10 Mata Uang Terlemah di Dunia 2026, Rupiah Nomor Berapa?

Rupiah menempati posisi keenam mata uang terlemah di dunia 2026 dengan kurs Rp17.675 per dolar AS.
Peringkat rupiah di bawah rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, leone Sierra Leone, dan kip Laos.
Tekanan terhadap rupiah diperparah faktor domestik seperti impor lebih tinggi dari ekspor serta persepsi pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi.
Jakarta, FORTUNE — Nilai tukar rupiah makin menarik perhatian publik, apalagi setelah masuk daftar mata uang terlemah di dunia 2026. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di posisi keenam mata uang dengan nominal terbesar terhadap 1 dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh 1 dolar AS dibandingkan mata uang negara lain.
Meski demikian, angka kurs tidak otomatis mencerminkan ekonomi suatu negara berada dalam kondisi terburuk karena bisa dipengaruhi berbagai faktor seperti inflasi, kebijakan moneter, hingga sejarah redenominasi.
Table of Content
Daftar mata uang terlemah di dunia 2026
Rial Iran menjadi mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar AS. Untuk memperoleh 1 dolar AS, dibutuhkan sekitar 1.317.999 rial Iran.
Posisi berikutnya ditempati pound Lebanon sebesar 90.204 per dolar AS, disusul dong Vietnam 26.356 per dolar AS, leone Sierra Leone 22.905 per dolar AS, dan kip Laos 21.815 per dolar AS.
Sementara itu, rupiah berada di posisi keenam dengan kurs Rp17.675 per dolar AS. Posisi ini terjadi di tengah kuatnya dolar AS secara global serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang atau emerging markets.
Berikut daftar lengkap kurs terbaru berdasarkan data xe.com per Senin (18/5) pukul 17.05 WIB:
Daftar mata uang dengan nilai tukar terlemah pada 2026
Mata Uang | Nilai Tukar per 1 Dolar AS |
|---|---|
Rial Iran | 1.317.999 |
Pound Lebanon | 90.204 |
Dong Vietnam | 26.356 |
Leone Sierra Leone | 22.905 |
Kip Laos | 21.815 |
Rupiah Indonesia | 17.675 |
Som Uzbekistan | 11.985 |
Franc Guinea | 8.771 |
Guarani Paraguay | 6.094 |
Ariary Madagaskar | 4.198 |
Dolar AS menguat, rupiah ikut tertekan
Tekanan terhadap rupiah bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS atau DXY. Data perdagangan menunjukkan dolar AS menguat setelah pasar memperkirakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.
Mengacu CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 meningkat menjadi 48,4 persen. Di saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,581 persen, level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Kondisi geopolitik global juga turut memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven. Konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global mendorong investor memindahkan dana ke instrumen berbasis dolar.
“Memang dolar itu lagi kuat-kuatnya. Kenapa dolar lagi kuat-kuatnya? Karena dunia lagi enggak baik-baik saja dan orang butuh safe heaven,” ujar kreator konten keuangan Ferry Irwandi melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Senin (18/5).
Analis senior mata uang MUFG Bank, Michael Wan, mengatakan tekanan juga dirasakan sejumlah mata uang Asia lain, terutama negara pengimpor minyak.
“Pelemahan ini terutama terjadi pada negara pengimpor minyak seperti rupee India (INR) dan peso Filipina (PHP), yang kini menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS,” ujarnya, dikutip IDX Channel.
Faktor domestik ikut memperberat rupiah
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik. Ferry menilai pertumbuhan impor Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan ekspor memperbesar kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
Data BPS menunjukkan impor Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS atau naik 10,05 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor hanya tumbuh 0,34 persen menjadi 66,85 miliar dolar AS.
“Pertumbuhan ekspor kita melambat, beban subsidi semakin besar, belanja pemerintah semakin besar, sementara pendapatan negara kita enggak ngejar,” kata Ferry.
Ia juga menyoroti meningkatnya belanja pemerintah pusat dan subsidi energi yang memperbesar tekanan fiskal ketika rupiah melemah. Berdasarkan dokumen APBN Kita, total belanja pemerintah pusat mencapai Rp610 triliun pada kuartal I-2026.
Menurut Ferry, pelemahan rupiah tidak dapat dilihat hanya dari sisi kebijakan moneter Bank Indonesia. Ia menilai stabilitas kurs dipengaruhi kombinasi kebijakan fiskal, moneter, serta kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Ekonomi itu kausalitas dan enggak ada sejarahnya kalau kita ngomongin kurs itu semata-mata urusan kebijakan moneter doang,” ujarnya.
Persepsi pasar terhadap kebijakan pemerintah
Faktor lain yang dinilai memengaruhi nilai tukar rupiah adalah persepsi pasar terhadap komunikasi dan konsistensi kebijakan pemerintah. Pelaku pasar cenderung sensitif terhadap pernyataan pejabat publik karena dianggap mencerminkan arah kebijakan ekonomi ke depan.
“Di ekonomi modern, kata-kata pejabat tinggi itu sudah jadi instrumen kebijakan tersendiri,” ujar Yusuf, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet,
Di sisi lain, rupiah dinilai berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek apabila sentimen global belum mereda, teruatam di tengah ketidakpastian eksternal yang masih tinggi.
FAQ seputar mata uang terlemah di dunia 2026
| Apa mata uang terlemah di dunia saat ini? | Rial Iran menjadi mata uang terlemah dengan kurs sekitar 1.317.999 rial per 1 dolar AS. |
| Mata uang Indonesia terendah ke berapa? | Rupiah berada di posisi keenam dalam daftar mata uang dengan nominal terbesar terhadap dolar AS. |
| Kenapa dolar AS menguat terhadap rupiah? | Penguatan dolar dipicu suku bunga tinggi The Fed, konflik geopolitik, dan arus modal ke aset safe haven. |
| Apa faktor domestik yang menekan rupiah? | Kenaikan impor, subsidi energi, dan tekanan fiskal dinilai memperberat pelemahan rupiah. |


















