Di Tengah Likuiditas Ketat, Bank Dinilai Perlu Genjot Fee Based Income

- Perbankan didorong memperkuat fee based income di tengah perang suku bunga, likuiditas ketat, dan tekanan margin akibat kenaikan biaya dana.
- Pendapatan berbasis biaya dapat berasal dari transaksi digital, transfer, safe deposit box, komisi, provisi, perdagangan, hingga pengelolaan kekayaan.
- Kinerja kredit semester pertama 2026 dinilai positif, tetapi diperkirakan melambat pada semester kedua; bank perlu selektif menyalurkan kredit sambil menjaga likuiditas dan kualitas aset.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah perang suku bunga dan tantangan likuiditas yang sekain ketat, perbankan dinilai perlu memperkuat fee based income (FBI) atau pendapatan berbasis biaya sebagai pemasukan ketimbang bertahan pada strategi perang suku bunga.
Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra mengatakan dalam kondisi suku bunga tinggi untuk jangka waktu panjang, bank-bank akan beradaptasi dan bersiap menghadapi tekanan pada margin. Kemudian, persaingan dalam memperoleh dana murah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyesuaian biaya dana perbankan.
"Kekhawatiran ini mulai terlihat pada kuartal kedua 2026, saat mereka mungkin mulai mengurangi eksposur di segmen tertentu dan biaya dana mulai melonjak," ujar William dalam pertemuan media, Rabu (29/7).
Di sisi lain, bank tetap perlu menjaga tingkat harga tertentu untuk mempertahankan stabilitas margin. Oleh karenannya, salah satu strategi yang bisa diadopsi perbankan agar mampu bertahan menghadapi tekanan margin adalah memperkuat pendapatan berbasis biaya agar mampu menghadapi tekanan margin.
Adapun, FBI ini bersumber dari biaya administrasi atas transaksi meliputi biaya transfer, transaksi digital, serta layanan safe deposit box, serta komisi, dan provisi.
"Mereka dapat memperluas bisnis perdagangan, pengelolaan kekayaan (wealth management), dan jenis bisnis berbasis biaya lainnya untuk mengimbangi tekanan margin di masa mendatang. Jadi, ini merupakan semacam transformasi dalam menyusun strategi perbankan," ujar William.
Terkait kinerja kredit, William menilai kinerja bank-bank pada semester pertama tahun 2026 terbilang baik, namun untuk semester II 2026 diperkirakan trennya akan melambat.
Ia juga menyoroti dalam kondisi likuiditas yang ketat dan suku bunga tinggi, perbankan juga perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan pertumbuhan kredit.
Berikutnya, menjaga kualitas aset. Menurut William kondisi ekonomi saat ini makin menantang dan mengubah profil kredit nasabah, baik korporasi maupun perorangan.
"Mereka harus menyeimbangkan antara kualitas aset dan kinerja margin, serta mempertimbangkan situasi secara menyeluruh," pungkasnya.


















