Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kredit Menguat, Citi Indonesia Andalkan Investasi dan AI Pacu Bisnis
Jajaran Direksi Citi Indonesia (Dok. Citi Indonesia)
  • Citi Indonesia membukukan laba bersih Rp994 miliar pada semester pertama 2026, dengan kredit tumbuh 8,05 persen menjadi Rp29,9 triliun dan DPK naik 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun.
  • Bank menyiapkan pipeline kredit sekitar Rp5 triliun, menjaga NPL 0,19 persen, serta mengandalkan perbaikan iklim investasi dan potensi penurunan suku bunga untuk mendorong ekspansi.
  • Citi Indonesia meluncurkan Citi AI untuk mempercepat analisis dan produktivitas karyawan, namun menegaskan keputusan terkait risiko maupun nasabah tetap harus melalui pengawasan manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Citi Indonesia mencatat laba bersih Rp994 miliar pada semester I 2026, dengan kredit tumbuh 8,05 persen menjadi Rp29,9 triliun dan DPK naik 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun. Bank juga memperluas pemanfaatan Citi AI.
  • Who?
    Citi Indonesia, Chief Executive Officer Citi Indonesia Batara Sianturi, serta karyawan Citi Indonesia yang mengikuti penggunaan dan sosialisasi Citi AI terlibat dalam perkembangan ini.
  • Where?
    Kegiatan bisnis dan penerapan Citi AI berlangsung di Citi Indonesia, Jakarta, sementara kapabilitas Citi AI juga tersedia di hampir seluruh negara dan yurisdiksi operasi Citi.
  • When?
    Kinerja keuangan tercatat hingga Juni atau semester I 2026. Batara menyampaikan prospek tersebut pada 20 Agustus 2026, sedangkan Citi AI Day Indonesia 2026 digelar pada 11 Agustus 2026.
  • Why?
    Citi Indonesia mengandalkan perbaikan iklim investasi, pertumbuhan aktivitas klien, kualitas kredit, pendanaan murah, serta AI untuk menopang ekspansi bisnis dan meningkatkan produktivitas karyawan.
  • How?
    Bank menyiapkan pipeline kredit sekitar Rp5 triliun, menjaga NPL di 0,19 persen, dan menggunakan Citi Stylus Workspaces, Citi Assist, serta Microsoft 365 Copilot Chat dengan keputusan risiko dan nasabah tetap ditinjau manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Citi Indonesia mencatat kinerja positif pada semester pertama 2026. Bank ini membukukan laba bersih Rp994 miliar, sementara kredit tumbuh 8,05 persen secara tahunan menjadi Rp29,9 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) Citi pun melonjak 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun, ditopang pertumbuhan giro 36,54 persen menjadi Rp60,4 triliun.

Pertumbuhan tersebut menjadi modal Citi Indonesia memasuki paruh kedua tahun ini. Chief Executive Officer Citi Indonesia, Batara Sianturi optimistis kondisi pasar yang lebih kondusif dapat menopang laju kredit industri perbankan.

“Kita mengharapkan bahwa banking sector kami akan bisa mencetak double digit growth untuk tahun ini. Dan juga didukung dengan portfolio produk dan kualitas kredit yang baik juga,” ujar Batara, Kamis (20/8/2026).

Optimisme itu juga ditopang ekspektasi terhadap suku bunga. Batara memperkirakan ruang penurunan suku bunga masih terbuka pada sisa tahun ini.

“Kami melihat SBI satu tahun ini berpotensi akan turun antara 25 sampai 75 bips for the rest of the year. Hal ini akan mendorong situasi yang kondusif bagi tingkat Suku Bunga Dasar Kredit,” katanya.

Optimisme Citi Indonesia tersebut sejalan dengan arah pertumbuhan yang ditegaskan Citigroup dalam Investor Day 2026. Di level grup, Citi menargetkan imbal hasil atas ekuitas berwujud atau Return on Tangible Common Equity (RoTCE) yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.

Citi menargetkan RoTCE sebesar 10-11 persen pada 2026. Target tersebut kemudian meningkat menjadi 11-13 persen pada 2027 dan 2028 untuk jangka pendek, sebelum mencapai 14-15 persen pada jangka menengah 2029-2031.

Target tersebut menunjukkan bahwa strategi Citi tidak hanya mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi juga memastikan pertumbuhan dari imbal hasil yang semakin baik dan berkelanjutan. Ada tiga faktor yang menjadi penopang arah tersebut, yakni pertumbuhan pendapatan global melalui aktivitas klien, peningkatan efisiensi, serta alokasi modal yang lebih produktif.

