khusus oleh produsen lokal selama periode hari raya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - World Gold Council (WGC) mencermati bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap emas cenderung meningkat pada bulan Ramadan hingga Idul Fitri.

Head of Asia-Pacific (ex-China) & Global Head of Central Banks di World Gold Council (WGC), Shaokai Fan, menilai bahwa momentum bulan Ramadan dan Idul Fitri menyatakan momentum hari raya keagamaan tersebut mempengaruhi dinamika likuiditas rumah tangga dalam periode yang relatif singkat. Ketika mendapatkan tambahan pendapatan musiman, seperti Tunjangan Hari Raya (THR), sebagian masyarakat mengalokasikan dana tersebut ke aset yang dinilai mampu melindungi nilai jangka panjang, seperti emas.

“Meski keputusan investasi ini hanya terjadi musiman, motivasi di baliknya tetaplah untuk jangka panjang,” ungkap Shaokai dalam keterangannya, Rabu (11/3).

Dalam laporan Analisis Wawasan Konsumen Indonesia, emas menjadi aset yang paling banyak dimiliki setelah tabungan. Banyak investor yang memprioritaskan keamanan dan stabilitas jangka panjang dalam keputusan investasi. Hal ini membuktikan posisi emas sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga stabilitas kekayaan rumah tangga.

Pandangan tersebut sejalan dengan temuan survei yang menunjukkan bahwa investor Indonesia yang kebanyakan menyimpan emas fisik dalam jangka waktu enam tahun. Temuan itu menegaskan peran emas sebagai instrumen perlindungan dan perencanaan jangka panjang, bukan sekadar instrumen perdagangan jangka pendek. 

Selain faktor likuiditas, budaya dan tren musiman juga turut berperan membentuk dinamika pasar. Serupa dengan Indonesia, permintaan emas di Cina juga meningkat menjelang Tahun Baru Imlek, yang lekat dengan tradisi pemberian hadiah serta simolisasi kemakmuran dan keberuntungan.

“Pola musiman ini menegaskan peran emas yang lebih luas dalam portofolio rumah tangga. Di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan tekanan daya beli, emas kerap dipandang sebagai instrumen yang mampu melindungi nilai jangka panjang,” imbuhnya.

Dalam periode hari raya, produsen lokal juga kerap kali meluncurkan produk emas edisi khusus. Inisiatif tersebut menunjukkan pasar emas di Indonesia responsif terhadap konteks budaya. Hal ini dinilai berpotensi memperluas permintaan, karena keputusan pembelian tidak hanya didorong oleh pertimbangan financial, tapi juga nilai simbolis dan emosional.

Editorial Team