Jakarta, FORTUNE - Citi Indonesia mencatat kinerja positif pada semester pertama 2026. Bank ini membukukan laba bersih Rp994 miliar, sementara kredit tumbuh 8,05 persen secara tahunan menjadi Rp29,9 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) Citi pun melonjak 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun, ditopang pertumbuhan giro 36,54 persen menjadi Rp60,4 triliun.
Pertumbuhan tersebut menjadi modal Citi Indonesia memasuki paruh kedua tahun ini. Chief Executive Officer Citi Indonesia, Batara Sianturi optimistis kondisi pasar yang lebih kondusif dapat menopang laju kredit industri perbankan.
“Kita mengharapkan bahwa banking sector kami akan bisa mencetak double digit growth untuk tahun ini. Dan juga didukung dengan portfolio produk dan kualitas kredit yang baik juga,” ujar Batara, Kamis (20/8/2026).
Optimisme itu juga ditopang ekspektasi terhadap suku bunga. Batara memperkirakan ruang penurunan suku bunga masih terbuka pada sisa tahun ini.
“Kami melihat SBI satu tahun ini berpotensi akan turun antara 25 sampai 75 bips for the rest of the year. Hal ini akan mendorong situasi yang kondusif bagi tingkat Suku Bunga Dasar Kredit,” katanya.
Optimisme Citi Indonesia tersebut sejalan dengan arah pertumbuhan yang ditegaskan Citigroup dalam Investor Day 2026. Di level grup, Citi menargetkan imbal hasil atas ekuitas berwujud atau Return on Tangible Common Equity (RoTCE) yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.
Citi menargetkan RoTCE sebesar 10-11 persen pada 2026. Target tersebut kemudian meningkat menjadi 11-13 persen pada 2027 dan 2028 untuk jangka pendek, sebelum mencapai 14-15 persen pada jangka menengah 2029-2031.
Target tersebut menunjukkan bahwa strategi Citi tidak hanya mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi juga memastikan pertumbuhan dari imbal hasil yang semakin baik dan berkelanjutan. Ada tiga faktor yang menjadi penopang arah tersebut, yakni pertumbuhan pendapatan global melalui aktivitas klien, peningkatan efisiensi, serta alokasi modal yang lebih produktif.
Kinerja awal 2026 juga memberikan pijakan bagi target tersebut. Pada triwulan I 2026, Citi secara global membukukan pendapatan US$24 miliar, tumbuh 14 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih mencapai US$5,8 miliar, melonjak 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Strategi di level global tersebut menjadi konteks penting bagi pertumbuhan Citi Indonesia. Dengan karakter bisnis yang berfokus pada nasabah korporasi, institusi, dan perusahaan multinasional, pertumbuhan aktivitas klien menjadi salah satu faktor penting bagi pengembangan bisnis Citi di Indonesia.
Bagi Citi Indonesia, prospek bisnis juga sangat bergantung pada membaiknya iklim investasi. Peluang dinilai datang dari investasi perusahaan multinasional maupun pelaku usaha lokal di pertambangan, pusat data, telekomunikasi, dan barang konsumsi. Batara menekankan pentingnya iklim investasi yang baik agar pertumbuhan bisnis dapat berlanjut.
Dari sisi kredit, kualitas portofolio tetap menjadi prioritas. Per Juni 2026, rasio Non-Performing Loan (NPL) Citi Indonesia terjaga di 0,19 persen. Bank ini juga memiliki pipeline kredit sekitar Rp5 triliun untuk sisa tahun ini yang tersebar di berbagai sektor dan lini bisnis.
Di sisi pendanaan, pertumbuhan DPK Citi Indonesia sebesar 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun tidak hanya mencerminkan peningkatan volume dana. Hal ini terlihat dari rasio low-cost-fund yang meningkat menjadi 83,23 persen dari 75,16 persen pada periode yang sama tahun lalu. Dengan porsi dana murah yang semakin besar, Citi memiliki basis pendanaan yang lebih kuat untuk menopang ekspansi bisnis dan menjaga kualitas pertumbuhan kredit.