Kinerja awal 2026 juga memberikan pijakan bagi target tersebut. Pada triwulan I 2026, Citi secara global membukukan pendapatan US$24 miliar, tumbuh 14 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih mencapai US$5,8 miliar, melonjak 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Strategi di level global tersebut menjadi konteks penting bagi pertumbuhan Citi Indonesia. Dengan karakter bisnis yang berfokus pada nasabah korporasi, institusi, dan perusahaan multinasional, pertumbuhan aktivitas klien menjadi salah satu faktor penting bagi pengembangan bisnis Citi di Indonesia.

Bagi Citi Indonesia, prospek bisnis juga sangat bergantung pada membaiknya iklim investasi. Peluang dinilai datang dari investasi perusahaan multinasional maupun pelaku usaha lokal di pertambangan, pusat data, telekomunikasi, dan barang konsumsi. Batara menekankan pentingnya iklim investasi yang baik agar pertumbuhan bisnis dapat berlanjut.

Dari sisi kredit, kualitas portofolio tetap menjadi prioritas. Per Juni 2026, rasio Non-Performing Loan (NPL) Citi Indonesia terjaga di 0,19 persen. Bank ini juga memiliki pipeline kredit sekitar Rp5 triliun untuk sisa tahun ini yang tersebar di berbagai sektor dan lini bisnis.

Di sisi pendanaan, pertumbuhan DPK Citi Indonesia sebesar 23,29 persen menjadi Rp72,6 triliun tidak hanya mencerminkan peningkatan volume dana. Hal ini terlihat dari rasio low-cost-fund yang meningkat menjadi 83,23 persen dari 75,16 persen pada periode yang sama tahun lalu. Dengan porsi dana murah yang semakin besar, Citi memiliki basis pendanaan yang lebih kuat untuk menopang ekspansi bisnis dan menjaga kualitas pertumbuhan kredit.

Citi AI dorong produktivitas

Chief Executive Officer Citi Indonesia, Batara Sianturi (Dok. Citi Indonesia)

Di tengah strategi pertumbuhan tersebut, Citi Indonesia meluncurkan Citi AI untuk meningkatkan produktivitas. Sejumlah tools, termasuk Citi Stylus Workspaces, Citi Assist, dan Microsoft 365 Copilot Chat dirancang untuk menyederhanakan pekerjaan dan mempercepat akses terhadap informasi.

Langkah tersebut merupakan bagian dari ekspansi Citi AI yang telah tersedia di hampir seluruh negara dan yurisdiksi serta dapat digunakan sekitar 180.000 karyawan Citi secara global. Citi pun berencana terus mengembangkan dan memperdalam adopsi AI di dalam ekosistemnya.

Bagi Citi Indonesia, pemanfaatan AI bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan mengubah cara karyawan bekerja agar dapat merespons kebutuhan klien dengan lebih cepat dan presisi. Teknologi tersebut diharapkan membantu karyawan mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang memberikan nilai tambah bagi klien dan bisnis.

Implementasi itu juga mulai diperkuat melalui program sosialisasi Citi AI Day Indonesia 2026 yang digelar pada 11 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, karyawan dari berbagai fungsi melihat langsung sejumlah penggunaan Citi AI dalam pekerjaan sehari-hari melalui sharing dari para Citi AI Accelerators dan Ambassadors, dalam berbagai contoh use case.

Pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut cukup jelas: AI bukan untuk menggantikan keahlian karyawan, melainkan membantu mereka menggunakan teknologi pada pekerjaan yang paling membutuhkan dukungan AI sehingga dapat menghasilkan nilai tambah bagi klien, bisnis, maupun sesama karyawan.

Menurut Batara, AI kini sudah menjadi bagian dari bisnis dengan manfaatnya yang mulai terlihat dari pekerjaan sehari-hari. Contohnya, analisis yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari dapat dipersingkat secara signifikan. 

Sejak diperkenalkan tiga bulan lalu, tingkat awareness akan Citi AI di Citi Indonesia terus meningkat signifikan, dan penggunaannya terus dipacu agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Namun, Batara menegaskan AI tidak boleh berjalan autopilot, terutama dalam keputusan yang berkaitan dengan risiko dan nasabah.

“AI itu kan gak bisa dilepas autopilot. Apalagi sekarang ada era of agentic AI. Artinya we outsource to an agent di AI. Whatever they do, whatever they recommend, ujung-ujungnya mesti ke human juga. Jangan sampai itu tidak dicek oleh manusia,” tutur Batara.

Bagi Citi Indonesia, AI bukan pengganti pengambil keputusan, melainkan alat untuk memperkuat kemampuan manusia. “The human adjustment should be there. Jadi, AI itu cuma bisa facilitate, ya kan? But the final call should be the human,” jelas Batara.

Dengan kredit dan DPK yang tumbuh solid, kualitas aset yang terjaga, serta pemanfaatan kapabilitas AI untuk meningkatkan produktivitas, Citi Indonesia memasuki paruh kedua 2026 dengan fokus pada pertumbuhan yang tetap disiplin. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article