Jakarta, FORTUNE –– PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meraup laba bersih secara konsolidasian Rp29,5 triliun atau setara kenaikan 1,8 persen (YoY) pada semester I-2026. Perolehan ini disokong oleh penyaluran kredit yang tumbuh 8 persen (YoY) menjadi Rp1.036 triliun.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan kredit BCA telah disalurkan kepada sektor produktif di berbagai segmen ekonomi. Kondisi ini juga sejalan dengan pendapatan non-bunga BCA yang mencapai Rp13,2 triliun atau tumbuh 11 persen (YoY).
“Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” kata Hendra dalam acara konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/9).
Kredit produktif BCA, menurut Hendra, telah tersalur Rp802 triliun, meningkat 11 persen (YoY). Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6 persen (YoY) menjadi Rp513,4 triliun, serta kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6 persen (YoY) menjadi Rp288,5 triliun.
Kendati demikian, bank dengan kode saham BBCA ini masih mampu menjaga Rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) masing-masing 4,9 persen dan 1,9 persen.
Himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 7,9 persen (YoY) mencapai Rp1.284 triliun.
Ia menyatakan, porsi CASA BCA kini mencapai sekitar 84,3 persen dari total DPK, dan Cost of Fund (CoF) konsisten terjaga.
Berbagai inovasi dan pengembangan digital juga terus berlangsung. Salah satunya, nasabah dapat membuka rekening efek dan Rekening Dana Nasabah BCA Sekuritas via myBCA.
Selain itu, nasabah dapat mengajukan kartu kredit baru atau tambahan melalui myBCA.
Hendra pun optimistis kinerja perseroan akan kian kuat dan berkelanjutan.
