Jakarta, FORTUNE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperkuat ekspansi bisnis anorganiknya melalui akuisisi portofolio rekening kredit pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk. Melalui aksi korporasi ini, emiten berkode saham BBTN tersebut mengambil alih sekitar 344.000 nasabah baru setelah menyelesaikan persetujuan akuisisi tahap pertama dengan nilai transaksi Rp12,6 triliun.
Langkah bank pelat merah ini tidak berhenti di situ. Manajemen BBTN menjadwalkan kelanjutan akuisisi kredit pensiun tahap kedua pada kuartal III-2026 dengan nilai target transaksi yang diproyeksikan mencapai Rp7,34 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, memaparkan langkah ini diambil demi memperkokoh komposisi portofolio kredit non-perumahannya. Aksi ini sekaligus diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru yang menjanjikan profil imbal hasil (yield) lebih tinggi dengan tingkat risiko tetap terkendali.
Nixon mengonfirmasi seluruh portofolio yang diakuisisi memiliki status kredit sehat (performing loan). Karakteristik aset yang berkualitas ini diharapkan mampu mempercepat perbaikan kualitas aset keseluruhan serta memberikan kontribusi instan pada profitabilitas perusahaan.
"Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang," kata Nixon dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/7).
Melalui skema pertumbuhan anorganik ini, BBTN memasang target jangka panjang menggeser porsi penyaluran kreditnya. Perusahaan membidik kontribusi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga menyentuh kisaran 30 persen dari total portofolio dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Diversifikasi tersebut dipercaya akan membentuk struktur bisnis bank yang jauh lebih seimbang, resilien, serta tangguh dalam mencetak pertumbuhan berkelanjutan.
Agresivitas BTN dalam meluncurkan strategi beyond mortgage ini didukung oleh perolehan kinerja intermediasi yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini.
Pada enam bulan pertama 2026, total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp418,11 triliun, atau tumbuh 11,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sektor pembiayaan perumahan naik 4,8 persen (YoY) menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi masih motor utama penggerak kredit properti dengan lonjakan 8,1 persen (YoY) ke posisi Rp196,96 triliun per Juni 2026.
Meskipun laju penyaluran kredit mengalir deras, perseroan membuktikan keandalan manajemen risikonya dengan menekan rasio kredit macet. Rasio Non-Performing Loan (NPL) ditekan dari posisi 3,3 persen pada semester I-2025 menjadi 2,99 persen pada semester I-2026.
