Jakarta, FORTUNE - Perjalanan membangun kekayaan tidak selalu dimulai dari strategi diversifikasi, tetapi juga bisa dari keyakinan terhadap aset yang dipilih. Bagi Founder & CEO TRIV Group Gabriel Rey, keyakinan itu ia pusatkan pada Bitcoin. Pada 2014, ketika harga Bitcoin masih berada di kisaran Rp3 juta, Gabriel memutuskan untuk all-in pada aset tersebut. Keputusan itu berangkat dari ketertarikannya terhadap teknologi blockchain.
Pandangan tersebut disampaikan Gabriel dalam sesi “The Pursuit of Wealth” di Fortune Investment Forum (FIF) yang berlangsung pada Sabtu (29/8) di Four Seasons Hotel Jakarta. Dalam sesi yang dimoderatori COO IDN William Utomo, Gabriel membagikan perjalanan investasinya, mulai dari mengenal Bitcoin hingga membangun TRIV sebagai bagian dari ekosistem kripto di Indonesia.
“Saya melihat blockchain sebagai sesuatu yang unik, sesuatu yang belum pernah diciptakan sebelumnya. Saya punya gut feeling, it's gonna be something big,” ujar Gabriel.
Dengan latar belakang teknologi sebagai backend programmer, Gabriel melihat Bitcoin tidak hanya dari pergerakan harganya, tetapi juga dari teknologi blockchain yang mendasarinya. Keyakinan tersebut kemudian mendorongnya mengalokasikan sekitar 95 persen kekayaannya ke Bitcoin pada periode awal tersebut.
Namun, perjalanan investasi itu juga mempertemukannya dengan persoalan yang lebih besar: keterbatasan infrastruktur perdagangan aset kripto di Indonesia. Ketika ingin mengambil keuntungan dari investasinya pada 2015, belum banyak pilihan bagi investor untuk memperjualbelikan Bitcoin dalam jumlah besar. Dari kebutuhan tersebut, TRIV kemudian lahir dan berkembang dari proyek yang awalnya disebut Gabriel sebagai hobi menjadi bisnis yang membangun ekosistem kripto lebih luas.
Lebih dari satu dekade kemudian, cara Gabriel memandang kekayaan telah berkembang. Ia tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana mendapatkan keuntungan dari sebuah aset, tetapi juga bagaimana membangun bisnis dan ekosistem yang menciptakan nilai lebih luas hingga menjadi legacy.
Menurutnya, diversifikasi tetap penting, tetapi waktunya perlu disesuaikan dengan tahap finansial seseorang. Saat masih membangun kekayaan, ia menilai investor perlu memiliki keyakinan dan pemahaman yang kuat terhadap aset pilihannya. Setelah kekayaan terbentuk, barulah diversifikasi dapat digunakan untuk mengelola dan mempertahankan aset tersebut.
Meski memiliki pandangan yang sangat kuat terhadap Bitcoin, Gabriel juga menekankan bahwa investasi bukanlah jalan instan menuju kekayaan. Ia mengingatkan investor untuk tidak masuk ke pasar dengan ekspektasi bisa cepat kaya.
“Investing is learning. Kalau kita belajar investing, kita harus sabar dengan waktu dan terus belajar,” katanya.
