Efisiensi Bawa Bank Neo Commerce Bukukan Laba Rp565,69 Miliar

Laba bersih melonjak 2.745 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Efisiensi operasional meningkat dengan rasio BOPO turun ke 84,18 persen dan NIM mencapai 14,39 persen.
Aset tumbuh 8,99 persen menjadi Rp18,97 triliun dengan DPK naik 7,37 persen.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih Rp565,69 miliar pada akhir 2025. Nilai itu melonjak 2.745 persen dibandingkan dengan capaian Rp19,88 miliar pada 2024.
Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menyatakan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi efisiensi serta transformasi bisnis yang dijalankan secara konsisten.
“Kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki," ujar Eri melalui keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Rabu (1/4).
Dari sisi efisiensi, rasio belanja operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank membaik signifikan menjadi 84,18 persen pada 2025, dibandingkan 99,34 persen pada tahun sebelumnya. Cost to income ratio (CIR) juga stabil pada 31,33 persen, sementara net interest margin (NIM) mencapai 14,39 persen.
Kinerja profitabilitas juga tecermin pada return on assets (ROA) yang meningkat menjadi 3,11 persen dari 0,10 persen, serta return on equity (ROE) yang meningkat menjadi 15,13 persen dari 0,59 persen pada tahun sebelumnya.
Aset dari bank digital ini juga mampu tumbuh 8,99 persen (YoY) menjadi Rp18,97 triliun pada akhir 2025. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp14,03 triliun, naik 7,37 persen (YoY). Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan dana tabungan yang mencapai Rp3,50 triliun, naik dari Rp3,09 triliun pada Desember 2024.
Kemudian, produk deposito juga tetap terjaga pada level Rp9,86 triliun, mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah terhadap layanan digital BNC.
Bank tersebut juga terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Hingga akhir 2025, NPL Net menunjukkan level 0,89 persen. Kondisi likuiditas juga diklaim kuat seperti terefleksi pada loan to deposit ratio (LDR) pada level 51,21 persen dan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 614,93 persen menjadi basis untuk untuk ekspansi pertumbuhan kredit ke depannya.
Memasuki 2026, BNC akan terus berkonsentrasi pada pertumbuhan kredit yang berkualitas serta mengoptimalkan potensi bisnis melalui penguatan produk dan layanan perbankan digital guna meningkatkan potensi fee-based income.
“Salah satu inisiatif strategis yang tengah kami siapkan adalah peluncuran layanan buy now pay later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026,” kata Eri.


















