Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat kenaikan signifikan atas klaim, sementara pendapatan premi hanya tumbuh moderat.
AAJI mencatat, per kuartal pertama 2026, premi asuransi umum mencapai Rp31,12 triliun atau tumbuh 1,9 persen. Berdasarkan segmennya, properti masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa pasar 26,7 persen, diikuti premi kendaraan bermotor sebesar 17,3 persen, asuransi kesehatan sebesar 14,9 persen, dan asuransi kredit sebesar 13,2 persen.
Di sisi lain, sejumlah lini usaha masih menghadapi tantangan. Premi segmen engineering menurun 44,4 premi, diikuti personal accident turun 31,3 persen, aviation turun 15,2 persen, marine cargo turun 12,6 persen, dan liability turun 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi klaim, total klaim yang dibayarkan industri asuransi umum meningkat 17,7 persen menjadi Rp12,92 triliun. Kenaikan klaim terutama terjadi pada lini energy on shore yang meningkat 198,4 persen, engineering sebesar 133,9 persen, energy off shore sebesar 53,4 persen, properti 34,7 persen, serta asuransi kredit sebesar 17 persen.
Berdasarkan porsinya, kredit asuransi menyumbang porsi terbesar dengan 2,6 persen dari total klaim industri, diikuti properti sebesar 20,4 persen, kendaraan bermotor sebesar 14,1 persen, dan asuransi kesehatan sebesar 12,9 persen.
Meski demikian, beberapa lini usaha mencatatkan perbaikan melalui penurunan klaim, antara lain personal accident yang turun 53,9 persen, surety ship turun 18,5 persen. Dengan kinerja tersebut, industri asuransi menghasilkan hasil underwriting mencapai Rp6,93 triliun atau meningkat 12,1 persen.
Budi Herawan, Ketua Umum AAUI mengatakan meskipun indikator ekonomi nasional menunjukan pertumbuhan 5,61 persen berdasarkan data BPS, namun bahwa ada beberapa hal yang menghambat kinerja pendapatan premi secara nasional.
"Dua hal yang memang menjadi perhatian yaitu kondisi geopolitik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kedua tentunya kondisi ekonomi mikro dan makro. Ini yang memang menghambat pertumbuhan kita di premi maupun di profitabilitas di tiga bukan pertama 2026," katanya dalam konfrensi pers di Jakarta, Rabu (17/6).
Kinerja tersebut turut mendorong pertumbuhan laba setelah pajak sebesar 18,8 persen menjadi Rp3,72 triliun. Sementara total aset industri asuransi umum mencapai Rp270,34 triliun atau meningkat 6,4 persen dibandingkan triwulan I 2025.
Total investasi tumbuh 8,1 persen menjadi Rp133,33 triliun, sementara total ekuitas meningkat 12,0 persen menjadi Rp85,89 triliun. Struktur investasi industri asuransi umum masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp48,26 triliun atau 36,2 persen dari total investasi.
Kedepan, AAUI meminta industri memperkuat kapasitas permodalan, kualitas underwriting, serta pengelolaan risiko agar mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang dan meningkatkan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
