Jakarta, FORTUNE – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menerbitkan surat utang abadi (perpetual bond) senilai US$750 juta atau lebih dari Rp13 triliun pada 10 September 2026 guna memperkuat komponen modal inti tambahan (additional tier-1) serta mendukung ekspansi bisnis.
Instrumen tanpa tanggal jatuh tempo ini menawarkan tingkat distribusi awal 7,35 persen per tahun.
Penerbitan surat utang tersebut telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai ketentuan POJK Nomor 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan dana hasil penerbitan ini ditujukan untuk memperkokoh struktur permodalan perseroan.
“Dana hasil penerbitan perpetual bond digunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan perseroan, serta mendukung ekspansi kegiatan usaha perseroan,” kata Adhika dalam keterangan resminya, dikutip Senin (12/10).
Ekonom sekaligus Pengamat Perbankan, Moch Amin Nurdin, menilai instrumen ini memiliki karakteristik penyerapan kerugian (loss-absorbing), sehingga membawa konsekuensi risiko tertentu bagi investor maupun bank penerbit.
“Dari sisi investor, risiko utamanya adalah tidak adanya kepastian pengembalian pokok pada tanggal tertentu, potensi penundaan atau penghentian pembayaran kupon sesuai persyaratan instrumen, serta risiko penurunan nilai apabila kondisi keuangan bank memburuk,” kata Amin saat dihubungi Fortune Indonesia, Senin (12/10).
Mantan Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) tersebut menambahkan, investor perlu memahami mekanisme penyerapan kerugian yang dapat memengaruhi nilai pokok investasinya. Selain itu, penerbitan dalam mata uang dolar AS juga memaparkan investor pada risiko perubahan suku bunga global, nilai tukar, dan likuiditas di pasar sekunder.
Bagi bank, penerbitan instrumen ini berdampak pada biaya modal relatif tinggi.
“Tingkat distribusi awal 7,35 persen harus diimbangi dengan kemampuan bank menghasilkan pendapatan dan mengelola aset secara produktif. Bank juga perlu mengantisipasi risiko currency mismatch apabila kewajiban dalam dolar AS tidak diimbangi dengan aset atau pendapatan dalam mata uang yang sama,” kata Amin.
Penerbitan perpetual bond ini dilakukan di tengah kinerja keuangan perseroan yang solid. Bank berkode saham BMRI tersebut mencatatkan kenaikan laba bersih 22,3 persen secara tahunan menjadi Rp37,5 triliun hingga Agustus 2026, disokong pertumbuhan kredit 17,6 persen yang melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Total aset Bank Mandiri menyentuh Rp2.358 triliun atau naik 20,7 persen (YoY) pada akhir Agustus 2026.
